Minggu, 27 Mei 2012
Merasakan Manisnya Perjuangan dengan Tiga Amalan
Pertama, ikhlas dalam beramal. Ikhlas adalah amalan hati, yang hanya Allah yang mengetahuinya. Apabila amal yang kita lakukan ikhlas semata-mata karena Allah, maka sepenuhnya ibadah kita diterima Allah Swt. Nabi Saw. pernah bersabda: “Murnikanlah agamamu, niscaya cukup bagimu amal yang sedikit.”
Sahl bin Abdullah pernah ditanya, “Apakah sesuatu yang paling berat bagi jiwa?” Dia menjawab, “Ikhlas. Sebab ikhlas itu jiwa tidak mendapat bagian apa-apa.”
Seorang ulama bernama Ma’ruf Al Khurkhy pernah memukuli badannya sambil berkata, “Ikhlaslah dan berusahalah untuk ikhlas.” Sampai-sampai Ibnu Qudamah mengatakan, “Siapa yang bisa menjadikan sesaat saja dari umurnya tulus ikhlas karena mengharapkan wajah Allah, maka dia telah selamat.”
Yang demikian ini karena mulianya ikhlas. Sementara cukup sulit membersihkan hati dari berbagai noda.
Kedua, berpuasa. Puasa tentu bukan sekedar tidak makan dan minum dari subuh sampai maghrib, walaupun hal itu merupakan kewajiban yang harus kita lakukan, tetapi lebih dari itu. Berpuasa juga melatih kesabaran dari berbuat maksiat dan melakukan hal-hal yang sia-sia. Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan palsu dan pengamalannya, maka Allah tidak mempunyai keperluan untuk meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya).”
Menurut Imam Ibnu Qudamah, kelebihan puasa bisa dilihat dalam dua makna berikut:
1. Karena puasa termasuk amal yang tersembunyi dan amal batin yang tidak bisa dilihat orang lain, sehingga tidak mudah disusupi riya.
1. Sebagai cara untuk menundukkan musuh Allah. Karena sarana yang dipergunakan musuh Allah adalah syahwat. Syahwat bisa menjadi kuat karena makanan dan minuman. Selagi lahan syahwat tetap subur, maka syetan bisa bebas berkeliaran di tempat gembalaan yang subur itu. Tapi jika syahwat ditinggalkan, maka jalan ke sana juga menjadi sempit. Jadi, dengan berpuasa seolah-olah kita tengah berhadapan langsung dan bertarung sengit melawan syetan.
Dengan berpuasa, kita dapat merasakan penderitaan orang-orang yang kelaparan, orang-orang yang kehausan, dan perjuangan Nabi SAW yang terpaksa mengganjal perutnya dengan batu dan makan daun-daunan karena boikot yang dijalankan kafir Quraisy terhadap dirinya dan keluarganya.
Ketiga, shalat tahajud. Shalat tahajud disebut-sebut sebagai shalat sunat yang paling utama dibanding shalat sunat yang lain. Hal ini terjadi, karena waktunya cukup istimewa, yaitu di sepertiga malam, yang mana kebanyakan orang pada waktu itu sedang nyenyak-nyenyaknya berisitirahat. Imam Hasan Al Bashri mengatakan tentang hal ini: “Saya tidak mendapatkan sedikitpun dari ibadah yang lebih berat daripada shalat ditengah malam.”
Demikian sahabatku. Tiga amalan itulah yang menjadikan kita merasakan manisnya perjuangan. Ikhlas mewakili ibadah hati, puasa mewakili sebuah bentuk perlawanan terhadap setan dan bagaimana dalam waktu setengah hari, hawa nafsu yang berada pada perut, kemaluan dan indera pada diri kita ditekan sedemikian rupa sehingga seolah-olah tidak bersuara. Ini jelas-jelas sangat bertolak belakang dengan keinginan dari hawa nafsu itu sendiri. Sedangkan shalat tahajud mewakili ibadah yang ditempatkan pada waktu di mana kebanyakan orang malas mengerjakannya. (EuforzaOne)
http://abu-farras.blogspot.com/2012/05/merasakan-manisnya-perjuangan-dengan.html
Diposting oleh muliawan blog di 18.09 0 komentar
Label: Renungan..., Sekilat Info
WAKTU
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Berbicara mengenai "waktu" mengingatkan penulis kepada
ungkapan Malik Bin Nabi dalam bukunya Syuruth An-Nahdhah
(Syarat-syarat Kebangkitan) [*] saat ia memulai uraiannya
dengan mengutip satu ungkapan yang dinilai oleh sebagian ulama
sebagai hadis Nabi Saw.:
Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru.
"Putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang
menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak
akan kembali lagi sampai hari kiamat."
Kemudian, tulis Malik Bin Nabi lebih lanjut:
Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru
sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota, dan desa,
membangkitkan semangat atau meninabobokan manusia. Ia
diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak
menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya,
walaupun segala sesuatu --selain Tuhan-- tidak akan
mampu melepaskan diri darinya.
Sedemikian besar peranan waktu, sehingga Allah Swt.
berkali-kali bersumpah dengan menggunakan berbagai kata yang
menunjuk pada waktu-waktu tertentu seperti wa Al-Lail (demi
Malam), wa An-Nahar (demi Siang), wa As-Subhi, wa AL-Fajr, dan
lain-lain.
APA YANG DIMAKSUD DENGAN WAKTU?
Dalam Kamus Besar Bahasa indonesia paling tidak terdapat empat
arti kata "waktu": (1) seluruh rangkaian saat, yang telah
berlalu, sekarang, dan yang akan datang; (2) saat tertentu
untuk menyelesaikan sesuatu; (3) kesempatan, tempo, atau
peluang; (4) ketika, atau saat terjadinya sesuatu.
Al-Quran menggunakan beberapa kata untuk menunjukkan
makna-makna di atas, seperti:
a. Ajal, untuk menunjukkan waktu berakhirnya sesuatu, seperti
berakhirnya usia manusia atau masyarakat.
Setiap umat mempunyai batas waktu berakhirnya usia (QS
Yunus [10]: 49)
Demikian juga berakhirnya kontrak perjanjian kerja antara Nabi
Syuaib dan Nabi Musa, Al-Quran mengatakan:
Dia berkata, "Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu.
Mana saja dan kedua waktu yang ditentukan itu aku
sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas
diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas yang kita
ucapkan" (QS Al-Qashash [28]: 28).
b. Dahr digunakan untuk saat berkepanjangan yang dilalui alam
raya dalam kehidupan dunia ini, yaitu sejak diciptakan-Nya
sampai punahnya alam sementara ini.
Bukankah telah pernah datang (terjadi) kepada manusia
satu dahr (waktu) sedangkan ia ketika itu belum
merupakan sesuatu yang dapat disebut (karena belum ada
di alam ini?) (QS Al-insan [76]: 1).
Dan mereka berkata, "Kehidupan ini tidak lain saat kita
berada di dunia, kita mati dan kita hidup, dan tidak
ada yang membinasakan (mematikan) kita kecuali dahr
(perjalanan waktu yang dilalui oleh alam)" (QS
Al-Jatsiyah [45]: 24).
c. Waqt digunakan dalam arti batas akhir kesempatan atau
peluang untuk menyelesaikan suatu peristiwa. Karena itu,
sering kali Al-Quran menggunakannya dalam konteks kadar
tertentu dari satu masa.
Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban kepada
orang-orang Mukmin yang tertentu waktu-waktunya (QS
Al-Nisa' [4]: 103) .
d. 'Ashr, kata ini biasa diartikan "waktu menjelang
terbenammya matahari", tetapi juga dapat diartikan sebagai
"masa" secara mutlak. Makna terakhir ini diambil berdasarkan
asumsi bahwa 'ashr merupakan hal yang terpenting dalam
kehidupan manusia. Kata 'ashr sendiri bermakna "perasan",
seakan-akan masa harus digunakan oleh manusia untuk memeras
pikiran dan keringatnya, dan hal ini hendaknya dilakukan kapan
saja sepanjang masa.
Dari kata-kata di atas, dapat ditarik beberapa kesan tentang
pandangan Al-Quran mengenai waktu (dalam pengertian-pengertian
bahasa indonesia), yaitu:
a. Kata ajal memberi kesan bahwa segala sesuatu ada
batas waktu berakhirnya, sehingga tidak ada yang
langgeng dan abadi kecuali Allah Swt. sendiri.
b. Kata dahr memberi kesan bahwa segala sesuatu pernah
tiada, dan bahwa keberadaannya menjadikan ia terikat
oleh waktu (dahr).
c. Kata waqt digunakan dalam konteks yang berbeda-beda,
dan diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan
untuk menyelesaikan pekerjaan. Arti ini tecermin dari
waktu-waktu shalat yang memberi kesan tentang keharusan
adanya pembagian teknis mengenai masa yang dialami
(seperti detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun,
dan seterusnya), dan sekaligus keharusan untuk
menyelesaikan pekerjaan dalam waktu-waktu tersebut, dan
bukannya membiarkannya berlalu hampa.
d. Kata 'ashr memberi kesan bahwa saat-saat yang
dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja memeras
keringat dan pikiran.
Demikianlah arti dan kesan-kesan yang diperoleh dari akar
serta penggunaan kata yang berarti "waktu" dalam berbagai
makna.
RELATIVITAS WAKTU
Manusia tidak dapat melepaskan diri dari waktu dan tempat.
Mereka mengenal masa lalu, kini, dan masa depan. Pengenalan
manusia tentang waktu berkaitan dengan pengalaman empiris dan
lingkungan. Kesadaran kita tentang waktu berhubungan dengan
bulan dan matahari, baik dari segi perjalanannya (malam saat
terbenam dan siang saat terbitnya) maupun kenyataan bahwa
sehari sama dengan sekali terbit sampai terbenamnya matahari,
atau sejak tengah malam hingga tengah malam berikutnya.
Perhitungan semacam ini telah menjadi kesepakatan bersama.
Namun harus digarisbawahi bahwa walaupun hal itu diperkenalkan
dan diakui oleh Al-Quran (seperti setahun sama dengan dua
belas bulan pada surat At-Taubah ayat 36), Al-Quran juga
memperkenalkan adanya relativitas waktu, baik yang berkaitan
dengan dimensi ruang, keadaan, maupun pelaku.
Waktu yang dialami manusia di dunia berbeda dengan waktu yang
dialaminya kelak di hari kemudian. Ini disebabkan dimensi
kehidupan akhirat berbeda dengan dimensi kehidupan duniawi.
Di dalam surat Al-Kahfi [18]: 19 dinyatakan:
Dan berkata salah seorang dan mereka, "Berapa tahunkah
lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami
tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari ..."
Ashhabul-Kahfi yang ditidurkan Allah selama tiga ratus tahun
lebih, menduga bahwa mereka hanya berada di dalam gua selama
sehari atau kurang,
Mereka berkata, "Kami berada (di sini) sehari atau
setengah hari." (QS Al-Kahf [18]: 19).
Ini karena mereka ketika itu sedang ditidurkan oleh Allah,
sehingga walaupun mereka berada dalam ruang yang sama dan
dalam rentang waktu yang panjang, mereka hanya merasakan
beberapa saat saja.
Allah Swt. berada di luar batas-batas waktu. Karena itu, dalam
Al-Quran ditemukan kata kerja bentuk masa lampau (past
tense/madhi) yang digunakan-Nya untuk suatu peristiwa mengenai
masa depan. Allah Swt. berfirman:
Telah datang ketetapan Allah (hari kiamat), maka
janganlah kamu meminta agar disegerakan datangnya ...
(QS Al-Nahl [16]: 1).
Bentuk kalimat semacam ini dapat membingungkan para pembaca
mengenai makna yang dikandungnya, karena bagi kita, kiamat
belum datang. Tetapi di sisi lain jika memang telah datang
seperti bunyi ayat, mengapa pada ayat tersebut dilarang
meminta disegerakan kedatangannya? Kebingungan itu insya Allah
akan sirna, jika disadari bahwa Allah berada di luar dimensi
waktu. Sehingga bagi-Nya, masa lalu, kini, dan masa yang akan
datang sama saja. Dari sini dan dari sekian ayat yang lain
sebagian pakar tafsir menetapkan adanya relativitas waktu.
Ketika Al-Quran berbicara tentang waktu yang ditempuh oleh
malaikat menuju hadirat-Nya, salah satu ayat Al-Quran
menyatakan perbandingan waktu dalam sehari kadarnya sama
dengan lima puluh ribu tahun bagi makhluk lain (manusia).
Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada
Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun
(QS Al-Ma'arij [70]: 4).
Sedangkan dalam ayat lain disebutkan bahwa masa yang ditempuh
oleh para malaikat tertentu untuk naik ke sisi-Nya adalah
seribu tahun menurut perhitungan manusia:
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian
(urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang
kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (QS
Al-Sajdah [32]: 5).
Ini berarti bahwa perbedaan sistem gerak yang dilakukan oleh
satu pelaku mengakibatkan perbedaan waktu yang dibutuhkan
untuk mencapai suatu sasaran. Batu, suara, dan cahaya
masing-masing membutuhkan waktu yang berbeda untuk mencapai
sasaran yang sama. Kenyataan ini pada akhirnya mengantarkan
kita kepada keyakinan bahwa ada sesuatu yang tidak membutuhkan
waktu demi mencapai hal yang dikehendakinya. Sesuatu itu
adalah Allah Swt.
Dan perintah Kami hanyalah satu (perkataan) seperti
kejapan mata (QS Al-Qamar [54] 50).
"Kejapan mata" dalam firman di atas tidak boleh dipahami dalam
pengertian dimensi manusia, karena Allah berada di luar
dimensi tersebut, dan karena Dia juga telah menegaskan bahwa:
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki
sesuatu hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah!", maka
terjadilah ia (QS Ya Sin [36]: 82)
Ini pun bukan berarti bahwa untuk mewujudkan sesuatu, Allah
membutuhkan kata kun, sebagaimana tidak berarti bahwa ciptaan
Allah terjadi seketika tanpa suatu proses. Ayat-ayat di atas
hanya ingin menyebutkan bahwa Allah Swt. berada di luar
dimensi ruang dan waktu.
Dari sini, kata hari, bulan, atau tahun tidak boleh dipahami
secara mutlak seperti pemahaman populer dewasa ini. "Allah
menciptakan alam raya selama enam hari", tidak harus dipahami
sebagai enam kali dua puluh empat jam. Bahkan boleh jadi kata
"tahun" dalam Al-Quran tidak berarti 365 hari --walaupun kata
yaum dalam Al-Quran yang berarti hari hanya terulang 365
kali-- karena umat manusia berbeda dalam menetapkan jumlah
hari dalam setahun. Perbedaan ini bukan saja karena penggunaan
perhitungan perjalanan bulan atau matahari, tetapi karena umat
manusia mengenal pula perhitungan yang lain. Sebagian ulama
menyatakan bahwa firman Allah yang menerangkan bahwa Nabi Nuh
a.s. hidup di tengah-tengah kaumnya selama 950 tahun (QS 29:
14), tidak harus dipahami dalam konteks perhitungan Syamsiah
atau Qamariah. Karena umat manusia pernah mengenal perhitungan
tahun berdasarkan musim (panas, dingin, gugur, dan semi)
sehingga setahun perhitungan kita yang menggunakan ukuran
perjalanan matahari, sama dengan empat tahun dalam perhitungan
musim. Kalau pendapat ini dapat diterima, maka keberadaan Nabi
Nuh a.s. di tengah-tengah kaumnya boleh jadi hanya sekitar 230
tahun.
Al-Quran mengisyaratkan perbedaan perhitungan Syamsiah dan
Qamariah melalui ayat yang membicarakan lamanya penghuni gua
(Ashhabul-Kahfi) tertidur.
Sesungguhnya mereka telah tinggal di dalam gua selama
tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (QS
Al-Kahf [18]: 25).
Tiga ratus tahun di tempat itu menurut perhitungan Syamsiah,
sedangkan penambahan sembilan tahun adalah berdasarkan
perhitungan Qamariah. Seperti diketahui, terdapat selisih
sekitar sebelas hari setiap tahun antara perhitungan Qamariah
dan Syamsiah. Jadi selisih sembilan tahun itu adalah sekitar
300 x 11 hari = 3.300 hari, atau sama dengan sembilan tahun.
TUJUAN KEHADIRAN WAKTU
Ketika beberapa orang sahabat Nabi Saw. mengamati keadaan
bulan yang sedikit demi sedikit berubah dari sabit ke purnama,
kemudian kembali menjadi sabit dan kemudian menghilang, mereka
bertanya kepada Nabi, "Mengapa demikian?" Al-Quran pun
menjawab,
Yang demikian itu adalah waktu-waktu untuk manusia dan
untuk menetapkan waktu ibadah haji (QS Al-Baqarah [2]:
189).
Ayat ini antara lain mengisyaratkan bahwa peredaran matahari
dan bulan yang menghasilkan pembagian rinci (seperti
perjalanan dari bulan sabit ke purnama), harus dapat
dimanfaatkan oleh manusia untuk menyelesaikan suatu tugas
(lihat kembali arti waqt [waktu] seperti dikemukakan di atas).
Salah satu tugas yang harus diselesaikan itu adalah ibadah,
yang dalam hal ini dicontohkan dengan ibadah haji, karena
ibadah tersebut mencerminkan seluruh rukun islam.
Keadaan bulan seperti itu juga untuk menyadarkan bahwa
keberadaan manusia di pentas bumi ini, tidak ubahnya seperti
bulan. Awalnya, sebagaimana halnya bulan, pernah tidak tampak
di pentas bumi, kemudian ia lahir, kecil mungil bagai sabit,
dan sedikit demi sedikit membesar sampai dewasa, sempurna umur
bagai purnama. Lalu kembali sedikit demi sedikit menua, sampai
akhirnya hilang dari pentas bumi ini.
Dalam ayat lain dijelaskan bahwa:
Dia (Allah) menjadikan malam dan siang silih berganti
untuk memberi waktu (kesempatan) kepada orang yartg
ingin mengingat (mengambil pelajaran) atau orang yang
ingin bersyukur (QS Al-Furqan [25]: 62).
Mengingat berkaitan dengan masa lampau, dan ini menuntut
introspeksi dan kesadaran menyangkut semua hal yang telah
terjadi, sehingga mengantarkan manusia untuk melakukan
perbaikan dan peningkatan. Sedangkan bersyukur, dalam definisi
agama, adalah "menggunakan segala potensi yang dianugerahkan
Allah sesuai dengan tujuan penganugerahannya," dan ini
menuntut upaya dan kerja keras.
Banyak ayat Al-Quran yang berbicara tentang
peristiwa-peristiwa masa lampau, kemudian diakhiri dengan
pernyataan. "Maka ambillah pelajaran dan peristiwa itu."
Demikian pula ayat-ayat yang menyuruh manusia bekerja untuk
menghadapi masa depan, atau berpikir, dan menilai hal yang
telah dipersiapkannya demi masa depan.
Salah satu ayat yang paling populer mengenai tema ini adalah:
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang
telah diperbuatnya untuk hari esok (QS Al-Hasyr [59]:
18).
Menarik untuk diamati bahwa ayat di atas dimulai dengan
perintah bertakwa dan diakhiri dengan perintah yang sama. Ini
mengisyaratkan bahwa landasan berpikir serta tempat bertolak
untuk mempersiapkan hari esok haruslah ketakwaan, dan hasil
akhir yang diperoleh pun adalah ketakwaan.
Hari esok yang dimaksud oleh ayat ini tidak hanya terbatas
pengertiannya pada hari esok di akhirat kelak, melainkan
termasuk juga hari esok menurut pengertian dimensi waktu yang
kita alami. Kata ghad dalam ayat di atas yang diterjemahkan
dengan esok, ditemukan dalam Al-Quran sebanyak lima kali; tiga
di antaranya secara jelas digunakan dalam konteks hari esok
duniawi, dan dua sisanya dapat mencakup esok (masa depan) baik
yang dekat maupun yang jauh.
MENGISI WAKTU
Al-Quran memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan waktu
semaksimal mungkin, bahkan dituntunnya umat manusia untuk
mengisi seluruh 'ashr (waktu)-nya dengan berbagai amal dengan
mempergunakan semua daya yang dimilikinya. Sebelum menguraikan
lebih jauh tentang hal ini, perlu digarisbawahi bahwa
sementara kita ada yang memahami bahwa waktu hendaknya diisi
dengan beribadah (dalam pengertian sempit). Mereka merujuk
kepada firman Allah dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang
menyatakan, dan memahaminya dalam arti
Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar
mereka beribadah kepada-Ku.
Pemahaman dan penerjemahan ini menimbulkan kerancuan, karena
memahami lam (li) pada li ya'budun dalam arti "agar". Dalam
bahasa Al-Quran, lam tidak selalu berarti demikian, melainkan
juga dapat berarti kesudahannya atau akibatnya. Perhatikan
firman Allah dalam surat Al-Qashash ayat 8 yang menguraikan
dipungutnya Nabi Musa a.s. oleh keluarga Fir'aun.
Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir'aun yang
akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.
Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentaranya
adalah orang-orang yang bersalah (QS Al-Qashash [28]:
8).
Kalau lam pada ayat di atas diterjemahkan "agar", maka ayat
tersebut akan berarti, "Maka dipungutlah ia (Musa) oleh
keiuarga Fir'aun 'agar' ia menjadi musuh dan kesedihan bagi
mereka." Kalimat ini jelas tidak logis, tetapi jika lam
dipahami sebagai akibat atau kesudahan, maka terjemahan di
atas akan berbunyi, "Maka dipungutlah ia (Musa) oleh keluarga
Fir'aun, dan kesudahannya adalah ia menjadi musuh bagi
mereka."
Diposting oleh muliawan blog di 18.05 0 komentar
Label: Renungan..., Sekilat Info
Kamis, 24 Mei 2012
Mendalami Tauhid Al-Asma` wash Shifat
Yang dimaksud dengan tauhid ini ialah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan seluruh nama dan sifat yang dimiliki-Nya. Keyakinan ini mengandung dua perkara:
1. Penetapan, yang dimaksud adalah menetapkan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala seluruh nama dan sifat-Nya. Maka tidaklah kita menetapkan nama bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan nama yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula tidaklah kita menetapkan sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan sifat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Peniadaan, yang dimaksud adalah meniadakan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala seluruh nama dan sifat yang telah ditiadakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Meniadakan pula semua penyerupaan dengan nama dan sifat makhluk. Jika ada keserupaan dari sisi asal makna kata namun hakikatnya tetaplah berbeda. Jadi, yang ditiadakan adalah keserupaan dari segala sisi, bukan pada sebagiannya.
Barangsiapa tidak mau menetapkan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuatu yang sudah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya berarti dia mu’aththil (seorang penolak) dan penolakannya serupa dengan penolakan Fir’aun. Sebab seorang yang tidak mau menetapkan nama dan sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti dia telah meniadakan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana Fir’aun yang tidak mengimani keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetapi barangsiapa mau menetapkan lalu menyerupakan nama dan sifat tersebut dengan makhluk berarti dia menyamai kaum musyrikin yang mengibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab seorang yang menyerupakan nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang ada pada makhluk, pada hakikatnya dia mengibadahi sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak sama dengan makhluk-Nya. Kemudian, barangsiapa mau menetapkan sesuatu yang sudah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya tanpa menyerupakan dengan yang selain-Nya berarti dia seorang muwahhid (seorang yang bertauhid). Wallahu a’lam bish-shawab.
Penetapan dan peniadaan ini memiliki dali-dalil yang sangat otentik dan akurat dari dua arah yang tak diragukan lagi keabsahannya, yaitu syariat dan naluri logika. Adapun dari syariat, di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Hanya milik Allah nama-nama yang paling baik, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran mengenai nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan atas segala yang telah mereka kerjakan.” (Al-A’raf: 180)
“Tak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
“Maka janganlah kalian mengadakan penyerupaan-penyerupaan bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (An-Nahl: 74)
“Dan janganlah kalian mengikuti sesuatu yang kalian tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, seluruhnya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra`: 36)
Sedangkan dalil dari naluri logika yaitu kita mengatakan bahwa berbicara tentang nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk pemberitaan yang tak mungkin akal kita mampu menangkap rinciannya tanpa tuntunan wahyu. Oleh karena itu, seharusnya kita mencukupkan diri dengan setiap yang diberitakan oleh wahyu saja dan tidak melampauinya.
Menggabungkan antara penetapan dan peniadaan dalam masalah nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hakikat tauhid. Tak mungkin mencapai kebenaran hakikat tauhid kecuali dengan penetapan dan peniadaan. Karena mencukupkan diri dengan penetapan semata, tidaklah mencegah timbulnya penyerupaan dan penyekutuan. Sedangkan mencukupkan diri dengan peniadaan berarti penolakan yang murni.
Sebagai contoh, jika engkau berkata, “Si Zaid bukan seorang pemberani.” Berarti engkau telah meniadakan sifat pemberani dari si Zaid sekaligus menolak (menjauhkan) Zaid dari sifat pemberani. Jika engkau berkata, “Zaid adalah seorang pemberani.” Berarti engkau telah menetapkan sifat pemberani bagi Zaid, tetapi tidak menolak kemungkinan bahwa selain Zaid juga pemberani. Jika engkau berkata, “Tak ada seorang pun yang pemberani kecuali Zaid.” Berarti engkau telah menetapkan sifat pemberani bagi Zaid dan meniadakannya dari selain Zaid. Dengan demikian, engkau telah mengesakan Zaid dalam perkara keberanian.
Jadi, tidak mungkin mengesakan seseorang dalam suatu perkara kecuali dengan menggabungkan antara peniadaan dan penetapan.
Di sini kita perlu menegaskan bahwa seluruh sifat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi diri-Nya merupakan sifat-sifat kesempurnaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih banyak menyebutkannya secara rinci daripada mengglobalkan. Karena bila pemberitaan dan kandungan-kandungan yang ditunjukkannya semakin banyak maka akan tampak kesempurnaan dzat yang disifatkan dengannya, yang sebelumnya tidak diketahui.
Oleh karena itu, sifat-sifat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya lebih banyak diberitakan daripada sifat-sifat yang ditiadakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari diri-Nya. Adapun seluruh sifat yang telah ditiadakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari diri-Nya merupakan sifat-sifat kekurangan yang tidak pantas bagi Dzat-Nya, seperti sifat kelemahan, letih, aniaya, dan sifat menyerupai para makhluk.
Kebanyakan sifat ini disebutkan secara global. Sebab hal itu lebih mendukung untuk mengagungkan dzat yang disifatkan dan lebih sempurna dalam menyucikannya. Sedangkan penyebutan sifat-sifat itu secara rinci tanpa alasan, bisa menjadi ejekan dan pelecehan terhadap dzat yang disifati.
Jika anda memuji seorang raja dengan mengatakan kepadanya, “Anda adalah seorang yang dermawan, pemberani, teguh, memiliki hukum yang kuat, perkasa atas musuh-musuhmu” dan sifat-sifat terpuji lainnya, sungguh hal ini termasuk sanjungan yang sangat besar terhadapnya. Bahkan di dalamnya terdapat nilai pujian yang lebih dan menampakkan kebaikan-kebaikannya, sehingga menjadikannya sebagai seorang yang dicintai dan dihormati, karena anda telah memperinci sifat-sifat yang ditetapkan baginya.
Demikian pula jika anda mengatakan kepadanya, “Anda adalah seorang raja yang tak bisa disamai oleh seorang pun dari raja-raja dunia yang berada di masamu,” sungguh hal ini juga merupakan sanjungan yang bernilai lebih, karena anda telah mengglobalkan sifat-sifat yang ditiadakan darinya.
Jika anda mengatakan kepadanya, “Engkau adalah seorang raja yang tidak pelit, tidak penakut, tidak faqir, dan engkau bukan seorang penjual sayur, bukan seorang tukang sapu, bukan dokter hewan, dan bukan tukang bekam,” dan rincian-rincian yang semacam itu dalam meniadakan segala keaiban yang tidak pantas bagi kemuliaannya, sungguh hal ini akan dianggap sebagai ejekan dan pelecehan terhadap haknya.
Walaupun yang mayoritas pada sifat-sifat yang ditiadakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari Dzat-Nya adalah disebutkan secara global, namun terkadang Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkannya dengan rinci pula, karena beberapa sebab:
1. Untuk meniadakan sesuatu yang diklaim oleh para pendusta terhadap hak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagaimana dalam firman-Nya:
“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi beserta-Nya.” (Al-Mu`minun: 91)
2. Untuk menepis anggapan akan suatu kekurangan pada kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagaimana dalam firman-Nya:
“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam hari, dan tidaklah sedikitpun kami ditimpa keletihan.” (Qaf: 38)
Di dalam Al-Qur`an terlalu banyak ayat yang berbicara tentang nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara rinci. Di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dialah Allah yang tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, yang Maha Memiliki, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang Maha Sombong. Maha Suci Allah dari segala yang mereka persekutukan. Dialah Allah yang Maha Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama yang baik. Seluruh yang di langit dan bumi bertasbih kepada-Nya. Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Hasyr: 22-24)
Ayat-ayat ini mengandung lebih dari 15 nama, dan setiap nama bisa mengandung satu atau dua sifat bahkan bisa pula lebih. Juga di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan bahwasanya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, dialah (Ilah) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah adalah batil, dan sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Apakah kalian tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya? Dan dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Al-Hajj: 59-65)
Ayat ini berjumlah tujuh ayat yang saling beriringan. Masing-masing ayat ditutup dengan dua nama dari nama-nama Allah, sedangkan setiap nama mengandung satu atau dua sifat bahkan bisa pula lebih.
Mengenai peniadaan yang disebutkan secara global, di antaranya sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Tak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya.” (Asy-Syura: 11)
“Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Maryam: 65)
“Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlash: 4)
Di sini kita ingin kembali menegaskan bahwa kesamaan dalam perkara nama dan sifat tidaklah menunjukkan kesamaan antara dzat-dzat yang diberi nama dan disifati. Hal ini bisa dibuktikan melalui dalil-dalil syariat, logika, dan panca indera.
1. Bukti dari dalil yang syar’i di antaranya, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang Dzat-Nya:
“Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (An-Nisa`: 58)
Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan bahwa Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Demikian pula di dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan bahwa manusia mendengar dan melihat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan). Karena itu Kami jadikan dia seorang yang mendengar dan melihat.” (Al-Insan: 2)
Namun tentunya pendengaran Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak sama dengan pendengaran manusia walaupun sama-sama diberi nama dan disifati dengan mendengar. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita akan hal ini dengan firman-Nya:
“Tak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
2. Bukti dari dalil yang logis, yaitu bahwa perkara yang maknawi dan sebuah sifat akan terkait dan terbedakan dari yang lainnya sesuai dengan apa yang dinisbatkan kepadanya. Bila segala sesuatu berbeda-beda dari sisi hakikat dzatnya, maka pastilah segala sesuatu berbeda-beda pula dari sisi sifat dan perkara maknawi yang dinisbatkan kepadanya. Oleh karena itu, sifat setiap dzat yang diberikan padanya sesuai dengan yang dinisbatkan kepadanya dan tidak mungkin kurang atau melebihi dzat yang disifatkan. Sebagai contoh, kita mensifatkan manusia dengan kelembutan dan juga mensifatkan besi yang meleleh dengan kelembutan. Padahal kita mengetahui bahwa jenis kelembutan itu berbeda-beda maknanya sesuai dengan apa yang dinisbatkan kepadanya.
3. Adapun bukti dari dalil secara panca indera, yaitu bahwasanya kita menyaksikan gajah memiliki fisik, kaki, serta kekuatan dan nyamuk juga memiliki fisik, kaki, serta kekuatan. Di sini tentunya kita mengetahui perbedaan antara fisik, kaki, serta kekuatan keduanya.
Jika kita sudah mengetahui bahwa kesamaan dalam perkara nama dan sifat di antara para makhluk tidaklah berkonsekuensi keserupaan dalam bentuk hakikatnya, padahal mereka adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka tidak adanya keserupaan antara Dzat yang Maha pencipta dengan makhluk ciptaan-Nya dalam hakikat nama dan sifat tentu lebih utama dan jelas. Bahkan kesamaan antara Dzat Yang Maha Pencipta dan makhluk ciptaan-Nya dalam perkara nama dan sifat adalah sesuatu yang amat sangat tidak mungkin terjadi. Wallahu a’lam bish-shawab.
Prinsip dalam Menetapkan Nama dan Sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala
Berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, Ahlus Sunnah menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak diragukan lagi, bahwa menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala haruslah dengan prinsip-prinsip yang benar. Ahlus Sunnah menyucikan nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa menolaknya dan menetapkannya tanpa menyerupakannya (dengan nama dan sifat-sifat makhluk).
Ada empat perkara yang diingkari oleh Ahlus Sunnah dalam menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagai berikut:
1. At-Tahrif
At-Tahrif secara bahasa bermakna menyimpangkan sesuatu dari hakikat, bentuk, dan kebenarannya. Adapun menurut istilah syariat, maknanya adalah memalingkan sebuah ucapan dari makna zhahirnya yang semula dipahami, kepada makna lain yang tidak ditunjukkan oleh rangkaian kalimatnya. Perbuatan At-Tahrif terbagi kepada dua jenis:
a. At-Tahrif yang dilakukan pada teks lafadz. Jenis yang ini terbagi kepada tiga bentuk:
1. Mengubah harakatnya. Di antaranya seperti bacaan dari sebagian ahli bid’ah terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَكَلَّمَ اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا
“Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (An-Nisa`: 164)
Mereka membacanya dengan memberi harakat fathah pada kata (اللهَ) dengan tujuan untuk mengubah maknanya, yaitu Nabi Musa ‘alaihissalam yang mengajak Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk berbicara, bukan sebaliknya.
2. Menambahkan hurufnya, yang demikian itu seperti men-tahrif bacaan اسْتَوَى yang artinya tinggi, menjadi اسْتَوْلَى yang artinya berkuasa.
3. Menambahkan kalimatnya, yang demikian itu seperti menambahkan kata (الرَّحْمَةُ) yang artinya rahmat, pada firman Allah وَجَاءَ رَبُّكَ yang artinya “telah datang Rabbmu”, sehingga menjadi وَجَاءَ رَحْمَةُ رَبِّكَ yang artinya “telah datang rahmat Rabbmu.”
b. At-Tahrif yang dilakukan pada makna kata tanpa mengubah harakat dan lafadznya. Contohnya seperti ucapan sebagian ahli bid’ah terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Bahkan kedua tangan-Nya terbentang.” (Al-Ma`idah: 64)
Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tangan-Nya adalah kekuasaan atau nikmat-Nya, atau yang selain itu.
Di sini perlu ditegaskan bahwa ahli bid’ah yang suka melakukan At-Tahrif tidak menamakannya dengan At-Tahrif, tetapi menyebutnya sebagai At-Ta`wil yang artinya menafsirkan. Hal ini karena mereka tahu bahwa kata At-Tahrif berkonotasi jelek dan tercela di dalam Al-Qur`an. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mentahrif (mengubah) perkataan dari tempat-tempatnya.” (An-Nisa`: 46)
Pada ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala menisbatkan perbuatan At-Tahrif kepada kaum Yahudi. Ini menunjukkan bahwa konotasi maknanya adalah jelek. Mereka mengganti istilah At-Tahrif dengan istilah At-Ta`wil agar lebih diterima oleh banyak kalangan, dan dalam rangka melariskan dagangan kebid’ahan mereka di antara orang-orang yang tidak bisa membedakan antara keduanya.
2. At-Ta’thil
At-Ta’thil secara bahasa maknanya meninggalkan dan mengosongkan. Adapun menurut istilah syariat, maknanya adalah menolak makna yang benar di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah. At-Ta’thil terbagi kepada dua jenis:
1. At-Ta’thil yang bersifat global, yaitu menolak nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara menyeluruh, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Al-Jahmiyyah, Al-Qaramithah, para ahli filsafat, dan yang selain mereka.
2. At-Ta’thil yang bersifat parsial, yaitu menolak sebagian dan menetapkan sebagian yang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Al-Mu’tazilah yang menolak sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menetapkan nama-nama-Nya. Demikian pula kelompok Al-Asya’irah, Al-Kullabiyyah, dan Al-Maturidiyyah yang menolak sebagian sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menetapkan sebagian yang lainnya.
3. At-Tamtsil
At-Tamtsil secara bahasa maknanya menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Adapun menurut istilah syariat, maknanya adalah meyakini bahwa sifat-sifat Allah yang Maha Pencipta serupa dengan sifat-sifat makhluk ciptaan-Nya. At-Tamtsil terbagi dua jenis:
1. Menyerupakan makhluk dengan Dzat Yang Maha Pencipta, yaitu menetapkan untuk makhluk sesuatu yang telah menjadi kekhususan Dzat yang Maha Pencipta. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Nasrani ketika mereka mengatakan bahwa Nabi ‘Isa adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Menyerupakan Dzat yang Maha Pencipta dengan makhluk ciptaan-Nya, yaitu menetapkan untuk Dzat yang Maha Pencipta sesuatu yang telah menjadi kekhususan makhluk-Nya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Yahudi ketika mereka mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat yang faqir, pelit, dan lemah.
4. At-Takyif
At-Takyif maknanya meyakini sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam bentuk tertentu yang dibayangkan di alam pikiran, atau menanyakan bagaimana bentuknya walaupun tanpa menyerupakannya dengan sesuatu yang wujud.
Berarti At-Takyif berbeda dari At-Tamtsil dari satu sisi dan sama dari sisi yang lainnya. Perbedaan keduanya, At-Takyif menyerupakan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang tak ada wujudnya di luar alam pikiran, sedangkan At-Tamtsil menyerupakan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang ada wujudnya di luar alam pikiran. Adapun kesamaannya, keduanya sama-sama perbuatan menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan yang selainnya. Sehingga setiap orang yang melakukan At-Tamtsil pasti melakukan pula At-Takyif, tetapi tidak sebaliknya.
Kelompok-kelompok yang Sesat
Secara garis besar, kelompok-kelompok yang sesat dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbagi menjadi dua golongan:
1. Al-Mu’aththilah, yaitu orang-orang yang mengingkari nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik secara keseluruhan atau sebagiannya. Mereka mengingkari karena keyakinan bahwa menetapkannya berarti menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk-Nya.
Keyakinan mereka ini adalah batil dan bertentangan dengan dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah. Untuk membuktikan kebatilan keyakinan mereka, bisa dilihat dari beberapa sisi, di antaranya:
a. Keyakinan mereka ini mengandung beberapa konsekuensi yang batil, di antaranya berkonsekuensi terjadinya kontradiksi di antara firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada sebagian ayat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Dzat-Nya. Pada ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala meniadakan penyerupaan-Nya dengan yang selain-Nya. Jika menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk-Nya, maka telah terjadi kontradiksi di antara firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan sebagiannya telah mendustakan sebagian yang lain.
b. Kesamaan antara dua hal dalam perkara nama atau sifat, tidaklah menuntut keserupaan antara hakikat keduanya dari segala sisi. Kita bisa melihat dua orang yang sama-sama disebut dengan manusia, mendengar dan melihat. Namun bukan berarti keduanya sama dalam sifat kemanusiaan, pendengaran, dan penglihatan dari segala sisi. Pasti sifat-sifat yang dimiliki oleh keduanya sangat berbeda hakikatnya. Bila perbedaan hakikat nama dan sifat terjadi di kalangan makhluk walaupun ada kesamaan pada sebagian sisi, maka perbedaan hakikat nama dan sifat antara Allah Subhanahu wa Ta’ala dan makhluk-Nya tentu lebih nyata dan lebih besar.
2. Al-Musyabbihah, yaitu orang-orang yang menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi menyerupakan dengan nama dan sifat-sifat para makhluk. Mereka menyerupakannya karena berkeyakinan bahwa hal itu merupakan kandungan makna yang terdapat di dalam nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah. Tentunya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajak manusia berbicara dengan sesuatu yang mereka pahami.
Kita meyakini bahwa keyakinan mereka ini adalah batil. Bisa dibuktikan kebatilan keyakinan mereka dari beberapa sisi, di antaranya:
a. Menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk-Nya adalah kebatilan yang ditolak oleh naluri logika dan syariat. Sebab, kandungan-kandungan makna yang terdapat di dalam nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah tidak mungkin merupakan perkara yang batil.
b. Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajak manusia berbicara dengan sesuatu yang mereka pahami dari sisi asal makna kata atau kalimat. Adapun bentuk dan hakikat yang berkaitan dengan nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah mereka ketahui, dan ilmunya hanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagai contoh, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan sifat ‘mendengar’ dan ‘melihat’ bagi Dzat-Nya, niscaya kita bisa memahami maksud kata ‘mendengar’ dan ‘melihat’ dari sisi asal makna kata. ‘Mendengar’ artinya mampu menangkap segala suara dan ‘melihat’ artinya mampu menangkap apa saja yang bisa dilihat. Namun tak seorang pun di antara manusia yang dapat mengetahui hakikat pendengaran dan penglihatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, hakikat sifat mendengar dan melihat yang ada di kalangan manusia berbeda dengan hakikat sifat mendengar dan melihat yang dimiliki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Al-Ilhad dalam Masalah Nama dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala
Al-Ilhad secara bahasa maknanya miring atau menyimpang dari sesuatu. Disebut liang lahad dalam kuburan dengan nama itu karena lubangnya berada di bagian samping dari kuburan dan bukan di tengahnya. Adapun menurut istilah syariat, maknanya adalah menyimpang dari syariat yang lurus kepada salah satu bentuk kekafiran.
Al-Ilhad dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala artinya menyimpang dari kebenaran yang wajib untuk ditetapkan pada nama dan sifat-sifat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Hanya milik Allah nama-nama yang baik, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama yang baik itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam perkara nama-nama-Nya. Niscaya mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-A’raf: 180)
Al-Ilhad dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbagi kepada lima jenis, sebagai berikut:
1. Menetapkan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebuah nama atau lebih, yang tidak ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi Dzat-Nya.
Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli filsafat ketika mereka menamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebutan, (عِلَّةٌ فَاعِلَةٌ) yang artinya unsur pembuat. Demikian pula yang dilakukan oleh kaum Nasrani ketika mereka menamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebutan tuhan bapak dan menamakan Nabi ‘Isa dengan sebutan tuhan anak. Semua ini adalah penyimpangan dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sepantasnya juga kaum muslimin menghindari memanggil nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebutan ‘Gusti’ atau ‘Pangeran’, seperti ucapan: “Wahai Gusti ampunilah aku,” atau “Wahai Pangeran tolonglah aku.” Hal ini sebaiknya dihindari, karena dikhawatirkan termasuk dalam bentuk penamaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menamai diri-Nya dengannya, dan tidak pula dinamai oleh Rasul-Nya. Karena nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah perkara tauqifiyyah, yakni tidak bisa ditetapkan kecuali dengan pemberitaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Bila kita menamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi Dzat-Nya, berarti kita telah menyimpang dalam perkara nama-Nya. Ini merupakan perbuatan Al-Ilhad.[1]
2. Mengingkari satu nama atau lebih, yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi Dzat-Nya. Perbuatan ini adalah kebalikan dari yang pertama.
Maka pengingkaran terhadap nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala baik secara keseluruhan atau sebagian merupakan perbuatan Al-Ilhad. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian manusia yang menolak nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti kelompok Al-Jahmiyyah. Mereka mengingkari dan menolak nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan alasan agar tidak menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benda-benda yang ada di alam ini. Pendapat mereka ini jelas merupakan kebatilan murni dan tidak bisa diterima. Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan sebuah nama bagi Dzat-Nya maka kita harus menetapkannya pula dan tak ada alasan untuk menolaknya. Jika kita mengingkari atau menolaknya berarti kita telah menyimpang dalam perkara nama-Nya. Ini merupakan perbuatan Al-Ilhad.
3. Menetapkan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi mengingkari sifat-sifat-Nya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Al-Mu’tazilah.
Sebagai contoh, mereka menetapkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mendengar namun tanpa pendengaran, Maha Melihat namun tanpa penglihatan, Maha Mengetahui namun tanpa ilmu, Maha Kuasa namun tanpa kekuasaan, dan seterusnya. Sebagian mereka mengatakan bahwa nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang banyak itu pada hakikatnya hanyalah satu nama saja, tidak lebih. Pendapat-pendapat mereka ini sangat tidak logis bagi siapa saja yang memiliki akal pikiran. Terlebih lagi jika diukur dengan penilaian Al-Qur`an dan As-Sunnah. Tidaklah ditetapkan sebuah nama pada sesuatu melainkan karena dia memiliki sifat yang sesuai dengan namanya. Dan setiap nama pasti menunjukkan kepada suatu sifat yang sesuai dengannya. Maka bagaimana mungkin dinyatakan bahwa nama-nama yang banyak pada hakikatnya hanya menunjukkan pada satu nama? Ini jelas penyimpangan dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
4. Menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi juga menyerupakannya dengan nama dan sifat-sifat para makhluk.
Hal ini sebagaimana dilakukan kelompok Al-Musyabbihah. Seharusnya kita menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa menyerupakannya dengan nama dan sifat-sifat para makhluk. Jika tidak, berarti kita telah melakukan penyimpangan dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan perbuatan Al-Ilhad.
5. Mengambil pecahan kata dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu menjadikannya sebagai nama untuk sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum musyrikin di masa jahiliah.
Mereka menamakan sebagian berhala mereka dengan pecahan kata yang diambil dari nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti, Al-Laatta yang diambil dari nama Allah Subhanahu wa Ta’ala Al-Ilah, Al-‘Uzza yang diambil dari nama Allah Al-‘Aziz, Al-Manaat yang diambil dari nama Allah Al-Mannan. Ini adalah penyimpangan dalam menggunakan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seharusnya nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi perkara yang khusus bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengambil pecahan-pecahan katanya sebagai nama untuk sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan perbuatan Al-Ilhad.
Demikianlah jenis-jenis penyimpangan dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ahlus Sunnah tidak berbuat Al-Ilhad (penyimpangan), bahkan mereka menyikapi nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri. Mereka menetapkan pula seluruh makna yang telah ditunjukkan oleh nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala itu, karena mereka meyakini bahwa menyelisihi prinsip ini merupakan perbuatan Al-Ilhad dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam bish-shawab.
Buah Keimanan kepada Nama dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala
Beriman kepada nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan suatu perkara yang sia-sia tanpa manfaat. Bahkan hal itu mengandung berbagai manfaat yang sangat positif terhadap tauhid dan ibadah seorang hamba. Lebih dari itu, beriman kepada nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah wujud dari tauhid dan ibadah hamba itu sendiri. Dalam tulisan ini kita akan menyebutkan sebagian manfaat tersebut, antara lain:
1. Merealisasikan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga seorang hamba tidak menggantungkan harapan, rasa takut, dan ibadahnya kepada yang selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Menyempurnakan rasa cinta dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan kandungan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat Nya yang tinggi.
3. Merealisasikan peribadahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Demikianlah yang bisa kita tuliskan di sini, semoga bermanfaat bagi segenap kaum muslimin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. (Euforza One)
Sumber: http://asysyariah.com/mendalami-tauhid-al-asma-washshifat.html
Diposting oleh muliawan blog di 20.36 0 komentar
Label: Sekilat Info
Minggu, 20 Mei 2012
Terima Kasih Cintaku!
Kehidupan rumah tangga begitu sangat indahnya bila kita menghiasi dengan cinta dan kasih sayang. Suami istri saling mengasihi dengan kelembutan, tutur kata yang mesra. Sekali waktu bertengkar karena terkadang pertengkaran dibutuhkan sebagai bentuk dinamika dalam berumah tangga karena begitulah keindahan berumah tangga. Selain dengan menunaikan hak dan kewajiban yang melekat pada ikrar suci perkawinan, dengan memperlakukan dengan istimewa penuh dengan penghargaan, banyak hal yang kita bisa lakukan untuk mensyukuri nikmat Allah, salah satunya dengan menyatakan cinta kita kepada istri. "Dan adapun dengan nikmat dari TuhanMu, maka sampaikanlah(sebut-sebutkanlah)" (QS. Adh-Dhuha : 11).
Memanggil istri dengan sebutkan mesra, "cintaku.." menjadi cara bagaimana kita mensyukuri nikmat dan anugerah Allah yang limpahkan untuk kita sebagai suami. Niat kita melakukan adalah untuk menciptakan suasana mesra melanggengkan ikatan batin dan menjaga keharmonisan pernikahan kita untuk menggapai ridha Allah. Keridhaan Allah terpancar dari wajah dan tutur kata pasangan suami istri yang menimbulkan kesejukan dan ketenteraman di dalam keluarga. Menjaga pernikahan agar tetap harmonis dan mesra merupakan wujud rasa syukur kita kepada Allah. Sebagaimana Sabda Rasulullah, "Menyebut-nyebut nikmat Allah adalah tanda bersyukur, meninggalkannya berarti kufur. Barangsiapa tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, ia tidak mensyukuri nikmat yang banyak. Dan barangsiapa tidak berterima kasih pada manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah. Bersatu adalah rahmat dan bercerai adalah siksa." (HR. Baihaqi).
Sahabatku, yuk..aminkan doa ini agar keluarga kita menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah. "Rabbana hab lanâ min azwâjinâ wa dzurriyyatinâ qurrata a’yunin waj-’alnâ lil-muttaqîna imâmâ." Artinya, Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan: 74). By: Muhamad Agus Syafii
Salam. euforzaOne.
Diposting oleh muliawan blog di 17.32 0 komentar
Label: Renungan...
Selasa, 15 Mei 2012
""RIBA""
Asslamu'alaikum wr. wb.
"Janganlah kamu menjual emas dengan emas ( mata uang ) kecuali sama
jumlahnya serta janganlah melebihkan sebagiannya. Kemudian janganlah
kamu menjual perak dengan perak kecuali sama jumlahnya serta jangan
melebihkan sebagiannya dan janganlah menjualnya dengan cara sebagian
secara tunai dan sebagian yang lain ditangguhkan". ( Hadits Muslim ).
Syarah / Penjelasan :
Praktek Riba harus segera ditinggalkan, karena Allah dan rasul-Nya memerangi praktek ini.
"Maka jika kamu tidak mengerjakan ( meninggalkan sisa riba ), maka
ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu
bertaubat ( dari pengambilan riba ), maka bagimu pokok hartamu; kamu
tidak menganiaya dan tidak ( pula ) dianiaya". ( QS; Al-Baqarah:279 )
Ini menandakan bahwa dosa yang didapat akibat melakukan praktek riba
bukanlah termasuk dosa yang bisa dianggap sepele. Kalau kita masih
melakukan praktek riba apapun bentuknya, misalnya seperti yang didapat
dalam hadits diatas dengan menukarkan emas dengan uang emas dengan
jumlah yang tidak sama ataupun jenis riba lainnya, maka segeralah
tinggalkan riba dan segera bertaubat kepada Allah, selagi kita masih
diberikan kesempatan oleh Allah.
Wallahu a'lam.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Diposting oleh muliawan blog di 00.11 0 komentar
Label: Renungan..., Sekilat Info
Senin, 14 Mei 2012
Marilah KIta Senantiasa Di Jalan Yang Benar!!!!
Ustadz Sayyid Quthb berkata, “Hakikat iman tidak akan terbukti
kesempurnaannya dalam hati seseorang sampai ia menghadapi benturan
dengan orang lain, yang berlawanan dengan imannya. Karena disinilah
seseorang akan melakukan mujahadah sebagaimana orang lain melakukan
mujahadah kepadanya untuk menghalanginya dari keimanan. Di sinilah
cakrawala iman akan tersingkap dan terbuka. Keterbukaan yang tidak
pernah terjadi pada jiwa orang yang tidak merasakan iman.”
Setiap penulis muslim sejati haruslah berpihak kepada Islam dan
kebenarannya, sebagaimana musuh berpihak kepada kekufuran dan
kedustaannya. Ia tidak berdiri ditengah-tengah ketika melakukan
aktivitasnya, tetapi harus berada di front para pembela Islam. Ia tidak
abu-abu dalam bersikap menghadapi musuh. Ia senantiasa tegas dan keras
terhadap musuh, karena musuh dengan sangat jelas sesat dan menyesatkan.
Tidak ada kata lain, ia harus berhadapan dengan mereka untuk
menyelamatkan umat dari kesesatan yang mereka sebarkan. Ini adalah suatu
tindakan yang gagah berani, yang hanya dilakukan oleh mereka yang
merasakan manisnya iman.
Ketika ia menghadapi benturan ini, ia dengan sabar menghadapinya. Ia
tahu jalan yang ditempuhnya pasti penuh rintangan dan tantangan. Ia
harus lebih banyak membaca guna mempersiapkan bekal untuk menghadapi
kepongahan sang musuh. Menulis adalah jihad fisabilillah! Jihad dalam
artian yang sesungguhnya jika ia melakukannya dengan baik.
Ulama seperti Ibnu Hazm telah menulis 400 jilid dalam berbagai bidang
ilmu pengetahuan. Ia telah menjadikan buku-bukunya itu sebagai tameng
dan senjata ketika menghadapi pihak musuh. Dia adalah seorang ulama
terbesar yang pernah dilahirkan di tanah Andalus Spanyol. Seorang Yahudi
bernama Ibnu an-Naghrilah di zaman Ibnu Hazm pernah menghina dan
“menginjak-injak” al-Quran, namun tidak ada yang menegurnya apalagi
menghukumnya. Bahkan pemimpin di negerinya, Badis bin Habus, justru
membela si Yahudi itu. Dengan kemarahan yang menyala-nyala, Ibnu Hazm
kemudian menulis buku berjudul ar-Rad’ ala Ibni an-Naghrilah
al-Yahudi (Bantahan terhadap Ibnu an-Naghrilah si Yahudi).
Ia tidak hanya mengecam si Yahudi itu, tetapi juga para ulama yang
bungkam seribu bahasa ketika menghadapi peristiwa ini. Ia berkata,
“Wahai rakyat Andalus, janganlah kamu membuat diri salah pilih.
Janganlah kamu terpedaya oleh mereka (fuqaha) dan kaum fasik. Mereka
merasa memiliki ilmu fikih, namun merekalah orang yang berpakaian kulit
domba sedangkan hati mereka buas. Mereka menghiasi para kriminalis dan
membantu kefasikan kaum hipokrit.”
Dengan berkata begitu, berarti kini Ibnu Hazm menabuh genderang tanda
bahaya. Ibnu Hayyan, penulis kitab Masalik wa al-Mamalik, berkata
tentang Ibnu Hazm, “Ia membantah ilmu-ilmu orang yang tidak sesuai
dengannya secara mendalam dan tajam, menunjukkan cacat-cacatnya, dan dia
berpegang pada firman Allah,‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu
semuanya pada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya.’ (QS. Ali
Imran [3]: 187).
Ia tidak bersikap lembut dalam mengatakan kritikannya, dan tidak pula
dengan berangsur-angsur, akan tetapi ia menokok seperti batu…lalu
mulailah raja-raja membicarakannya bersama orang-orang yang dekat
dengannya, lalu mengusirnya dari negeri sendiri…”
Dan terbukti, ia kemudian diusir dari negerinya, diasingkan, dan
kekayaannya di sita negara. Keadaannya yang cukup menyedihkannya ini
membuatnya menulis, “…dan tuan tahu bahwa pikiranku goncang, perasaanku
hancur karena jauh dari negeri sendiri, sunyi dari tanah kelahiran,
berubahnya waktu, hukuman sultan, berubahnya para sahabat, buruknya
kondisi, hilangnya masa senang, keluar dari semua harta kekayaan dari
yang kecil sampai yang besar, terputus dari hasil usaha bapak dan nenek
para leluhur, merasa asing dalam negeri, hilang harta dan kehormatan,
pikiran mengambang untuk melindungi keluarga dan anak-anak, rasa putus
asa untuk dapat kembali pada keluarga, dan menunggu nasib baik. Semoga
Allah tidak menjadikanku merintih kecuali hanya kepada-Nya.”
Sekalipun mendapat tikaman yang sangat mematikan, namun hal itu tidak
menyulutkan semangatnya untuk tetap setia dalam agama-Nya. Ia berusaha
tegar dan menjaga kehormatan diri dari mengeluh kecuali kepada-Nya.
Buktinya, setelah kematiannya, karya tulisnya yang cukup banyak itu
dijadikan rujukan penting para ulama sesudahnya. Di antara
karya-karyanya yang banyak dibaca dan ditelaah oleh banyak orang dari
zaman ke zaman adalah, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam (merapikan dasar-dasar
hukum), al-Muhalla (yang terhias), Thauqul Hammamah fil Ulfah wal
Alâf (merpati tentang cinta dan para pecinta), Nuqat al’Arus fi Tawarikh
al-Khulafa’ (silsilah para khalifah), al-Fashal fi al-Milal wa al-Ahwa
wa an-Nihal (tentang perbandingan agama), dan Risalah fi Fadha’il Ahl
al-Andalus (berita keutamaan penduduk negeri Andalus).
Seorang sejarawan dua abad setelah wafatnya berkata, “Dia adalah ulama
Andalus yang paling terkemuka, paling banyak menyampaikan peringatan di
majelis pertemuan para pemimpin dan terhadap pendapat para ulama.”
Demikianlah tentang sebuah pelajaran berharga yang dapat diambil dari
seorang ulama bernama Ibnu Hazm. Seorang penulis sejati hendaknya
bercermin padanya. Sudah semestinya ia harus berada di pihak yang benar
dalam kondisi bagaimana pun. Namun ia harus menyadari bahwa jalan yang
ditempuhnya itu bukanlah jalan yang mudah dan penuh kesenangan. Ia harus
rela meski nyawa dan harta taruhannya, demi sebuah kebenaran yang
tunduk kepada Allah.
Namun dibalik itu semua, bukan tanpa pujian setelahnya. Pujian akan
senantiasa berkumandang untuknya, untuk karya-karyanya. Pemikirannya
menjadi rujukan, keteguhannya dalam bersikap menjadi teladan bagi
generasi selanjutnya. Allah Swt. berfirman:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ
طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ{24} تُؤْتِي
أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ
لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan
kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya
(menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim
dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk
manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim [14]: 24-25).
http://abu-farras.blogspot.com/2012/04/senantiasa-berada-di-pihak-yang-benar.html
Diposting oleh muliawan blog di 23.50 0 komentar
Label: Education, Renungan..., Sekilat Info
Kamis, 10 Mei 2012
Islam Syariat Semesta Alam
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam, bahwasanya beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Tidaklah mendengar
tentangku (diutusnya aku) seorangpun dari umat ini, baik ia seorang
Yahudi maupun Nashrani, kemudian ia mati dan belum beriman dengan apa
yang aku bawa (Syari’at Islam) melainkan ia termasuk penghuni neraka.”
HR. Muslim
Para pembaca blog ku yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala, kali ini kita akan
mengkaji sebuah hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam agar kita bisa
mengambil beberapa pelajaran penting darinya. Sebuah hadits sahih, yang
tidak ada keraguan padanya karena telah diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim
rahimahullah dalam kitab Shahih-nya; tepatnya pada bab “Wajibnya
Beriman kepada Risalah Nabi Kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam
bagi Seluruh Manusia dan Terhapusnya Agama-agama dengan Agamanya”. Dari
shahabat yang mulia Penghafal Islam Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
semoga Allah meridhainya.
Hadits ini adalah salah satu hadits dari hadits-hadits Nabi shallallahu
alaihi wa sallam yang berbicara tentang salah satu prinsip utama dalam
Islam, yaitu wajibnya beriman kepada risalah yang dibawa oleh Nabi kita
Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bahwa risalah beliau shallallahu
alaihi wa sallam berlaku secara umum. Hal ini merupakan perwujudan
syahadah (persaksian) bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah
benar-benar utusan Allah subhanahu wa ta’ala.
Keumuman Risalah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam
Pembaca yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dalam hadits yang
mulia ini terdapat sebuah berita dari Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam yang mengandung peringatan dan ancaman sebagai penghuni neraka
kepada mereka yang tidak mau beriman serta tunduk kepada syari’at Islam
yang dibawa oleh beliau shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan paham
dan mengerti bahwa apa yang dibawa oleh beliau shallallahu alaihi wa
sallam adalah haq (kebenaran). Baik mereka dari kalangan umat Islam itu
sendiri, atau dari selain umat Islam seperti Yahudi, Nashrani, Majusi,
dan yang lainnya. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam kita diutus
kepada seluruh umat dan syariatnya berlaku bagi seluruh manusia tanpa
terkecuali, apakah itu bangsa Arab atau (non-Arab), berkulit putih,
hitam, atau merah dari kalangan budak atau yang merdeka. Demikian pula
berlaku kepada umat-umat yang beragama dengan syariat para nabi
terdahulu, sebagaimana dalam hadits ini. Lebih
dari itu, Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan (artinya):
“Katakanlah, (wahai Muhammad), wahai sekalian manusia, sungguh aku adalah utusan Allah kepada kalian semuanya.” (Al-A’raf: 158)
Dalam sabdanya yang lain Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyatakan:
“Sesungguhnya para rasul sebelumku diutus hanya kepada kaum mereka
semata, sedangkan aku diutus kepada manusia seluruhnya.” (HR. Al-Bukhari
dan Muslim, dari shahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)
Bahkan keumuman risalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam kita tidak
hanya kepada manusia semata akan tetapi meliputi golongan jin juga,
sebagaimana dijelaskan para ulama berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur`an
dan Sunnah (Al Hadits).
Berkata Al-Imam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah: “Allah telah
mengutusnya (Muhammad shallallahu alaihi wa sallam) kepada seluruh
manusia dan mewajibkan ketaatan kepada Beliau shallallahu alaihi wa
sallam bagi seluruh ats-tsaqolain (jin dan manusia).” (Lihat Tsalatsatul
Ushul)
Juga Al-Imam Ath-Thohawi rahimahullah berkata: “Dan Beliau shallallahu
alaihi wa sallam adalah seorang nabi yang diutus kepada seluruh bangsa
jin dan manusia dengan kebenaran dan petunjuk, serta pelita dan cahaya.”
(Lihat ‘Aqidah Ath-Thohawiyyah)
Bantahan Syubhat bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam hanya diutus kepada bangsa Arab
Dari penjelasan di atas terbantahlah sebuah syubhat (kerancuan berpikir,
red) yang dilontarkan oleh sebuah kelompok/aliran dari kaum Nashara
bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam hanya diutus
kepada bangsa Arab saja, sehingga mereka mengingkari kenabian beliau
shallallahu alaihi wa sallam kepada selain bangsa Arab. Maka ini
sesungguhnya kekufuran yang nyata kepada Allah subhanahu wa ta’ala
sekaligus pendustaan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan rasul-Nya
shallallahu alaihi wa sallam berdasarkan dalil-dalil yang pasti dan
jelas tentang keumuman risalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa
sallam. Padahal kalau mereka (kaum Nashara) mau jujur bahwasanya berita
tentang akan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam
sebagai Rasul yang terakhir telah termaktub dalam kitab mereka Injil,
bahkan Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan ucapan Nabi Isa ‘alaihis
salam sebagaimana dalam ayat-Nya (artinya):
“Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil,
sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab
sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya)
seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad
(Muhammad).” Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa
bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”"
(Ash-Shoff: 6)
Berkata Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah: “Dia adalah Muhammad bin
Abdillah bin Abdil Muththolib, seorang nabi dari Bani Hasyim.” (Lihat
Tafsir As-Sa’di, pada tafsir surat Ash-Shoff ayat ke-6, karya Asy-Syaikh
As-Sa’di rahimahullah).
Allah telah mengabarkan bahwa mereka (Yahudi dan Nashara) benar-benar
mengenal Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa
ta’ala berfirman (artinya):
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat
dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka
sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan
kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 146)
Lebih dari itu, telah disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih bahwa
Nabi Isa ‘alaihis salam akan turun ke bumi pada akhir zaman, dan akan
menghapus agama Nashrani, serta berhukum dengan syari’at Nabi Muhammad
shallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari
dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda :
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! sungguh telah dekat (waktu)
turunnya Isa bin Maryam kepada kalian sebagai hakim yang adil, akan
menghancurkan salib, membunuh babi, dan tidak menerima jizyah/upeti. Dan
(saat itu) harta berlimpah ruah sehingga tidak ada seorangpun yang mau
menerimanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah ketika menjelaskan sabda Nabi
shallallahu alaihi wa sallam “menghancurkan salib dan membunuh babi”
berkata: “Yakni benar-benar akan menghapus agama Nashraniyah dengan
menghancurkan salib dan menghilangkan keyakinan orang-orang Nashara
dalam pengultusan Beliau (Nabi Isa) ‘alaihis salam.” (Lihat Fathul Bari,
Kitab Ahadits Al-Anbiya`, Bab Nuzul ‘Isa bin Maryam ‘alaihis salam).
Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim dengan lafazh:
“Dan ia (Nabi Isa bin Maryam) pemimpin bagi kalian.”
Ibnu Abi Dzi’b (perawi hadits) berkata: “Tahukah kamu dengan apa dia
memimpin kalian?” Aku berkata (muridnya Ibnu Abi Dzi’b): “Beritahukanlah
kepadaku!” Maka ia menjawab: “Dengan Al-Qur`an dan Sunnah (ajaran) Nabi
kalian.”
Oleh karena itu, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah meletakkan sebuah bab
dalam Shahih Muslim dengan judul: Bab Penjelasan tentang Turunnya Nabi
Isa bin Maryam ‘alaihis salam (di akhir zaman sebagai hakim) berdasarkan
syari’at Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Allah
subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):
“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya
(Nabi Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan
menjadi saksi terhadap mereka.” (An-Nisa`: 159)
Al-Imam Ibnu Jarir rahimahullah meriwayatkan sebuah atsar (perkataan
shahabat) dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau
berkata: “Demi Allah! Sesungguhnya dia (Isa bin Maryam ‘alaihis salam)
sekarang masih hidup. Tetapi jika ia turun (ke bumi), maka mereka
semuanya (Yahudi dan Nashara) akan beriman kepadanya.” (Fathul Bari,
Kitab Ahadits Al-Anbiya`, Bab Nuradhiyallahu ‘anhuul ‘Isa bin Maryam
‘alaihis salam)
Dari beberapa hadits di atas, kita mengetahui bahwa syariat beliau
shallallahu alaihi wa sallam berlaku bagi seluruh umat dan suku bangsa,
dan syariat beliau berlaku sepanjang zaman, dari zaman ketika beliau
diutus sampai akhir zaman (hari kiamat). Di antara dalil yang
menunjukkan bahwa syariat Islam yang dibawa oleh Muhammad shallallahu
alaihi wa sallam juga berlaku bagi seluruh umat ialah apa yang
diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda:
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Seandainya Nabi Musa
‘alaihis salam hidup, maka tidak boleh baginya kecuali mengikuti
(syariat)ku .”
Maka sangat batil ucapan yang menyatakan bahwa sebagian syariat Islam
yang dibawa oleh Muhammad shallallahu alaihi wa sallam hanya cocok di
masa dahulu ketika Beliau shallallahu alaihi wa sallam hidup. Adapun
pada masa ini perlu adanya revisi atau kaji ulang agar lebih sesuai
dengan zaman dan memberikan maslahah (kebaikan, red) kepada umat.
Karena secara tidak langsung orang yang mengucapkan ucapan ini telah
menghukumi bahwa syariat Islam tidak relevan dengan zaman dan tidak
berlaku secara umum. Dan hal ini tentunya bertentangan dengan
dalil-dalil yang telah kita sebutkan serta penjelasan-penjelasan para
ulama. Dan orang yang seperti ini benar-benar telah mencela Allah
subhanahu wa ta’ala, karena konsekuensi dari ucapan tersebut (yang pada
hakekatnya adalah syubhat) bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak
mengetahui apa yang terjadi pada masa ini. Subhanallahi ‘amma yaqulun!
(Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan).
Sungguh hal ini adalah sikap lancang dan berani kepada Allah subhanahu
wa ta’ala. Kita berlindung kepada-Nya dari sikap yang seperti ini.
Kewajiban Tunduk dan Taat kepada Syari’at Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam
Dengan demikian, maka wajib bagi orang-orang Yahudi dan Nashara, untuk
beriman kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, serta tunduk dan
taat kepada syari’at beliau shallallahu alaihi wa sallam jika mereka
menginginkan keselamatan di akhirat kelak, dan jika mereka mengaku
sebagai pengikut Nabi Musa dan Isa ‘alaihumas salam, serta mengklaim
bahwa mereka berpegang kepada Taurat dan Injil yang telah Allah
subhanahu wa ta’ala turunkan kepada kedua Nabi yang mulia tersebut. Oleh
karena itu, tidak ada jalan keselamatan kecuali dengan mengikuti Nabi
shallallahu alaihi wa sallam secara kaffah (menyeluruh). Jangan sampai
menjadi seperti sebuah ungkapan:
“Anda menginginkan keselamatan, namun Anda tidak menempuh jalan-jalannya.
Sesungguhnya bahtera tidak akan pernah bisa berlayar di atas (tempat) yang kering.”
Wassalam......" EuforzaOne"
Sumber: http://www.buletin-alilmu.com/islam-syariat-semesta-alam
Diposting oleh muliawan blog di 18.40 0 komentar
Label: Sekilat Info
HOMOSEKS "GAY/LESBI" Itu HARAM!!!
Assalamu'alaikum wr wb,
Dalam Islam, Homoseks (hubungan seks antara pria dengan sesama pria)
merupakan satu dosa yang besar. Lebih besar ketimbang zina antara lelaki
dengan perempuan. Begitu pula dengan lesbian (zina antara wanita dengan
sesama wanita).
Dalam Al Qur’an Allah melaknat kaum Luth yang melakukan homoseks dan lesbian sehingga menyiksa mereka.
“Dan Kami mengutus Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata
kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang
belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?”
Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (Homoseks),
bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. ”
[Al A'raaf 81-82]
“Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa
kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu
memperlihatkan(nya)?”
“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi nafsumu (homoseks),
bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak
mengetahui (akibat perbuatanmu).”
Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth
beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu
orang-orang yang (menda’wakan dirinya) bersih.”
Maka Kami selamatkan dia beserta keluarganya, kecuali isterinya. Kami
telah mentakdirkan dia termasuk orang-orang yang tertinggal
(dibinasakan). ” [An Naml 54-57]
Hadits riwayat Ibn Abbas : “Siapa saja yang engkau dapatkan mengerjakan
perbuatan homoseksual maka bunuhlah kedua pelakunya”. [ditakhrij oleh
Abu Dawud 4/158 , Ibn Majah 2/856 , At Turmuzi 4/57 dan Darru Quthni
3/124].
Hadits Ibnu Abbas: “Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan
kaum Luth, (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali)” [HR Nasa’i dalam
As-Sunan Al-Kubra IV/322 No. 7337]
Jadi tindakan Ketua Partai Demokrat, Ulil Abshar Abdalla yang mengundang
tokoh Lesbian Irshad Manji untuk mempromosikan Homoseks dan Lesbian di
Indonesia selain bertentangan dengan budaya Indonesia juga melanggar
ajaran Islam.
(EuforzaOne)
Wassalam....
Silahkan baca selengkapnya di:
http://media-islam.or.id/2011/08/14/homoseks-liwath-satu-dosa-besar-menurut-islam
Diposting oleh muliawan blog di 18.34 0 komentar
Label: Education, Renungan..., Sekilat Info
Obat Hati yang Gelisah "Shalawat"
Bagi orang yang beriman, musibah sudah menjadi bagian dari hidupnya.Bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa terpisahkan, sesuai dengan
firman Allah SWT dalam Surat Al Ankabut: "Apakah manusia itu mengira
bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: " kami telah beriman", sedang
mereka tidak diuji lagi?"
dengan hartanya, apakah dia membelanjakan di jalan yang benar atau
tidak. Yang berilmu diuji dengan ilmunya, apakah dia memanfaatkan ilmu
yang telah Allah SWT anugrahkan kepadanya atau malah
menyembunyikannya, bahkan Si miskin pun dicoba dengan kemiskinannya
apakah dia sabar atau tidak. Maka tidak ada orang mu'min yang terlepas
dari ujian Allah SWT.
Penyikapan manusia atas ujiannya adalah cara bagaimana Allah SWT
mengetahui mana yang tetap pada jalan-Nya dan mana yang berbelok
dari-Nya. Bagi orang yang tetap di jalan-Nya, hidupnya akan selalu
diliputi dengan rasa nyaman dan hatinya selalu tentram, karena dia
yakin, semua yang ditimpahkan kepadanya adalah yang terbaik baginya
menurut Allah SWT. Dia selalu berbaik sangka (khusnudzon).
Sebaliknya orang yang selalu berburuk sangka. Hidup orang ini selalu
diliputi rasa gelisah, kurang bersyukur, malah kadang sampai kufur.
Nau'zubillah min dzalik.
Tidak mudah memang untuk selalu menerima keputusan yang telah Allah
SWT tentukan untuk kita, kecuali orang-orang yang sudah benar-benar
kuat imannya. Namun bukan berarti tidak mungkin. salah satu caranya
dengan membiasakan diri membaca shalawat.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW, "Barangsiapa yang mendapatkan
kesulitan, maka perbanyaklah membaca shalawat untukku, karena
sesungguhnya ia dapat mengatasi berbagai masalah dan menghilangkan
kegelisahan".
Dan ketika sudah membacanya berkali-kali, maka akan terasa sekali
manfaatnya. Hati yang sebelumnya gundah gelisah, akan terasa tentram
dan lapang. Wallahu 'alam bish shawab. By: Saiful Mujab
Salam, EuforzaOne
Diposting oleh muliawan blog di 01.21 0 komentar
Label: Sekilat Info
Kiat2: Mengenali Tanda-Tanda jodoh Anda
Sahabatku, kita semua tidak pernah tahu siapakah yang akan berjodoh dengan kita, namun dengan segala kebesaran Allah kita diberi tanda-tanda untuk mengenali yang menjadi jodoh kita. Lantas bagaimana kita mengenali tanda-tanda seseorang menjadi jodoh kita? Berikut ini tips untuk mengenali tanda-tanda jodoh kita.
Pertama, orang yang berjodoh dengan kita walaupun selalu bersama, tidak ada sedikitpun perasaan bosan, jenuh ataupun tertekan. Semakin hari, semakin sayang padanya. Kita senantiasa tenang, gembiran dan dia menjadi pengobat kedukaan kita. Dan dia pun merasakan hal yang sama seperti yang kita rasakan. Rasa senang apabila bersama. Jika berjauhan terasa ada kerinduan dan ingin berjumpa dengannya. Ketiadaan dirinya kita kehilangan. Kedua, Orang yang berjodoh dengan kita bersikap bersahaja dan tidak "aneh-aneh." Coba perhatikan caranya berpakaian, caranya berbicara, caranya tertawa dan tersenyum maupun makan dan minum nggak ja'im (jaga imej). Apabila dia tampil ada adanya, tidak dibuat-buat, maka itu adalah salah satu tanda-tanda dia adalah calon pasangan hidup anda. Jika tidak, maka anda mesti mengikhlaskannya karena dia bukanlah jodoh anda.
Sahabatku yang "single" ingin segera menikah, bila memang ada niat & keinginan sungguh2 untuk menjemput jodohnya maka Allah akan kirimkan jodoh yg terbaik dari sisiNya. Sahabatku, Jangan putus asa, tetaplah berikhitiar menjemput jodoh anda & memohon kpd Allah agar diberikan jodoh yg terbaik (By: M. Agus Syafii)
Wassalam,
ttd
"EuforzaOne"
Diposting oleh muliawan blog di 00.42 0 komentar
Label: Sekilat Info
Ketahuilah Bahwa Derita Dapat Menumbuhkan Empati Dan Kasih Sayang
Setiap derita yang menghempas hidup kita adalah sebuah anugerah Allah yang menumbuhkan empati dan kasih sayang di dalam diri kita. Allah berharap kita juga membantu, meguatkan dan menghibur saudara-sadara kita yang tengah terpuruk dan berputus asa dalam menghadapi kehidupan. sosok perempuan yang sederhana, selalu tersenyum namun rapuh Sekian tahun lalu dirinya berpisah dengan suaminya, tidak pernah dia membayangkan pernikahan itu hancur begitu saja tanpa disadari. Suami terpikat dengan perempuan lain. Disaat dirinya tersadar, semua terlambat, palu telah diketuk dan dia menjalani hari-harinya dengan luka perih dihati, hanya putri yang masih kecil ikut bersamanya. Harta, rumah, deposito bahkan mobil dibawa oleh sang suami. Derita itu seolah tak ujung, dengan bercucuran air mata dalam kesendirian harus menjaga putrinya yang tengah terbaring lemah di rumah sakit dan ketika putrinya bertanya, 'Ma, ayah mana? Kok nggak nengok putri?' Kata-kata yang keluar
dari bibir mungil tak mampu dijawabnya, hanya isak tangis yang terdengar. Setelah sepekan menunggu di Rumah Sakit, dirinya menyaksikan bagaimana putri yang dicintainya menghembuskan napas terakhir. Didekap dalam pelukan. Tak kuasa untuk bisa menahan derita bagaimana harus menjalani hidup.
Sejak itu, dia selalu mengurung diri dalam kamar. Tak peduli siang, malam. Hari terus berlalu, yang ada hanyalah mengusap air mata dalam kesendirian, diam membisu dalam doa. 'Ya Allah, dimanakah Engkau? Kenapa Engkau timpakan ini semua kepadaku?' Dua bulan berlalu begitu cepat, wajahnya terlihat lebih kurus, tanpa makan dan hanya sedikit minum. Mukena yang dipakainya sudah terlihat usang. Bibirnya mengering sudah tidak lagi teringat berapa kali istighfar diucapkan. Memohon ampun kepada Allah. Ditengah kondisi tubuhnya melemah, seorang ibu datang menyuapi dirinya dengan bubur ayam. Kata-katanya begitu menguatkan hati, tidak mampu berkata apa-apa, hanya terisak tangis pilu. Pada saat itulah dirinya belajar untuk menerima realitas hidup. Kedatangan dirinya bersama seorang sahabat ke Rumah Amalia untuk bershodaqoh dengan berharap Allah menyembuhkan luka dihatinya.
Dirasakan di dalam hatinya terasa ada kehangatan yang mengalir, memberikan kesejukan dan ketenteraman. Dia tahu, bahwa dirinya tidak sendiri, banyak perempuan yang mengalami seperti dirinya. Dia merasakan luka itu perlahan-lahan sembuh. Berulang kali mengucapkan syukur alhamdulillah, seolah dia mengerti maksud Allah, menjadi lebih mengerti kasih sayang Allah kepada dirinya. Yang manis mampu membuatnya tersenyum, kepahitan tidak lagi mampu membuat hatinya terluka. Dirinya tidak lagi terjebak pada masa lalu dan tidak menyesali apa yang telah terjadi. 'Saya yakin Allah, memberikan yang terbaik bagi setiap hambaNya.' tuturnya sore itu di Rumah Amalia. Wajahnya berbinar penuh senyuman. Kebahagiaan itu hadir di dalam hatinya meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
'Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah sedang dia orang yang berbuat kebaikan maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.' (QS. Luqman : 22).
distributed by: EuforzaOne
Diposting oleh muliawan blog di 00.31 0 komentar
Label: Renungan..., Sekilat Info




