HTI-Press.
Rupiah terus anjlkok hingga menembus 12 ribu rupiah per dollar. Bahkan
Bank Indonesia selaku otoritas moneter yang bertanggungjawab menjaga
kestabilan rupiah mengaku kesulitan menjaga nilai tukar rupiah.
Intervensi pasar yang dilakukan lembaga tersebut tidak membantu
memperkuat nilainya. Berdasarkan data BI cadangan devisa BI per 31
Oktober telah merosot US$ 6,528 miliar atau Rp 71 triliun (dengan kurs
11 ribu) dibandingkan cadangan devisa per akhir September sebesar US$
57,108 miliar.[1]
Peraturan Bank Indonesia Nomor: 10/ 28 /PBI/2008 yang membatasi
transaksi pembelian dollar untuk tujuan spekulasi yang dikeluarkan
beberapa waktu lalu tak banyak menolong.
Indonesia tidak sendirian ditimpa fluktuasi nilai tukar akibat pergerakan capital yang liar pasca meledaknya krisis finasial AS. Seluruh mata uang negara-negara emerging market seperti
krona Islandia, rand Afrika hingga won Korsel mengalami hal serupa. Di
sejumlah negara bahkan penurunannya telah mencapai 80 persen sejak awal tahun. [2]
Fluktuasi nilai rupiah terhadap dollar yang sangat tajam ini tak pelak menjadikan pelaku ekonomi
yang berhubungan dengan ekspor impor menjadi tidak menentu. Bagi
perusahaan termasuk pemerintah yang memiliki utang ke pihak asing
dengan kurs mengambang maka nilai utangnya semakin tinggi. Demikian
pula impor bahan baku produksi, barang modal dan konsumsi semakin
tinggi. Sejumlah industri yang masih bergantung pada bahan impor
terseok-seok. Bahkan di sejumlah daerah sejumlah industri sudah tutup.
Ketidakpastian
juga dialami oleh eksportir. Meski menanggguk untung di tengah
melemahnya rupiah dimana nilai ekpor mereka naik, namun dalam jangka
panjang fluktuasi nilai tukar rupiah tetap saja tidak sehat bagi
perkembangan usaha mereka. Ekspektasi bisnis sulit dipredisi dengan
tepat. Ketika
pendapatan mereka naik tajam akibat pelemahan rupiah maka mereka akan
terdorong meningkatkan investasi untuk meningkatkan skala produksi
dengan harapan keuntungan akan semakin berlipat. Namun ketika nilai
tukar rupiah kembali menguat investasi mereka malah menghasilkan
kerugian.
Akhir Bretton Woods
Persoalan ekonomi akibat tidak stabilnya nilai tukar yang bergerak fluktuatif telah berlangsung sejak sistem moneter yang diterapkan di dunia ini adalah fiat currency, dimana mata uang kertas yang tidak ditopang emas dijadikan sebagai alat tukarnya. Pada era sebelumnya hingga hancurnya Bretton Woods Agreement,
peredaran mata uang masih dikaitkan dengan emas. Pada perjanjian
tersebut ditetapkan bahwa mata uang suatu negara harus ditopang oleh
cadangan dolar, sementara dollar sendiri yang diedarkan oleh AS juga
ditopang oleh emas. Dengan demikian pertumbuhan supply dollar akan ditentukan seberapa besar cadangan emas AS.
Namun
sistem tersebut dibubarkan oleh AS. Pasalnya AS terus mencetak dollar
untuk meningkatkan belanja fiskalnya diantaranya untuk membiayai perang
Vietnam. Defisit anggarannya makin membesar sementara rasio antara supply dollar dan cadangan emasnya terus merosot. Pada periode tersebut stok emas AS merosot dari 20 milar dollar menjadi hanya 9 miliar Dollar. AS kemudian mengalami defisit cadangan emas.[3]
Negara-negara
lain khususnya negara-negara Eropa Barat dan Jepang sebagaimana yang
ditetapkan dalam perjanjian tersebut diwajibkan menjaga cadangan
dollarnya dan menggunakannya sebagai dasar untuk meningkatkan supply mata uang dan kredit di dalam negeri. Padahal semakin hari nilai dollar terus merosot (undervalue) sementara nilai mata uang mereka terus menguat (overvalue). Keadaan ini merugikan mereka sebab nilai ekspor mereka menjadi lebih mahal sehingga pertumbuhan ekonomi mereka merosot.
Akibat
beban tersebut negara-negara Eropa secara massif kemudian menukarkan
cadangan Dollar mereka dengan emas. AS kemudian tidak berdaya
mempertahankan paritas nilai dollar pada emas, sebesar 35
dollar per ons emas. Pada awal 1971, kewajiban dollar telah mencapai
lebih dari 70 miliar dollar sementara cadangan emasnya hanya 12 miliar
Dollar.[4]
Puncaknya
pada tanggal 15 Agustus 1971, secara unilateral dan tanpa berkonsultasi
dengan negara-negara aliansi dan IMF, AS menghentikan berlakunya Bretton Woods Agreement yang telah digagas sejak tahun 1942. Sejak saat itulah emas tidak lagi menjadi backing mata uang dunia. Era tersebut selanjutkan dikenal dengan era mata uang kertas (fiat money) dimana dollar sebagai panglimanya.
Menurut
Syekh Taqiyuddin an-Nabhany, secara politis langkah yang dilakukan oleh
AS untuk menghentikan pengkaitan Dollar dengan emas adalah didorong
oleh keinginan AS untuk memposisikan dollar sebagai standar moneter
internasional hingga menguasai pasar moneter internasional. Oleh karena
itu standar emas kemudian dianggap tidak lagi dapat dipergunakan di
dunia. Standar moneter Bretton Woods
kemudian hancur dan kurs pertukaran mata uang terus berfluktuasi. Dari
sinilah muncul berbagai kesukaran dalam mobilitas barang, uang dan
orang. [5]
Sejak
saat itu mata uang dunia menjadi tidak stabil. Mata uang AS dan seluruh
dunia terus bergolak. Fluktuasi tingkat nilai tukar menjadi sulit untuk
diprediksi bahkan kadangkala bergerak secara ekstrim. Belum lagi
inflasi terus membumbung akibat percetakan mata uang kian tak
terkendali. Suatu keadaan yang sangat meresahkan para pelaku ekonomi.
Inilah diantara konsekuensi yang ditimbulkan oleh mata uang fiat.
Masalah Mata Uang Kertas (Fiat Money)
Secara
sederhana kemunculan uang kertas mulanya adalah sebagai representasi
dari komoditas khsususnya emas. Hal ini dilakukan akibat sulitnya untuk
melakukan transaksi dengan membawa emas khususnya pada barang-barang
yang bernilai tinggi. Orang akan menerima uang representasi tersebut
sebab ada jaminan dari pihak yang mengeluarkan kertas tersebut dalam
hal ini pemerintah bahwa kertas tersebut dapat ditukar emas senilai
dengan yang dinyatakan dalam kertas tersebut. Pemegangnya dapat menukar
uang tersebut kapanpun dan berapapun ia mau. Namun
perlahan-lahan negara justru mengeluarkan kertas jauh lebih banyak dari
emas yang mereka miliki. Akibatnya kertas-kertas tersebut tak lagi
cukup untuk dikonversi dengan emas. Akhirnya masyarakat dipaksa untuk
menggunakan kertas tersebut sebagai alat transaksi.
Dalam sejarah moneter dunia dijumpai bahwa penggunaan mata uang kertas yang tidak ditopang (backed)
oleh komoditas seperti emas menyebabkan sejumlah masalah yang sangat
serius dalam perekonomian. Diantara masalah tersebut adalah:
Pertama, mata uang kertas menyebabkan inflasi yang tinggi. Akibatnya nilai uang terus merosot.
Sebagai
contoh, pada awal abad ke-9, Cina mengedarkan uang kertas—sekaligus
sebagai negara pertama yang menggunakan uang kertas—untuk mengganti
tembaga yang saat itu mengalami kelangkaan. Cina telah
memproduksi mata uang kertas yang sama sekali tidak ditopang oleh emas
atau komoditas lainnya. Namun alih-alih membenahi perekonomiannya, pada
tahun 1051 justru Cina terjerembab pada tingkat inflasi yang sangat
tinggi akibat produksi uang kertas yang terus berlangsung.[6]
Hal yang sama juga terjadi di Inggris tahun 1914 ketika Bank of England
menerbitkan uang kertas yang sama sekali tidak ditopang oleh emas. Uang
tersebut kemudian digunakan untuk membiayai angkatan perang pemerintah.
Pertumbuhan uang (money base) Inggris pada masa perang
tersebut naik hingga 41,2 persen. Dampaknya mudah ditebak. Inflasi
membumbung hingga mencapai 13,5 persen. Kondisi tersebut memaksa
Inggris dan sejumlah negara lainnya kembali pada standar emas (gold exchange rate)
Demikian pula pasca berkecamuknya Perang Dunia I, dunia modern menyaksikan bahaya dari fiat money
yang dikeluarkan tanpa ditopang oleh emas. Beberapa saat sebelum
perang, Bank Sentral Jerman membuat keputusan untuk menghentikan
konvertibilitas mark dengan emas. Uang kertas mark selanjutnya dapat
diterbitkan tanpa batas untuk membiayai angkatan perang Jerman. Akibat
emas tidak dijadikan jangkar (anchor) membuat nilai mata uang
negara tersebut paling rendah di dunia. Pada akhir tahun 1923 harga di
negara tersebut dapat melonjak dua kali lipat hanya dalam hitungan jam.
Harga sepotong roti misalnya bisa mencapai 200 miliar mark. Bahkan
ibu-ibu rumah tangga menjadikan uang kertas mark sebagai kayu bakar
karena nilainya jauh lebih rendah dari kayu bakar itu sendiri!
Indonesia
pun pernah merasakan dampak buruk dari penggunaan mata uang kertas.
Pada tahun 1965 akibat tingginya defisit anggaran pemerintah Indonesia
dan hyperinflasi yang mencapai 635,3 %, pemerintah melalui bank Indonesia melakukan pemotongan nilai uang (sanering)
dari Rp. 1.000,- menjadi Rp.1,-. Kebijakan ini didasarkan pada
Penetapan Presiden No.27 tahun 1965 yang diberlakukan pada tanggal 13
Desember 1965. Bisa dibayangkan kekayaan orang saat itu terpangkas
hampir 1.000 kali lipat (Singgaling dkk, 2004).
Tak
heran jika Robert Mundell (1997) seorang ekonom yang pernah meraih
Nobel, mengatakan bahwa terus membanjirnya uang kertas tanpa didukung
oleh likuiditas akan memicu terjadinya resesi ekonomi. Alasannya hingga
saat ini Bank Sentral AS terus meningkatkan pertumbuhan supply dollar.
Dengan membanjirnya uang kertas dan kredit, maka harga barang dan jasa
(inflasi) akan semakin tinggi dan sangat mungkin suatu saat berubah
menjadi hyperinflasi.
Kedua, legitimasi
mata uang kertas sangat rapuh sebab ia sama sekali tidak disandarkan
pada komoditas yang bernilai seperti emas dan perak. Ia hanya ditopang
oleh undang-undang yang dibuat pemerintahan suatu negara. Jika keadaan
politik dan ekonomi negara tersebut tidak stabil maka tingkat
kepercayaan terhadap mata uangnya juga akan menurun. Para pemilik uang
akan beramai-ramai beralih ke mata uang lain atau komoditas yang
dianggap bernilai sehingga nilai uang tersebut terpuruk.
Sebagai contoh ketika terjadi kegoncangan pasar modal (market crash) yang
mengakibatkan depresi pada tahun 1929, orang-orang di seluruh dunia
mulai menampakkan ketidakpercayaannya terhadap uang kertas sehingga
mereka berlomba-lomba menimbun (hoarding) emas dan
meninggalkan mata uang mereka. Di AS, nilai dolar makin kritis sehingga
Presiden Rosevelt tidak memiliki pilihan kecuali menghentikan produksi
mata uang emas dan memenjarakan orang yang menyimpan emas dan
mengenakan denda dua kali dari emas yang disimpan.[7]
Ketiga, uang
kertas telah menjadi sumber pemasukan peerintah yang paling mudah.
Dengan biaya produksi yang sangat rendah dibanding nilai nominal yang
dikandungnya, mereka dengan mudah mencetak uang-uang kertas (di
sejumlah negara dilakukan oleh Bank sentral). Uang tersebut kemudian
‘dipaksakan’ kepada rakyat untuk diterima sebagai alat tukar. Dengan
menukarkan menukarkan uang tersebut dengan barang dan jasa yang
diproduksi oleh rakyatnya, pemerintah dapat menikmati hasil keringat
rakyatnya dengan mudah. Dengan kata lain mata uang kertas telah menjadi
alat pemerasan negara terhadap rakyatnya. Rakyat kemudian menjadi
korban dengan inflasi yang tinggi.
Penerimaan
pemerintah Argentina misalnya dari pencetakan uang baru pada tahun
1985-1990, diperkirakan mencapai 54 persen dari total pendapatannya. Bahkan
pada tahun 1987 mencapai 86%. Akibatnya nilai peso terus melemah dan
menjadi tidak stabil. Rakyat Argentina kemudian enggan menggunakan peso
dan lebih memilih menggunakan dollar AS yang nilainya dianggap lebih stabil (Abdullah, 2006).
Hal
yang sama juga dirasakan oleh rakyat Afganistan ketika berada di bawah
rezim Rabbani. Pada masa sebelumnya nilai tukar resmi mata uang
Afganistan adalah 50 afgani per dollar AS dengan pecahan terbesar 1.000
afgani. Pada
musim panas 1991 nilai tukar tersebut telah mencapai 1.000 afgani per
dollar. Pemerintah kemudian mengeluarkan pecahan uang baru yang
bernominasi 5.000 afgani dan kemudian 10.000 afgani. Hasilnya setiap
kali mata uang tersebut diterbitkan maka nilai mata uang tersebut terus
melorot. Pada bulan September 1996 ketika Kabul jauh di tangan pasukan
Taliban, mata uang afgani diperdagangkan dengan nilai 17.800 per
dollar. Bahkan di pusat pemerintahan Mazari Sharif—daerah yang dikuasi
oleh Abdul Rasyid Dostum yang berpisah dengan Rabbani pada tahun
1994—nilai afgani mencapai 25.600 per dollar.
Rakyat Pakistan juga menjadi korban dari penggunaan fiat money ini. Pada
tahun 1991-1996 pertumbuhan jumlah uang beredar di negara tersebut
mencapai 10,6 persen. Selama periode tersebut pemerintah Pakistan
diperkirakan memperoleh penerimaan sebesar 97,173 miliar rupee hanya
dari pencetakan uang kertas dan pecahan logam (Abdullah, 2006).
Keempat, penggunaan mata uang kertas menciptakan ketidakadilan dalam kegiatan ekonomi.
Hal
ini dirasakan setelah berakhirnya Bretton Woods, dimana negara-negara
kuat yang memiliki mata uang yang dperdagangkan secara internasional
dengan mudah memperoleh kekayaan negara-negara lain hanya dengan
mencetak uang. Dengan mencetak lembaran-lembaran kertas dengan ukuran
dan gambar dan tanda tertentu, mereka daapt mengambil keutungan
berlipat-lipat dengan membeli apa saja yang nilai barangnya (intrinsic value) jauh lebih tinggi dari uang biaya produksi uang mereka. Mekanisme ini dikenal dengan istilah seignorage uang fiat. Seignorage berarti keuntungan yang diperoleh dalam memproduksi uang akibat perbedaan antara nilai nominal (face-value) suatu mata uang dengan biaya memproduksi uang tersebut (intrinsic value).
Sebagai contoh biaya untuk memproduksi uang kertas 100 dollar adalah 20 sen maka seignorage-nya
sebesar 99.80 dollar. Dengan kata lain setiap kali AS mencetak satu
lembar uang 100 dollar, maka ia akan mendapatkan keuntungan 99,80
dollar. Federal Reserve, bank sentral AS telah menikmati seignorage yang
sangat besar dengan mengeluarkan dollar sejak mata uang tersebut
menjadi cadangan mata uang internasional yang paling dominan. Dollar
memiliki daya beli yang kuat di luar AS sehingga dengan leluasa AS
memanfaatkan kesempatan ini untuk terus mencetak Dollar.[8]
Dengan kemampuan mencetak dollar pemerintah AS dapat membeli dari seluruh dunia apapun yang mereka inginkan.[9]
Sebagai mata uang internasional dollar dapat terus dicetak oleh AS
berapapun yang ia kehendaki untuk membiayai kebijakan fiskalnya
termasuk membiayai politik luar negerinya. Untuk Perak Irak misalnya
sebagaimana yang dinyatakan oleh Joseph E Stiglitz di dalam bukunya The Three Trillion Dollar War nilainya lebih dari 3 triliun dollar.
Barang
dan jasa yang diproduksi oleh negara-negara lain terus mengalir ke
negara tersebut jauh diatas nilai ekspornya. Akibatnya defisit neraca
perdagangan AS bulan Agustus 2008 misalnya telah mencapai lebih dari 66
miliar dollar. Pada bulan Agustus 2008 defisit pemerintah federal telah
mencapai 706,9 miliar dollar. Defisit tersebut kemudian dibayar dengan
utang dalam nominasi dollar. Kini utangnya telah mencapai 10,024 tiliun
dollar.[10]
Di sisi lain negara-negara lain khususnya negara-negara berkembang justru mengalami kerugian yang luar biasa akibat praktek seignorage ini. Salah satu contoh yang paling nyata adalah pembelian minyak oleh AS sebesar
12 juta barrel per hari untuk menutupi defisit produksinya. Sebagian
besar minyak tersebut dibeli dari Arab Saudi dengan hanya mencetak
Dollar baru yang kemudian ditransfer ke rekening pemilik perusahaan
minyak Arab Saudi. Meski Arab Saudi dapat membeli barang lain
dengan lembaran-lembaran dollar tersebut namun pada faktanya tetap saja
biaya yang dikeluarkan untuk melakukan investasi dan penambangan minyak
jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya pembuatan Dollar AS.
Kelima, mata uang kertas telah mendorong gelembung ekonomi yang dapat berujung pada ledakan ekonomi.
Setiap tahunnya AS harus menjual sekitar 1,5 miliar dollar surat utang untuk menutupi defisit anggarannya. Bank-bank sentral asing, korporasi dan individu selanjutnya membeli instrumen utang dari The Fed, Bank sentral AS. Sementara sekuritas berharga (treasury security)
tersebut diciptakan dari sesuatu yang tidak ada. Tidak berlebihan
sejumlah kalangan menyatakan cepat atau lambat dollar pasti mengalami
kebangkrutan.[11]
Bahaya
kerapuhan dollar sebagai mata uang kertas paling kuat saat ini juga
telah diwanti-wanti oleh Samuelson sebagaimana yang ditulis dalam The Washington Post
(17/11/004). Menurutnya pada tahun 2004 saja, investor swasta telah
memborong saham dan obligasi AS. Secara keseluruhan investor asing
telah memegang 13 persen dari total saham AS, 24 persen obligasi korporasi dan 43 persen surat-surat berharga pemerintah AS (treassury securities). Sturuktur
kepemilikan aset tersebut sangat berbahaya. Alasannya, saat ini dunia
telah menerima dollar lebih banyak daripada yang dia inginkan. Jika
terdapat momentum krusial sewaktu-waktu saham-saham dan obligasi
tersebut akan dilepas oleh pemiliknya dan resesi global yang akut akan
terjadi. Orang-orang beramai ramai menjual dollar dan beralih ke mata
uang kuat lainnya seperti Euro dan Yen dan nilai dollar dipastikan
turun signifikan. Anjloknya dollar berarti nilai dari saham dan
obiligasi yang dipegang oleh investor asing tersebut juga akan terjun
bebas. Mereka berlomba menjual aset-aset yang mereka memiliki. Pada saat itulah pasar-pasar saham akan anjlok secara tajam dan dollar AS akan kehilangan nilainya.[12]
Bahaya
ini kian mengancam tatkala dunia telah dibanjiri dolar. Di pasar-pasar
uang saja, terdapat gelembung-gelembung dollar AS yang berjumlah 80
triliun Dollar AS pertahun. Jumlah ini 20 kali lipat melebihi nilai
perdagangan dunia, yang jumlahnya sekitar 4 triliun Dollar AS pertahun.
Artinya, gelembung itu bisa membeli segala yang diperdagangkan sebanyak
20 kali lipat dari biasanya. Gelembung semakin lama semakin membesar
dan secara pasti gelembung itu suatu saat akan meledak yang menyebabkan
keruntuhan ekonomi global yang jauh lebih buruk dari depresi ekonomi
tahun 1929.[13]
Keenam, Akibat
nilainya yang tidak stabil mata uang kertas khususnya dengan rezim
bebas mengambang telah menjadi sarana spekulasi yang ganas. Uang tidak
lagi difungsikan semata untuk menjadi alat tukar, alat untuk menyimpan
dan menghitung kekayaan riil, namun justru lebih banyak digunakan untuk
kegiatan spekulasi.
Krisis moneter yang menimpa negara-negara Asia, Argentina dan Rusia pada tahun 1998 diakibatkan oleh sistem
nilai tukar yang tidak stabil. Episentrum krisis yang bermula di
Thailand tersebut dimulai dari derasnya uang spekulatif yang panas (hot money) yang mengalir deras ke negara tersebut untuk membeli saham-saham properti. Akibatnya nilainya terus menggelembung (bubble) jauh melebihi nilai riilnya. Ketika terjadi goncongan modal spekulatif yang liar tersebut berbalik arah dan mengakibatkan nilai tukar bath jatuh.[14] Efeknya kemudian menjalar kemana-mana termasuk ke Indonesia. Rupiah bahkan sempat menyentuh 16 ribu per dolar.
Para
spekulan sangat diuntungkan dengan adanya pergerakan (fluktuasi) nilai
tukar satu mata uang terhadap mata uang lainnya. Sementara pemerintah
(dalam hal ini bank sentral) dipaksa untuk terus menjaga nilai tukar
mata uangnya. Diantaranya melalui intervensi dengan ikut menjual dan
membeli devisa, meski devisa itu kadang diperoleh diperoleh dari utang
LN. Sebagai contoh pada akhir 1998 IMF memberikan utang kepada
pemerintah Brazil senilai 50 miliar dollar untuk menjaga nilai tukarnya
yang mengalami overvalued. Namun sayang intervensi pemerintah
tersebut sia-sia, sementara uang utangan tadi seakan hilang ditelan
angin. Uang tersebut sebagian besar mengalir ke kantong-kantong para
spekulan. Beberapa spekulan merugi namun secara umum para spekulanlah
yang memperoleh seluruh uang yang dikucurkan pemerintah tersebut.[15] Akan lain ceritanya jika dana tersebut digunakan untuk membiaya sektor riil yang dapat menggerakkan perekonomian Brazil.
Adanya peluang spekulasi di pasar uang plus pasar modal, justu membuat uang yang diperoleh dari sektor riil (main street) mengalir deras sektor non riil tersebut (wall street). Dana-dana hasil penjualan minyak Timur Tengah misalnya yang lazim dikenal dengan Sovereign Wealth Fund (SWF) kini
lebih banyak diinvestasikan di portofolio (saham, obligasi, atau
surat-surat berharga lainnya) baik yang dterbitkan pemerintah ataupun
swasta. Abu Dhaby Investment Authority (ADIA) misalnya, milik
pemerintah Uni Emirat Arab, kini memiliki SWF sebesar US$ 1,32 triliun.
Dana-dana tersebut kini digunakan membeli sejumlah saham perusahaan
kelas dunia baik yang tengah yang tengah kolaps maupun yang sedang booming termasuk membeli saham klub sepak bola Inggris Manchaster City.[16] Dana-dana
tersebut tentu akan sangat berguna bagi jutaan manusia jika
diinvestasikan pada sektor riil yang produktif seperti pembangunan
infrastruktur, bantuan kemanusiaan kepada orang-orang miskin yang
jumlah jutaan di negeri-negeri Islam.
Tinggalkan Uang Kertas
Inilah beberapa bahaya mata uang kertas yang tidak di back-up oleh
emas. Gelembung uang yang terus tumbuh tanpa batas dan membuat ekonomi
global menjadi tidak stabil. Krisis finansial saat ini dan sejumlah
krisis sebelumnya semakin memperjelas bahwa sistem moneter saat ini
yang menggunakan mata uang kertas (fiat money) sangat rapuh dan tidak layak diadopsi bagi mereka yang masih berfikir dengan jernih.
Dunia
membutuhkan sistem moneter yang lebih adil dan stabil. Dan mata uang
emas yang jejak rekamnya telah teruji di pentas moneter internasional
selama ratusan tahun merupakan standar moneter paling layak
diperhitungkan.
Senin, 01 Desember 2008
Bahaya Mata Uang Kertas!!!!
Diposting oleh muliawan blog di 00.11 0 komentar
Label: Renungan...
Kamis, 11 September 2008
AKHIR YANG BAIK ATAU AKHIR YANG BURUK??!!
Dari Seorang Sahabat
Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang mungkin terlalu sibuk
bekerja...
Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan merenungkan pesan ini...
Alhamdulillah, Anda beruntung telah terpilih untuk mendapatkan
kesempatan membaca ini.
Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. kita seolah
lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tau kapan kedatangannya.
Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan.Tahukah kita kapan
kematian akan menjemput
kita???
berikanlah waktu anda dan bacalah sampai habis, semoga dapat menjadikan
hikmah buat kita semua dan sadar, bahwa kita akan mati dan tinggal
menunggu waktunya,
semoga kita termasuk dalam orang-orang yang khusnul khotimah....
amien....
Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku
dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang
dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam
shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama,
apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.
Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri :
"Alangkah sabarnya mereka...setiap hari begitu... benar- benar
mengherankan!
"Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah
shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk
munajat kepada
Allah.
Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang
matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat
selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari
pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku.
Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung
beban sebagai orang terasing.
Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur'an. Tak ada lagi
suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup
sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku
ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol... Di samping
menjaga keamanan jalan,tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan
bantuan.
Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan
semangat dan dedikasi tinggi.
Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung
dan sering melamun sendirian ... banyak waktu luang ... pengetahuanku
terbatas.
Aku mulai jenuh ... tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku
sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan
orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain.
Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah sebuah
peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan.
Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas disebuah pos
jalan.
Kami asyik ngobrol ... tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan
yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil
bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan.
Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.
Kejadian yang sungguh tragis.
Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya
segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan
di tanah. Kami
cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas
dengan amat mengerikan.
Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma.
Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah
"Laailaaha Illallaah ... Laailaaha Illallaah .." perintah temanku.
Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu.
Keadaan itu membuatku merinding.
Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat...
Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku
tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah
menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti
ini.
Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat.
Tetapi .... keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
Tak ada gunanya ... Suara lagunya terdengar semakin melemah ... lemah
dan lemah
sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang
kedua.
Tak ada gerak .... keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa
mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun.
Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening...
Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara.Ia berbicara tentang hakikat
kematian dan su'ul khatimah (kesudahan
yang buruk).
Ia berkata "Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk..
Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya
selama di dunia.
"Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang
diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaimana
seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara
lahir batin.
Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang
kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat
bahwa
kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa
ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat
khusyu' sekali.
Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali
pada kebiasaanku semula ... Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang
menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi
sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya
lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala.
Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua
orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan !
Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu .... sebuah kejadian
menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai
mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah
terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti
ban yang kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep,
tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah
belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama
cepat-cepat menuju tempat kejadian.
Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah
sakit agar langsung mendapat penanganan. Dia masih sangat muda, wajahnya
begitu bersih.Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik,
sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika
kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang
keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an... dengan suara amat lemah.
"Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat
melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an ? Darah mengguyur seluruh
pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi
seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan suaranya
yang merdu.
Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur'an seindah itu.
Dalam batin aku bergumam sendirian "Aku akan menuntunnya membaca
syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu... apalagi
aku sudah punya pengalaman." aku meyakinkan
diriku sendiri. Aku dan
kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur'an yang
merdu itu.
Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke
setiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang.
Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya
terkulai, aku melompat ke belakang.
Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa.
Dia telah meninggal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku
menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku.
Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak
kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus
menangis air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul
sangat mengharukan. .Sampai di rumah sakit .....Kepada orang-orang di
sana, kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan
peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan.
Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit
yang meneteskan air mata.
Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri
jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk
tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan
dishalatkan.. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah.
Semua ingin ikut menyolatinya.
Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum.
Kami ikut
mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya...
Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya
almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia
lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda,
anak yatim dan orang-orang miskin.
Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula,
buah-buahan dan
barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa
membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk
dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawa
permen untuk dibagikan kepada anak-anak kecil.
Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa. hanya ada
satu harap, semoga kita menjadi penghuni surga. Biarlah dunia jadi
kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan
pertaubatan.
Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu,
dengan
amal-amal yang nyata : "memperbaiki diri dan mengajak orang lain "
Allah Swt berfirman: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan
sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang
siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh
ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan
yang memperdayakan." (QS.Al-Imran:185)
Rasulullah Saw telah mengingatkan dalam sabdanya, "Barangsiapa yang
lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya."
Saudaraku, siapa yang tau kapan, dimana, bagaimana, sedang apa, kita
menemui tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap Allah
SWT.
Orang yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian
dalam waktu-waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan
untuk menghadapinya.
Note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan
yang terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat.
Begitulah hendaknya engkau nasehati dirimu setiap hari karena engkau
tidak menyangka mati itu dekat kepadamu bahkan engkau mengira engkau
mungkin hidup lima puluh tahun lagi, Kemudian engkau menyuruh dirimu
berbuat taat, sudah pasti dirimu tidak akan patuh kepadamu dan pasti ia
akan menolak dan merasa berat untuk mengerjakan ketaatan.
Nasehat ini terutama untuk diri saya sendiri, dan saudara-saudaraku
seiman pada umumnya.
Orang Cerdas Adalah Orang Yang Mengingat Akan Kematian,
Diposting oleh muliawan blog di 23.59 0 komentar
Label: Renungan...
Senin, 01 September 2008
4 kesalahan paradigma masyarakat ttg bulan Ramadhan
1. Menganggap bulan Ramadhan adalah bulan Latihan
Seharusnya bulan Ramadhan adalah bulan ujian,sedangkan bulan latihannya 11 bulan lainnya. Ibarat orang yang mengikuti ujian, dia harus sunguh-sungguh agar ujiannya berhasil, namun kalau latihan ya santai aja, bisa liat buku, tanya temen alias kurang serius.
2. Bulan yang banyak makanan
Pada bulan ini biasanya jenis makanan banyak yang "turun gunung", yg di hari-hari biasa sulit sekali di dapat tapi di bulan ini melimpah ruah, seperti kolak, kolang kaling dsb. Dan terkadang sajian berbukanya bisa memenuhi seantero meja, sampai tidak muat mejanya untuk menaruh makanan.
Padahal seharusnya bulan Ramadhan menjadi bulan "sedikit makan banyak ibadah"
3. Bulan permainan
Ada pula di masyarakat kita, bila menghadapi bulan Ramadhan mempersiapkan beraneka macam permainan mulai dari yg modern (otomatis) seperti video game, computer game sampe yg manual seperti monopoli, karambol dsb. Bukankah
sebaiknya waktu luang di isi dengan tilawah quran, baca buku islam, menghafal alquran, taklim, iktikaf, dsb
4. Memfokuskan ibadah hanya pada puasa saja
Ada juga yang menjadi puasa adalah amalan utama, sehingga sering mengabaikan
ibadah ibadah lainnya seperti sholat 5 waktu dsb. Padahal puasa adalah ibadah yang paling "enteng" di lakukan di banding ibadah-ibadah yg lain.
terimakasih semoga bermanfaat..
Diposting oleh muliawan blog di 00.10 0 komentar
Label: Sekilat Info
Senin, 18 Agustus 2008
Berpuasa Dengan Cinta
Fungsi bendungan bukan sekedar sebagai penahan air sungai, melainkan sebagai penyimpan dan kemudian menyalurkan pada beberapa irigasi di berbagai lahan pertanian disamping itu juga bendungan berfungsi sebagai motor penggerak yang digunakan untuk pembangkit tenaga listrik seperti yang terdapat pada waduk jatiluhur. Puasa bukanlah sarana untuk menahan hawa nafsu, karena sebuah tahanan mempunyai masa berlaku dan selama menahan maka akan terjadi proses akumulasi jumlah tahanan.
Seseorang yang menahan rasa lapar pada saat puasa akan mengalami lonjakan ketika berbuka. Sebenarnya yang kita butuhkan adalah pengendalian dan bukan penahanan dan puncak pengendalian ada pada saat berbuka sebagai contoh ketika hendak berbuka maka akan muncul berbagai keinginan untuk menyediakan menu berbuka maka mengendalikan segala keinginan tersebut dan berbuka dengan menu alakadarnya misalnya dengan hanya dua butir kurma dan air putih hangat adalah puncak sebuah pengendalian dalam berpuasa lapar pada hari itu ( pembahasan belum masuk pada nafsu lain )
Kita masih ingat kalau orang dulu sering berkata " jangan bengong loh nanti kesambet " , artinya kita dilarang berfikiran kosong atau melamun karena hal itu mengundang hawa negatif kedalam tubuh. Mengosongkan fikiran dari hal-hal membangkitkan hawa nafsu tidak akan bisa bertahan lama dan untuk itu di butuhkan dorongan dari dalam yang ketika mata kita atau telinga kita atau mulut kita tidak bisa menahan maka sesuatu dari dalam akan datang untuk membendung, dan sesuatu itu bernama Dzikrullah
Berkali-kali Allah menegaskan bahwa kita tidak akan sanggup membersihkan hati (QS 4:49 ) disusul dengan (QS 24:21) tetapi Allah lah yang akan membantu membersihkan hati kita dan hal itu sulit terjadi jika kita jarang mengangungkan asmaNya (dzikir). Sehebat apapun usaha kita dalam menjaga hati tidak akan bisa menahan badai godaan yang datang dari luar. Setinggi apapun ilmu kita tidak akan sanggup menahan realitas tuntutan hidup yang terus merongrong karena jika kita perhatikan para koruptor adalah orang-orag berilmu dan juga banyak para pemimpin yang haus kekuasaan adalah ahli-ahli agama.
Kita tidak bisa menampik pahala yang dijanjikan oleh Allah terhadap apapun ibadah yang kita lakukan, namun beribadah hanya karena pahala terlalu naif tanpa cinta kepada sang Pemberi pahala. Satu-satunya yang bisa mengalahkan materi adalah cinta, bisa kita saksikan pengorbanan seorang ibu kepada anaknya, bisa kita dengar banyak yang rela mati demi yang dicintainya bahkan kata-kata melangkolis " gunung kan kudaki lautan kusebrangi demi cintaku padamu" menunjukan kehebatan sebuah cinta, dan ada juga yang mengatakan bahwa cinta itu buta yang tidak memandang materi.
Jika pahala dan dosa adalah sebuah materi yang tidak berwujud maka jelaslah dia selalu terkalahkan dengan materi yang berwujud apalagi jika materi tersebut di iringi dengan keluhan istri, tangisan anak, bujukan atasan , sanjungan bawahan , maka segala cerita bisa berubah seketika, lalu apa yang bisa mengalahkannya ? tidak lain adalah cinta dan dengan hanya mengaharap cinta Allah (ridho Allah) kita memulai niat untuk beribadah "Innas sholati wa nusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil 'alamin"
Salam
David
------------ --------- --------- -------
Dari senandung dzikir yang selalu menghiasi alam semesta
lewat kepak sayap kelelawar dimalam hari
lewat hembusan angin penghantar putik sari memanjakan bunga
lewat gelombang samudra yang menghantam karang ditepi pantai
merapat lewat hentakan qalbu sang pencinta
menyentuh lewat tangisan para bayi
berteriak lewat tarikan sakratul maut
Terlalu lama kita memejamkan mata dan berkata "aku tidak bisa melihatmu tuhan"
dengan tangan yang selalu tersembunyi sambil mengeluh "aku tisak bisa menggapaimu tuhan"
sambil menekuk kaki kita berkata "bagaimana aku melangkah kearahmu tuhan "
lalu kemudian diam diantara himpitan masalah dunia
tidak pernah ada ruang untuk bergerak
kita hanya tertipu lewat indera mata ke indera perasa
tidak ada waktu untuk lari
kita hanya berpindah memori dari frame yang satu ke frame yang lain
Kita seperti menjadi saksi penipuan diri
La ilaha illallah
Ilahi anta maksudi wa ridhoka matlubi..... .........
Diposting oleh muliawan blog di 19.44 0 komentar
Label: Renungan...
Hadits Pilihan
1. Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)
2. Seorang datang kepada Nabi Saw. Dia mengemukakan hasratnya untuk ikut berjihad. Nabi Saw bertanya kepadanya, "Apakah kamu masih mempunyai kedua orangg tua?" Orang itu menjawab, "Masih." Lalu Nabi Saw bersabda, "Untuk kepentingan mereka lah kamu berjihad." (Mutafaq'alaih)
Penjelasan:
Nabi Saw melarangnya ikut berperang karena dia lebih diperlukan kedua orang tuanya untuk mengurusi mereka.
3. Rasulullah Saw pernah berkata kepada seseorang, "Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu." (Asy-Syafi'i dan Abu Dawud)
Keterangan:
Terdapat satu riwayat yang cukup panjang berkaitan dengan hal ini. Dari Jabir Ra meriwayatkan, ada laki-laki yang datang menemui Nabi Saw dan melapor. Dia berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku ...." "Pergilah Kau membawa ayahmu kesini", perintah beliau. Bersamaan dengan itu Malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Allah kepada beliau. Jibril berkata: "Ya, Muhammad, Allah 'Azza wa Jalla mengucapkan salam kepadamu, dan berpesan kepadamu, kalau orangtua itu datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh teliganya. Ketika orang tua itu tiba, maka nabi pun bertanya kepadanya: "Mengapa anakmu mengadukanmu? Apakah benar engkau ingin mengambil uangnya?" Lelaki tua itu menjawab: "Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau khalati (saudara ibu) nya, atau untuk keperluan saya sendiri?"
Rasulullah bersabda lagi: "Lupakanlah hal itu. Sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang engkau katakan di dalam hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu!" Maka wajah keriput lelaki itu tiba-tiba menjadi cerah dan tampak bahagia, dia berkata: "Demi Allah, ya Rasulullah, dengan ini Allah Swt berkenan menambah kuat keimananku dengan ke-Rasul-anmu. Memang saya pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya ..." Nabi mendesak: "Katakanlah, aku ingin mendengarnya. " Orang tua itu berkata dengan sedih dan airmata yang berlinang: "Saya mengatakan kepadanya kata-kata ini: 'Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah, lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita. Lalu airmataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut,
padahal aku tahu ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang..., kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu ..., seakanakan kesejukann bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan. ' Selanjutnya Jabir berkata: "Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu seraya berkata: "Engkau dan hartamu milik ayahmu!" (HR. At-Thabarani dalam "As-Saghir" dan Al-Ausath).
4. Jangan mengabaikan (membenci dan menjauhi) orang tuamu. Barangsiapa mengabaikan orang tuanya maka dia kafir. (HR. Muslim)
Penjelasan:
Yang dimaksud kufur nikmat dan bukan kufur akidah.
5. Barangsiapa menisbatkan keturunan dirinya kepada selain ayahnya sendiri dan dia mengetahuinya bahwa dia bukan ayah yang sebenarnya maka surga diharamkan baginya. (HR. Muslim)
6. Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku? " Nabi Saw menjawab, "ibumu...ibumu. ..ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu." (Mutafaq'alaih) .
7. Ibu dan Bapak berhak makan dari harta milik anak mereka dengan cara yang makruf. Seorang anak tidak boleh makan dari harta ibu bapaknya kecuali dengan ijin mereka. (HR. Ad-Dailami).
8. Barangsiapa berhaji untuk kedua orang tuanya atau melunasi hutang-hutangnya maka dia akan dibangkitkan Allah pada hari kiamat dari golongan orang-orang yang mengamalkan kebajikan. (HR. Ath-Thabrani dan Ad-Daar Quthni).
9. Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, "Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu." (HR. Ibnu Majah)
Penjelasan:
Kalau berbakti masuk surga dan kalau bersikap durhaka kepada mereka masuk neraka.
10. Apabila seorang meninggalkan do'a bagi kedua orang tuanya maka akan terputus rezekinya. (HR. Ad-Dailami)
11. Termasuk dosa besar seorang yang mencaci-maki ibu-bapaknya. Mereka bertanya, "Bagaimana (mungkin) seorang yang mencaci-maki ayah dan ibunya sendiri?" Nabi Saw menjawab, "Dia mencaci-maki ayah orang lain lalu orang itu (membalas) mencaci-maki ayahnya dan dia mencaci-maki ibu orang lain lalu orang lain itupun (membalas) mencaci-maki ibunya. (Mutafaq'alaih)
12. Kedudukan seorang paman sebagai (pengganti) kedudukan ayahnya. (HR. Adarqothani)
13. Warisan bagi Allah 'Azza wajalla dari hambaNya yang beriman ialah puteranya yang beribadah kepada Allah sesudahnya. (HR. Ath-Thahawi) .
14. Salah satu kenikmatan Allah atas seorang ialah dijadikan anaknya mirip dengan ayahnya (dalam kebaikan). (HR. Ath-Thahawi)
15. Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami) . Ayah dan ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala). (HR. Bukhari)
16. Seorang datang kepada Nabi Saw dan bertanya, " Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?" Nabi Saw menjawab, "Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatirnu)." (HR. Aththusi).
17. Cintailah anak-anak dan kasih sayangi lah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki. (HR. Ath-Thahawi) .
18. Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu. (HR. Bukhari dan Muslim)
19. Sama ratakan pemberianmu kepada anak-anakmu. Jika aku akan mengutamakan yang satu terhadap yang lain tentu aku akan mengutamakan pemberian kepada yang perempuan. (HR. Ath-Thabrani)
20. Barangsiapa mempunyai dua anak perempuan dan diasuh dengan baik maka mereka akan menyebabkannya masuk surga. (HR. Bukhari)
21. Anak menyebabkan kedua orang tuanya kikir dan penakut. (HR. Ibnu Babawih dan Ibnu 'Asakir).
22. Barangsiapa memelihara (mengasuh) tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan wajib baginya masuk surga. (HR. Ath-Thahawi) .
23. Seorang ibu yang kematian tiga orang puteranya lalu berserah diri (pasrah) kepada Allah, rela dan ikhlas, maka dia akan masuk surga. (HR. Muslim)
24. Ajarkan putera-puteramu berenang dan memanah. (HR. Ath-Thahawi) .
25. Setiap anak tergadai dengan (tebusan) akikahnya (seekor atau dua ekor kambing) yang disembelih pada umur tujuh hari dan dicukur rambut kepalanya (sebagian atau seluruhnya) dan diberi nama. (HR. An-Nasaa'i)
26. Barangsiapa menjamin untukku satu perkara, aku jamin untuknya empat perkara. Hendaklah dia bersilaturrahim (berhubungan baik dengan keluarga dekat) niscaya keluarganya akan mencintainya, diperluas baginya rezekinya, ditambah umurnya dan Allah memasukkannya ke dalam surga yang dijanjikanNya. (HR. Ar-Rabii').
27. Ibu mertua kedudukannya sebagai ibu. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
28. Abang yang tertua (sulung) kedudukannya sebagai ayah. (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)
29. Orang yang memutus hubungan kekeluargaan tidak akan masuk surga. (Mutafaq'alaih)
30. Rahim adalah cabang dari nama Arrahman (Arrahman Arrahim). Rahim mengucapkan keluhan dan pengaduan: "Ya Robbi, aku telah diputus (hubungan kekeluargaanku) , aku telah diperlakukan dengan buruk oleh keluarga dekatku. Ya Robbi, aku telah dizalimi mereka, ya Robbi, ya Robbi." Lalu Allah menjawab: "Tidakkah kamu ridha Aku menyambung hubunganKu dengan orang yang menghubungimu dan Aku putus hubunganKu dengan orang yang memutus hubungannya dengan kamu. (HR. Bukhari)
31. Rasulullah Saw memberi uang belanja kepada keluarga beliau dari bagian rampasan perang yang menjadi hak beliau untuk kebutuhan rumah tangga selama setahun. Apabila ternyata ada kelebihannya maka uang itu diminta kembali dan dimasukkan ke dalam perbendaharaan negara (baitul maal). (HR. Ahmad)
33. Cukup berdosa orang yang menyia-nyiakan tanggungjawab keluarga. (HR. Abu Dawud).
32. Bukanlah dari golongan kami orang yang diperluas rezekinya oleh Allah lalu kikir dalam menafkahi keluarganya. (HR. Ad-Dailami)
(Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath - Gema Insani Press
Ayah - Ibu - Anak - Keluarga
Diposting oleh muliawan blog di 19.38 0 komentar
Label: Sekilat Info
Selasa, 12 Agustus 2008
JUJUR
Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur. ( QS. At-Taubah 9:119 )
عن ابن مسعود رضى الله عنه قال, قال رسول اله صلى لله عليه وسلم عليكم بالصدق فان الصدق يهدى الى البر وان البر يهدى الى الجنة ولا يزال الرجل
يصد ق ويتحرى الصدق حتى يكتب عند الله صد يقا, واياكم والكذب فان الكذب يهدى الى الفجور وان الفجور يهدى الى النار ولا يزال الرجل يكذب ويتحرى الكذب حتى يكتب عند الله كذابا -- متفق عل
Artinya:
Menurut penutura Ibnu Mas’ud r.a. Rasulullah SAW. Pernah bersabda: Hendaklah kamu bersifat jujur karena sifat jujur akan membawa kebaikan, dan kebaikan itu akan membawa kesyurga. Apabila seseorang bersifat jujur dan membiasakan dirinya untuk senantiasa jujur, maka Alllah akan menetapkannya sebagai orang yang jujur. Jauhilah olehmu sifat bohong karena bohong itu membawa pada kejahatan dan kejahatan itu akan membawa kedalam neraka. Bila seseorang bersifat bohong dan membiasakan dirinya bersifat bohong, maka Allah akan menetapkannya sebagai seorang pembohong. (HR.Muttafaq ‘alaih).
Orang yang jujur adalah orang yang pernyataannya sesuai dengan kenyataan. Baik pernyataan itu dengan lisan, dengan tulisan, ataupun dalam bentuk penampilan dan perbuatan.
Bila seorang pemimpin memberikan pernyataan dengan lisan atau tulisan, bahwa dia sangat prihatinan dengan kemiskinan rakyat, karena itu dia akan sangat peduli dan akan memperhatikan dengan serius nasib rakyat kecil yang miskin, padahal dalam kenyataannya dia lebih mementingkan rakyat lapisan atas karena akan menguntungkan pada peribadinya, maka pemimpin itu adalah pemimpin yang tidak jujur, karena perkataannya tidak sesuai dengan kenyataan. Allah sangat murka kepada orang yang perkatannya tidak sejalan dengan perbuatannya :
Amat besar kemurkaan Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
( QS. Ash-Shaf 3 )
Bila seseorang calon pemimpin tampil dihadapan rakyatnya dengan penampilan seorang pemimpin yang meyakinkan, padahal sebenarnya dia tidaklah mempunyai kemampuan untuk kepemimpinan yang akan dipegangnya karena bukan bidangnya, dan dia tidak punya pengalaman sama sekali dalam bidang yang akan di pimimpin nya. Maka orang itu adalah calon pemimpin yang tidak jujur , dan bila jadi pemimpin nanti, maka dia adalah pemimpin yang tidak jujur.( baca: pemimpin gadungan).Sama saja dengan seorang yang berpenampilan sebagai seorang dokter, padahal dia bukan dokter, maka orang itu adalah dokter gadungan.
Bila seseorang mendirikan rumah sakit atau panti asuhan, atau yayasan sosial yang secara lahir diduga orang bahwa itu adalah project kemanusiaan, padahal sebenarnya projet itu adalah project bisnis, atau atau projek untuk mengeruk kekayaan untuk dirinya dan keluarganya, maka orang itu adalah orang yang tidak jujur dalam perbuatannnya, atau orang yang bohong , membohongi masyarakat ramai.
Sifat jujur merupakan syarat utama untuk seorang pemimpin, karena itulah salah sifat yang wajib bagi seorang rasul, sifat yang pertamanya adalah sifat jujur atau ash-shidqu. Secara umum, sifat jujur juga merupakan sifat utama bagi seorang mukimn, karena orang mukmin itu adalah orang yang jujur, tidak ada artinya iman tanpa kejujuran. Karena itulah firman Allah swt. diatas (QS.9:119) memerintahkan orang beriman untuk bersifat jujur.
Sabda Rasulullah saw. Diatas memerintahkan orang beriman agar bersifat jujur, karena sifat jujur itu adalah induk kebaikan (kebahagiaan) yang akan membawa sesorang masuk syurga. Sifat jujur itu sangat berat bagi mereka yang tidak terbiasa bersifat jujur, karena itu Rasulullah saw. Mengingatkan agar kita membiasakan sifat jujur agar sifat jujur itu menjadi ringan dan membudaya dalam kehidupan. Sebaliknya Rasulullah memperingatkan agar kita menjauhi sifat bohong. Karena bohong itu adalah induk kejahatan dan kemaksiatan. Orang yang tidak biasa berbohong, akan merasakan bahwa bohong itu sebenarnya berat, karena itu Rasululullah mengingatkan kita agar tidak membiasakan bohong agar sifat bohong itu tidak menjadi kebiasaan, bila sudah menjadi kebiasaan akan sangat berat meninggalkannya. .Sebaliknya bila bohong itu tidak dibiasakan, maka bohong itu akan terasa berat.. Bila seseorang sudah terbiasa bohong, maka dia akan terbiasa pula berbuat jahat dan maksiat, karena sifat bohong adalah sumber semua kejahatan dan kemaksiatan.
Diposting oleh muliawan blog di 19.17 0 komentar
Label: Renungan...
Jebakan Fikiran
"Mind trapping" atau jebakan fikiran sering membuat sesuatu yang tampak sederhana menjadi demikian rumit. Suatu ketika teman dari daerah datang ke Jakarta dan menginap di sebuah hotel kelas tiga di pinggiran kota, entah mengapa setelah dua hari menginap di hotel tersebut baru dia menelpon saya dan mengatakan bahwa dia sudah berada di Jakarta sejak 2 hari yang lewat dan baru bisa menghubungi karena ada urusan keluarga. Sesampainya disana saya pura-pura kaget dan memberitahukan bahwa di kamar tempat dia menginap setahun yang lewat pernah terjadi pembunuhan dimana satu keluarga terbunuh setelah di rampok terlebih dahulu. Mendengar hal tersebut teman hanya mengangguk perlahan tetapi dampaknya malam berikutnya dia tidak bisa tidur nyenyak, seperti di ikuti oleh sesuatu, padahal dua hari sebelumnya tidak ada terjadi apa-apa.
Segala predikat yang melekat pada diri kita adalah pembentukan dari sebuah pengetahuan, mungkin bagi suku badui yang tidak pernah mengakses informasi ketika berhadapan dengan SBY bisa beranggapan bahwa dia bukan siapa-siapa. Pengetahuan tidak hanya membentuk sebuah kesadaran baru tetapi juga bisa mengikat kesadaran tersebut menjadi sebuah hukum sebagai contoh ketika kita tidak tahu bahwa segelas air di meja mengandung alkohol maka halal bagi kita meminumnya dan hukum haram jatuh ketika informasi mengenai kandungan alkohol yang terdapat didalam air tersebut datang kepada kita.
Selain jebakan fikiran, suasana hati juga bisa mempengaruhi keseharian kita, sebagai contoh ketika kita sedang duduk kemudia datang ustdaz kemudian berkata "jadilah orang yang sabar karena Allah bersama orang-orang yang sabar" dan hal ini bisa kita terima dengan senang hati tetapi bagaimana jika ketika muka kita habis di pukul oleh seseorang kemudian sang Ustadz berkata seperti itu, tentu saja situasinya sangat berbeda bukan ? mungkin kita lebih senang saat itu sang ustadz berbicara mengenai keadilan ketimbang kesabaran.
Kesimpulan sederhananya adalah bahwa sangat di perlukan sebuah kebijaksanaan dalam menyaring setiap informasi dan kebijaksaan dalam menyampaikannya sehingga amar ma'ruf nahi mungkar di laksanakan dengan cara yang ma'ruf dan bukan sebaliknya.
Diposting oleh muliawan blog di 19.08 0 komentar
Label: Renungan...
