Selingan diwaktu Diklat, saya sempatkan membuka emailku dan ada sebuah article yang menarik. Langsung aja saya share articlenya sbb....
Why do we read Quraan, even if we can ' t understand a single Arabic
word ?
This is a beautiful story :
Ini suatu cerita yang indah :
An old American Muslim lived on a farm in the mount ai ns of eastern
Kentucky with his young grandson. Each morning Grandpa wakeup early
sitting at the kitchen table reading his Quran.
Seorang muslim tua asal Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di
daerah pegunungan sebelah timur negara bagian Kentucky dengan cucu
lelakinya yg masih muda. Setiap pagi hari, sang kakek selalu bangun lebih awal dan
membaca Al Quran di meja makan di dapurnya.
His grandson wanted to be just like him and tried to imitate him in
every way he could. One day the grandson asked, "Grandpa! I try to
read the Qur ' an just like you but I don ' t understand it, and what
I do understand I forget as soon as I close the book. What good does
reading the Qur ' an do?"
Cucu lelakinya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba
untuk menirunya dalam cara apapun semampunya. Suatu hari sang cucu
bertanya, " Kakek! Aku mencoba untuk membaca Al Qur'an seperti yang
kakek lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku
lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Al Qur'an?
The Grandfather quietly turned from putting coal in the stove and
replied, "Take this coal basket down to the river and bring me back a
basket of water."
Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di tungku pemanas
sambil berkata , " Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air."
The boy did as he was told, but all the water leaked out before he got
back to the house.
Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi
semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.
The grandfather laughed and said, "You ' ll have to move a little
faster next time," and sent him back to the river with the basket to
try ag ai n. This time the boy ran faster, but ag ai n the bas ket was
empty before he returned home.
Kakek tertawa dan berkata, "L ai n kali kamu harus melakukukannya
lebih cepat lagi," Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sung ai dengan
keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi
tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah.
Out of breath, he told his grandfather that it was impossible to carry
water in a basket, and he went to get a bucket instead. The old man s
ai d, "I don ' t want a bucket of water; I want a basket of water.
Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakeknya bahwa mustahil
membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah bolong , maka
sang cucu mengambil ember sebagai gantinya.
Sang kakek berkata, " Aku tidak mau satu ember air; aku hanya mau
satu keranjang air.
You ' re just not trying hard enough," and he went out the door to
watch the boy try ag ai n. At this point, the boy knew it was impossible, but he wanted to show his grandfather that even if he ran as fast as he could, the water would Leak out before he got back to
the house.
Ayolah, usaha kamu kurang cukup," maka sang kakek pergi ke luar pintu
untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucunya yakin sekali
bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek
nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan
bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.
The boy ag ai n dipped the basket into river and ran hard, but when he
reached his grandfather the basket was ag ai n empty. Out of breathe,
he s ai d, "See Grandpa, it ' s useless!" "So you think it is useless?"
Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari
sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan
kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, "
Lihat Kek, percuma!" " Jadi kamu pikir percuma?"
The old man said, "Look at the basket." The boy looked at the basket
and for the first time realized that the basket was different. It had
been transformed from a dirty old coal basket and was now clean,
inside and out.
Kakek berkata, " Lihatlah keranjangnya. " Sang cucu menurut, melihat
ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa
keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari
keranjang batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam. "
"Son, that ' s what happens when you read the Qur ' an. You mi ght
not understand or remember everything, but when you read it, you will
be changed, inside and out. That is the work of Allah in our lives.
"Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Al Qur'an. Kamu
tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membacanya lagi, kamu akan berubah, didalam dan diluar dirimu .
Selasa, 14 Mei 2013
Mengapa kita membaca AlQuran meskipun kita tidak mengerti satupun artinya ?
Diposting oleh muliawan blog di 23.58 0 komentar
Label: Renungan...
Selasa, 12 Juni 2012
[Renungkanlah....] Hidup cuma 1,5 JAM SETARA WAKTU AKHIRAT
Hidup ini sangat singkat,
Kata pepatah jawa "urip mung mampir ngombe" hidup cuma mampir buat minum aja.
Al Quran mengatakan secara implisit bahwa satu hari di akhirat rasanya bagaikan seribu tahun di dunia.
(QS 22:47, 32:5)
Bukankah ini kaidah teori relativitas?
Laron berpikir telah hidup lama, buktinya sudah mengelilingi ruangan rumah, namun jika cicak melihatnya maka umur laron hanya semalam saja.
Cicak pikir umurnya juga telah lama, namun jika dilihat oleh kucing maka umurnya sebentar saja.
Kucing pikir ia telah berumur panjang, namun apakah sama jika kuda yg melihatnya?
Begitu pula kuda jika dilihat oleh manusia maka umur kuda hanya singkat saja.
Bagaimana dengan manusia? Siapa yg melihat umur manusia?
Mari kita lihat berdasarkan Al Quran sebagai sumber kebenaran absolut.
1 hari akhirat = 1000 tahun
24jam akhirat = 1000 tahun
3jam akhirat = 125 tahun
1,5jam akhirat = 62,5 tahun
Umur manusia rata-rata 60 - 70 tahun. Jadi hidup manusia ini jika dilihat dari langit hanyalah 1,5 jam saja.
Pantaslah kita selalu diingatkan masalah waktu.
Hanya satu setengah jam saja. Menentukan kehidupan abadi kita kelak, hendak surga atau neraka. (QS 35:15 , 4:170)
Cuma satu setengah jam saja cobaan, maka bersabarlah
(QS 74:7,52:48,39:10)
Satu setengah jam saja coba buat Allah senang dan hentikan buat setan senang. (QS 43:36)
Cuma satu setengah jam saja mencoba menahan nafsu dan ganti dengan SUNNAH-NYA.
(QS 12:53, 33:38)
SATU SETENGAH JAM...
sebuah perjuangan teramat singkat, dan Allah ganti dengan surga Ridha Allah...
(QS 9:72, 98:8 ,4:114)
Selamat berjuang LAGI..
Mencari bekal perjalanan panjang nanti...
(QS 59:18,42:20, 3:148, 28:77)
QS 23:114
Allah berfirman: 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui'
Jadi, masih mau milih yang HARAM, baik DZAT-nya dan/ CARA-nya mempeeroleh DZAT itu (kasih keluarga dengan makanan TIDAK HALAL dari uang ribawi, nyogok, terima suap, korupsi, pake narkoba, mencuri, berBOHONG, dll. dll.) diwaktu hanya 1,5 JAM SETARA WAKTU AKHIRAT ini..? Buat aku: NO, WAY..! RUGI BANGET-BANGET..!
Semoga kalian semua, para sahabat, peduli... (Dan tidak gampang or sering nyebut darurat... Belum bisa sekolahkan anak ke LN bukanlah kondisi darurat. Kalo sudah tidak ada makanan yang bisa dimakan di rumah, itu baru darurat! Tetapi bukan alasan untuk mencuri karena masih bisa minta tolong sesudah ikhtiar mentok... Karena darurat adalah kondisi yang membahayakan jiwa/nyawa..., yang lain-lainnya mah biasa-biasa saja...)
Mahabenar Allah SWT atas segala firman-Nya.
Wass
Bambang S. Irawan
Diposting oleh muliawan blog di 19.59 0 komentar
Label: Renungan...
Tauhid – Mengesakan Allah – Tuhan itu Satu!
Seorang Muslim wajib beriman atau mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Sebagaimana TV, Mobil, Kulkas, dan lain-lain yang tidak mungkin terjadi dengan sendirinya tanpa ada pembuatnya, begitu pula langit, bumi, bintang, matahari, manusia, dan lain-lain. Tentu ada yang membuatnya, yaitu Allah!
Diposting oleh muliawan blog di 19.43 0 komentar
Label: Renungan..., Sekilat Info
Biar Sedikit Tapi Halal
Dalam suatu perjalanan dakwah ke suatu daerah, saya dijemput ke bandara dan diantar ke beberapa tempat acara menggunakan mobil panitia dari salah satu perguruan tinggi swasta.
Dalam suatu kesempatan, saya sempat berbincang dengan sopir kampus yang tampak masih muda. Badannya tinggi tegap, sikapnya sopan dan ramah.
“Sudah berkeluarga, Dik?” sapa saya.
“Sudah, Pak. Alhamdulillah sudah punya dua anak,“ ujarnya.
Walaupun dia membawa mobil agak cepat, tetapi tetap penuh waspada. Dia tidak pernah menyalip mobil lain secara sembarangan. Memastikan lebih dahulu bahwa jalur yang berlawanan kosong.
Saya kembali bertanya untuk sekadar ingin tahu apakah dia sudah lama bekerja di kampus itu. “Belum, Pak, baru dua tahun,“ jawabnya singkat sambil tetap konsentrasi.
“Sebelumnya kerja di mana?” selidik saya.
“Saya bekerja di sebuah kota pelabuhan di Jawa, Pak. Kerja dengan paman, mengisi bahan bakar untuk kapal-kapal barang. Penghasilannya besar Pak, tapi...” ujarnya seakan ragu untuk melanjutkan.
Saya jadi penasaran, ingin tahu mengapa dia meninggal kan pekerjaan yang penghasilannya besar itu. Padahal saya tahu, jadi sopir kampus yang tidak besar, paling tinggi gajinya sedikit di atas UMR.
“Uangnya banyak Pak, tetapi tidak halal. Paman saya suka kongkalikong dengan kapten kapal,” ujarnya.
Ia akhirnya bercerita soal pekerjaannya. Menurut dia, bahan bakar yang diisikan tidak sebanyak yang ditulis di faktur. Selisihnya banyak. Sebagai petugas pengisian, dia tahu permainan itu. Sudah tentu, dia akan dapat bagian setiap pengisian selesai. Bahkan, jumlahnya bisa mencapai jutaan rupiah.
Namun demikian, dengan penghasilan yang sangat besar itu, dia tidak tenang. Hidupnya selalu dihinggapi perasaan bersalah. Dia gelisah. Dia pun menanyakan soal itu kepada pamannya dan sang paman mengakui bahwa itu tidak ha lal.
Untuk membersihkan uang itu, sang paman mencoba bersedekah. “Uang haram tidak bisa dibersihkan dengan uang haram juga,” kata saya mengingatkan.
Nabi Muhammad SAW menyatakan, yang kotor tidak bisa membersihkan yang kotor. Sopir muda itu membenarkan ucapan saya.
“Memang Pak, saya juga meyakini demikian. Tetapi, paman saya yakin sekali dosa-dosanya menipu pemilik kapal akan diampuni dengan banyak menyumbang. Bahkan Pak, tahun lalu paman saya bangun masjid sendiri di kampung dengan uang haram itu.“
Akhirnya, setelah mengetahui semua itu, sopir muda ini pun meninggalkan pekerjaan-nya. Ia tidak ingin perbuatan itu terus berlangsung dan menipu orang. Ia pun sudah mencoba beberapa pekerjaan, namun belum berhasil sehingga dia sementara bekerja sebagai sopir.
“Sekalipun gajinya kecil, tetapikan halal Pak. Sedikit tetapi membawa ketenangan, dan berkah,“ ujarnya.
Hebatnya lagi, walau dengan gaji kecil, tapi keluarganya menerimanya. Demikian juga istri dan anak-anaknya. “Alhamdulillah, istri saya sependapat dengan saya, biarlah kita hidup sederhana sekali, tetapi hati tenang, anak-anak juga dihidupi dengan rezeki yang halal.”
Saat ini, yang menjadi pikirannya adalah sang paman. Ia ingin pamannya bertobat dan menyadari kekeliruannya.
“Semoga paman segera mendapatkan hidayah,” harapnya.
(euforzaOne)
Diposting oleh muliawan blog di 19.35 0 komentar
Label: Renungan..., Sekilat Info
Marilah KIta Bersedekah Dijalan Allah
Sedekah di Jalan Allah
Sesungguhnya Allah memerintahkan kita untuk bersedekah di jalan Allah:
“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” [Al Baqarah 195]
Allah menjanjikan jalan yang mudah/surga bagi orang yang memberikan hartanya di jalan Allah:
“Allah Ta’ala berfirman, ”Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertaqwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik syurga maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah “. [Al Lail 5-8]
Sesungguhnya orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah mendapat balasan berlipat ganda:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [Al Baqarah 261]
“Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [At Taubah 121]
Orang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya lebih tinggi derajadnya daripada orang yang duduk/diam saja:
“Yaitu kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” [Ash Shaff 11]
“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar” [An Nisaa' 95]
Tanpa bersedekah, kita tidak akan mendapat pahala:
“Kamu sekalian tidak akan memperoleh kebaikan (pahala), kecuali menafkahkan (memberikan) apa yang kalian cintai” [Ali Imran 92]
”Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” ” [Al Baqarah 276]
Di antara rahasia dan keutamaan orang yang rajin bersedekah, yaitu sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis,
“Orang yang pemurah itu dekat dari Allah, dekat dari manusia, dekat dari surga dan jauh dari neraka. Adapun orang yang kikir, maka jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat kepada neraka (siksaan Allah). ” (H.R. Tirmidzi clan Baihaqi)
“Sesungguhnya shadaqah itu dapat memadamkan murka Allah dan dapat menolak cara mati yang buruk. ” (H.R. Tirmidzi, lbnu Hibban, lbnu ‘Adi, clan Baihaqi)
Hadits di atas cukup jelas menggambarkan keutamaan sedekah. Jika kita tidak sedekah, Allah bisa murka kepada kita dan kita bisa mati dalam keadaan su’ul khotimah atau masuk neraka. Padahal kita ingin mati dalam keadaan husnul khotimah bukan?
Dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad Saw bersabda, “setiap hari, dua malaikat turun ke bumi. salah seorang dari mereka berkata, ‘ya Allah, gantilah harta orang yang bersedekah di jalan-Mu’. sedangkan yang satunya lagi berkata, ‘ya Allah, binasakanlah harta orang yang menahan hartanya untuk disedekahkan’.”
Rajinlah bersedekah sehingga di akhirat tidak termasuk orang yang menyesal karena dimasukkan ke neraka akibat tidak bersedekah:
“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan” [Ibrahim 31]
“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah di jalan Allah sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” [Al Baqarah 254]
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?” [Al-Munafiqun 10]
Hendaknya kita bersedekah dengan harta yang kita cintai. Bukan yang memang tidak kita ingini:
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah di jalan allah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [Al Baqarah 267]
“Bentengi Hartamu dengan Zakat, Obat Orang Sakit dari Kalanganmu dengan Sedekah dan Persiapkan Do’a untuk Menghadapi Datangnya Bencana”. (HR. Tabrani).
Jika kita atau saudara kita menderita penyakit yang parah atau tak kunjung sembuh seperti kanker atau lainnya, coba obati penyakit kita dengan Sedekah. Kita tahu bahwa yang Maha Menyembuhkan adalah Allah. Obat sebagus apa pun dan dokter sehebat apa pun tidak akan bisa menyembuhkan penyakit kita jika tidak diizinkan oleh Allah. Hanya Allah yang bisa menyembuhkan kita:
“Dan apabila aku sakit, Dialah Allah Yang menyembuhkan aku” [Asy Syu'araa' 80]
Oleh karena itu dengan bersedekah, semoga penyakit kita disembuhkan oleh Allah.
Kita mengira dengan memberi fakir miskin uang Rp 1.000 atau Rp 2.000 kita sudah bersedekah. Padahal jika kita diberi uang sebesar itu, kita tentu enggan mengambilnya bukan? Itulah maksud ayat di atas.
Islam tidak akan tegak/berjaya jika ummat Islam yang mampu/berkelebihan hanya menyumbang receh. Nanti di bawah kita akan ketahui bagaimana Abu Bakar bahkan rela menyumbang seluruh hartanya untuk kejayaan Islam.
Janganlah kikir/pelit karena takut miskin. Jarang ada orang yang miskin karena rajin bersedekah:
“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. ” [Al Baqarah 268]
Untuk siapakah kita bersedekah?
Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. ” [Al Baqarah 215]
Seperti halnya zakat, sedekah tidak terbatas hanya untuk fakir miskin saja, tapi juga terhadap orang yang berjuang di jalan Allah seperti berdakwah atau para mujahidin yang berperang:
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [At-Taubah 60]
Kenapa Islam dulu berjaya? Mengapa Islam dulu mampu bukan hanya menahan kaum kafir, Yahudi, tentara Romawi dan Persia, tapi bahkan menaklukkan mereka?
Karena para aghniya / orang-orang kaya rajin bersedekah untuk perjuangan Islam. Saat perang Tabuk di mana 30 ribu pasukan Muslim harus berperang dengan 200 ribu pasukan Romawi, orang-orang kaya berlomba menginfakkan hartanya untuk mendukung perjuangan. Usman menyumbang sepertiga hartanya sehingga bisa membiayai 1/3 pasukan berikut onta dan kuda. Umar menyumbang separuh hartanya. Sementara Abu Bakar menyumbang seluruh hartanya. Yang lain ada yang menyumbang ribuan kilo makanan sementara yang kurang mampu pun menyumbang beberapa kepal makanan.
Dengan cara itu, maka puluhan ribu orang yang miskin juga bisa turut berperang sehingga ummat Islam jadi lebih kuat. Bayangkan jika yang bisa perang hanya beberapa ribu orang kaya saja sementara puluhan ribu orang miskin tak bisa perang, tentu jadi lemah dan mudah dikalahkan.
Sedekah juga digunakan untuk memperkuat dakwah dan persenjataan ummat Islam:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). “ [Al Anfaal 60]
Dengan kekuatan tentara dan persenjataan ummat Islam yang didukung oleh jihad dengan jiwa dan harta, maka 200 ribu pasukan Romawi begitu gentar hingga tidak berani menampakkan dirinya di kota Tabuk untuk melawan 30 ribu pasukan Muslim yang berdiam hingga 20 malam di sana.
Sekarang banyak tokoh/aghniya Islam yang menghabiskan uangnya untuk bermewah-mewah seperti Qarun atau orang-orang yang dikutuk Allah dalam surat At Takatsuur. Ketimbang membeli persenjataan atau media dakwah ummat Islam (media cetak, radio, TV, dsb), mereka memilih menghabiskan uangnya untuk rumah dan mobil mewah seperti Alphard, Mercy, dsb. Tak heran jika TV2 sekarang akhirnya membuat ummat Islam jauh dari agamanya dan rusak moralnya. Tidak aneh pula jika orang-orang kafir dari AS dan Eropa dengan mudah menyerang dan menduduki negara-negara Islam seperti Iraq, Afghanistan, Libya, dan sebagainya.
Banyak orang yang naik haji atau umrah berkali-kali. Padahal yang wajib hanya sekali. Ada pun setelah itu, maka menggunakan hartanya untuk berjihad di jalan Allah atau membantu orang yang berjihad justru lebih utama dan lebih besar pahalanya:
“Amal apa yang utama?”. Maka Nabi SAW menjawab : “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya”. Penanya berkata : “Kemudian apa?” Nabi SAW berkata : “Jihad di jalan Allah”. Beliau ditanya lagi: “Kemudian apa?” Nabi SAW menjawab : ‘Haji mabrur”. [EuforzaOne]
Wassalamua'alaikum,
http://media-islam.or.id/2010/04/27/sedekah-di-jalan-allah
Diposting oleh muliawan blog di 18.01 0 komentar
Label: Renungan..., Sekilat Info
Minggu, 27 Mei 2012
Merasakan Manisnya Perjuangan dengan Tiga Amalan
Pertama, ikhlas dalam beramal. Ikhlas adalah amalan hati, yang hanya Allah yang mengetahuinya. Apabila amal yang kita lakukan ikhlas semata-mata karena Allah, maka sepenuhnya ibadah kita diterima Allah Swt. Nabi Saw. pernah bersabda: “Murnikanlah agamamu, niscaya cukup bagimu amal yang sedikit.”
Sahl bin Abdullah pernah ditanya, “Apakah sesuatu yang paling berat bagi jiwa?” Dia menjawab, “Ikhlas. Sebab ikhlas itu jiwa tidak mendapat bagian apa-apa.”
Seorang ulama bernama Ma’ruf Al Khurkhy pernah memukuli badannya sambil berkata, “Ikhlaslah dan berusahalah untuk ikhlas.” Sampai-sampai Ibnu Qudamah mengatakan, “Siapa yang bisa menjadikan sesaat saja dari umurnya tulus ikhlas karena mengharapkan wajah Allah, maka dia telah selamat.”
Yang demikian ini karena mulianya ikhlas. Sementara cukup sulit membersihkan hati dari berbagai noda.
Kedua, berpuasa. Puasa tentu bukan sekedar tidak makan dan minum dari subuh sampai maghrib, walaupun hal itu merupakan kewajiban yang harus kita lakukan, tetapi lebih dari itu. Berpuasa juga melatih kesabaran dari berbuat maksiat dan melakukan hal-hal yang sia-sia. Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan palsu dan pengamalannya, maka Allah tidak mempunyai keperluan untuk meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya).”
Menurut Imam Ibnu Qudamah, kelebihan puasa bisa dilihat dalam dua makna berikut:
1. Karena puasa termasuk amal yang tersembunyi dan amal batin yang tidak bisa dilihat orang lain, sehingga tidak mudah disusupi riya.
1. Sebagai cara untuk menundukkan musuh Allah. Karena sarana yang dipergunakan musuh Allah adalah syahwat. Syahwat bisa menjadi kuat karena makanan dan minuman. Selagi lahan syahwat tetap subur, maka syetan bisa bebas berkeliaran di tempat gembalaan yang subur itu. Tapi jika syahwat ditinggalkan, maka jalan ke sana juga menjadi sempit. Jadi, dengan berpuasa seolah-olah kita tengah berhadapan langsung dan bertarung sengit melawan syetan.
Dengan berpuasa, kita dapat merasakan penderitaan orang-orang yang kelaparan, orang-orang yang kehausan, dan perjuangan Nabi SAW yang terpaksa mengganjal perutnya dengan batu dan makan daun-daunan karena boikot yang dijalankan kafir Quraisy terhadap dirinya dan keluarganya.
Ketiga, shalat tahajud. Shalat tahajud disebut-sebut sebagai shalat sunat yang paling utama dibanding shalat sunat yang lain. Hal ini terjadi, karena waktunya cukup istimewa, yaitu di sepertiga malam, yang mana kebanyakan orang pada waktu itu sedang nyenyak-nyenyaknya berisitirahat. Imam Hasan Al Bashri mengatakan tentang hal ini: “Saya tidak mendapatkan sedikitpun dari ibadah yang lebih berat daripada shalat ditengah malam.”
Demikian sahabatku. Tiga amalan itulah yang menjadikan kita merasakan manisnya perjuangan. Ikhlas mewakili ibadah hati, puasa mewakili sebuah bentuk perlawanan terhadap setan dan bagaimana dalam waktu setengah hari, hawa nafsu yang berada pada perut, kemaluan dan indera pada diri kita ditekan sedemikian rupa sehingga seolah-olah tidak bersuara. Ini jelas-jelas sangat bertolak belakang dengan keinginan dari hawa nafsu itu sendiri. Sedangkan shalat tahajud mewakili ibadah yang ditempatkan pada waktu di mana kebanyakan orang malas mengerjakannya. (EuforzaOne)
http://abu-farras.blogspot.com/2012/05/merasakan-manisnya-perjuangan-dengan.html
Diposting oleh muliawan blog di 18.09 0 komentar
Label: Renungan..., Sekilat Info
WAKTU
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Berbicara mengenai "waktu" mengingatkan penulis kepada
ungkapan Malik Bin Nabi dalam bukunya Syuruth An-Nahdhah
(Syarat-syarat Kebangkitan) [*] saat ia memulai uraiannya
dengan mengutip satu ungkapan yang dinilai oleh sebagian ulama
sebagai hadis Nabi Saw.:
Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru.
"Putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang
menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak
akan kembali lagi sampai hari kiamat."
Kemudian, tulis Malik Bin Nabi lebih lanjut:
Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru
sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota, dan desa,
membangkitkan semangat atau meninabobokan manusia. Ia
diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak
menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya,
walaupun segala sesuatu --selain Tuhan-- tidak akan
mampu melepaskan diri darinya.
Sedemikian besar peranan waktu, sehingga Allah Swt.
berkali-kali bersumpah dengan menggunakan berbagai kata yang
menunjuk pada waktu-waktu tertentu seperti wa Al-Lail (demi
Malam), wa An-Nahar (demi Siang), wa As-Subhi, wa AL-Fajr, dan
lain-lain.
APA YANG DIMAKSUD DENGAN WAKTU?
Dalam Kamus Besar Bahasa indonesia paling tidak terdapat empat
arti kata "waktu": (1) seluruh rangkaian saat, yang telah
berlalu, sekarang, dan yang akan datang; (2) saat tertentu
untuk menyelesaikan sesuatu; (3) kesempatan, tempo, atau
peluang; (4) ketika, atau saat terjadinya sesuatu.
Al-Quran menggunakan beberapa kata untuk menunjukkan
makna-makna di atas, seperti:
a. Ajal, untuk menunjukkan waktu berakhirnya sesuatu, seperti
berakhirnya usia manusia atau masyarakat.
Setiap umat mempunyai batas waktu berakhirnya usia (QS
Yunus [10]: 49)
Demikian juga berakhirnya kontrak perjanjian kerja antara Nabi
Syuaib dan Nabi Musa, Al-Quran mengatakan:
Dia berkata, "Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu.
Mana saja dan kedua waktu yang ditentukan itu aku
sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas
diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas yang kita
ucapkan" (QS Al-Qashash [28]: 28).
b. Dahr digunakan untuk saat berkepanjangan yang dilalui alam
raya dalam kehidupan dunia ini, yaitu sejak diciptakan-Nya
sampai punahnya alam sementara ini.
Bukankah telah pernah datang (terjadi) kepada manusia
satu dahr (waktu) sedangkan ia ketika itu belum
merupakan sesuatu yang dapat disebut (karena belum ada
di alam ini?) (QS Al-insan [76]: 1).
Dan mereka berkata, "Kehidupan ini tidak lain saat kita
berada di dunia, kita mati dan kita hidup, dan tidak
ada yang membinasakan (mematikan) kita kecuali dahr
(perjalanan waktu yang dilalui oleh alam)" (QS
Al-Jatsiyah [45]: 24).
c. Waqt digunakan dalam arti batas akhir kesempatan atau
peluang untuk menyelesaikan suatu peristiwa. Karena itu,
sering kali Al-Quran menggunakannya dalam konteks kadar
tertentu dari satu masa.
Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban kepada
orang-orang Mukmin yang tertentu waktu-waktunya (QS
Al-Nisa' [4]: 103) .
d. 'Ashr, kata ini biasa diartikan "waktu menjelang
terbenammya matahari", tetapi juga dapat diartikan sebagai
"masa" secara mutlak. Makna terakhir ini diambil berdasarkan
asumsi bahwa 'ashr merupakan hal yang terpenting dalam
kehidupan manusia. Kata 'ashr sendiri bermakna "perasan",
seakan-akan masa harus digunakan oleh manusia untuk memeras
pikiran dan keringatnya, dan hal ini hendaknya dilakukan kapan
saja sepanjang masa.
Dari kata-kata di atas, dapat ditarik beberapa kesan tentang
pandangan Al-Quran mengenai waktu (dalam pengertian-pengertian
bahasa indonesia), yaitu:
a. Kata ajal memberi kesan bahwa segala sesuatu ada
batas waktu berakhirnya, sehingga tidak ada yang
langgeng dan abadi kecuali Allah Swt. sendiri.
b. Kata dahr memberi kesan bahwa segala sesuatu pernah
tiada, dan bahwa keberadaannya menjadikan ia terikat
oleh waktu (dahr).
c. Kata waqt digunakan dalam konteks yang berbeda-beda,
dan diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan
untuk menyelesaikan pekerjaan. Arti ini tecermin dari
waktu-waktu shalat yang memberi kesan tentang keharusan
adanya pembagian teknis mengenai masa yang dialami
(seperti detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun,
dan seterusnya), dan sekaligus keharusan untuk
menyelesaikan pekerjaan dalam waktu-waktu tersebut, dan
bukannya membiarkannya berlalu hampa.
d. Kata 'ashr memberi kesan bahwa saat-saat yang
dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja memeras
keringat dan pikiran.
Demikianlah arti dan kesan-kesan yang diperoleh dari akar
serta penggunaan kata yang berarti "waktu" dalam berbagai
makna.
RELATIVITAS WAKTU
Manusia tidak dapat melepaskan diri dari waktu dan tempat.
Mereka mengenal masa lalu, kini, dan masa depan. Pengenalan
manusia tentang waktu berkaitan dengan pengalaman empiris dan
lingkungan. Kesadaran kita tentang waktu berhubungan dengan
bulan dan matahari, baik dari segi perjalanannya (malam saat
terbenam dan siang saat terbitnya) maupun kenyataan bahwa
sehari sama dengan sekali terbit sampai terbenamnya matahari,
atau sejak tengah malam hingga tengah malam berikutnya.
Perhitungan semacam ini telah menjadi kesepakatan bersama.
Namun harus digarisbawahi bahwa walaupun hal itu diperkenalkan
dan diakui oleh Al-Quran (seperti setahun sama dengan dua
belas bulan pada surat At-Taubah ayat 36), Al-Quran juga
memperkenalkan adanya relativitas waktu, baik yang berkaitan
dengan dimensi ruang, keadaan, maupun pelaku.
Waktu yang dialami manusia di dunia berbeda dengan waktu yang
dialaminya kelak di hari kemudian. Ini disebabkan dimensi
kehidupan akhirat berbeda dengan dimensi kehidupan duniawi.
Di dalam surat Al-Kahfi [18]: 19 dinyatakan:
Dan berkata salah seorang dan mereka, "Berapa tahunkah
lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami
tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari ..."
Ashhabul-Kahfi yang ditidurkan Allah selama tiga ratus tahun
lebih, menduga bahwa mereka hanya berada di dalam gua selama
sehari atau kurang,
Mereka berkata, "Kami berada (di sini) sehari atau
setengah hari." (QS Al-Kahf [18]: 19).
Ini karena mereka ketika itu sedang ditidurkan oleh Allah,
sehingga walaupun mereka berada dalam ruang yang sama dan
dalam rentang waktu yang panjang, mereka hanya merasakan
beberapa saat saja.
Allah Swt. berada di luar batas-batas waktu. Karena itu, dalam
Al-Quran ditemukan kata kerja bentuk masa lampau (past
tense/madhi) yang digunakan-Nya untuk suatu peristiwa mengenai
masa depan. Allah Swt. berfirman:
Telah datang ketetapan Allah (hari kiamat), maka
janganlah kamu meminta agar disegerakan datangnya ...
(QS Al-Nahl [16]: 1).
Bentuk kalimat semacam ini dapat membingungkan para pembaca
mengenai makna yang dikandungnya, karena bagi kita, kiamat
belum datang. Tetapi di sisi lain jika memang telah datang
seperti bunyi ayat, mengapa pada ayat tersebut dilarang
meminta disegerakan kedatangannya? Kebingungan itu insya Allah
akan sirna, jika disadari bahwa Allah berada di luar dimensi
waktu. Sehingga bagi-Nya, masa lalu, kini, dan masa yang akan
datang sama saja. Dari sini dan dari sekian ayat yang lain
sebagian pakar tafsir menetapkan adanya relativitas waktu.
Ketika Al-Quran berbicara tentang waktu yang ditempuh oleh
malaikat menuju hadirat-Nya, salah satu ayat Al-Quran
menyatakan perbandingan waktu dalam sehari kadarnya sama
dengan lima puluh ribu tahun bagi makhluk lain (manusia).
Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada
Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun
(QS Al-Ma'arij [70]: 4).
Sedangkan dalam ayat lain disebutkan bahwa masa yang ditempuh
oleh para malaikat tertentu untuk naik ke sisi-Nya adalah
seribu tahun menurut perhitungan manusia:
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian
(urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang
kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (QS
Al-Sajdah [32]: 5).
Ini berarti bahwa perbedaan sistem gerak yang dilakukan oleh
satu pelaku mengakibatkan perbedaan waktu yang dibutuhkan
untuk mencapai suatu sasaran. Batu, suara, dan cahaya
masing-masing membutuhkan waktu yang berbeda untuk mencapai
sasaran yang sama. Kenyataan ini pada akhirnya mengantarkan
kita kepada keyakinan bahwa ada sesuatu yang tidak membutuhkan
waktu demi mencapai hal yang dikehendakinya. Sesuatu itu
adalah Allah Swt.
Dan perintah Kami hanyalah satu (perkataan) seperti
kejapan mata (QS Al-Qamar [54] 50).
"Kejapan mata" dalam firman di atas tidak boleh dipahami dalam
pengertian dimensi manusia, karena Allah berada di luar
dimensi tersebut, dan karena Dia juga telah menegaskan bahwa:
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki
sesuatu hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah!", maka
terjadilah ia (QS Ya Sin [36]: 82)
Ini pun bukan berarti bahwa untuk mewujudkan sesuatu, Allah
membutuhkan kata kun, sebagaimana tidak berarti bahwa ciptaan
Allah terjadi seketika tanpa suatu proses. Ayat-ayat di atas
hanya ingin menyebutkan bahwa Allah Swt. berada di luar
dimensi ruang dan waktu.
Dari sini, kata hari, bulan, atau tahun tidak boleh dipahami
secara mutlak seperti pemahaman populer dewasa ini. "Allah
menciptakan alam raya selama enam hari", tidak harus dipahami
sebagai enam kali dua puluh empat jam. Bahkan boleh jadi kata
"tahun" dalam Al-Quran tidak berarti 365 hari --walaupun kata
yaum dalam Al-Quran yang berarti hari hanya terulang 365
kali-- karena umat manusia berbeda dalam menetapkan jumlah
hari dalam setahun. Perbedaan ini bukan saja karena penggunaan
perhitungan perjalanan bulan atau matahari, tetapi karena umat
manusia mengenal pula perhitungan yang lain. Sebagian ulama
menyatakan bahwa firman Allah yang menerangkan bahwa Nabi Nuh
a.s. hidup di tengah-tengah kaumnya selama 950 tahun (QS 29:
14), tidak harus dipahami dalam konteks perhitungan Syamsiah
atau Qamariah. Karena umat manusia pernah mengenal perhitungan
tahun berdasarkan musim (panas, dingin, gugur, dan semi)
sehingga setahun perhitungan kita yang menggunakan ukuran
perjalanan matahari, sama dengan empat tahun dalam perhitungan
musim. Kalau pendapat ini dapat diterima, maka keberadaan Nabi
Nuh a.s. di tengah-tengah kaumnya boleh jadi hanya sekitar 230
tahun.
Al-Quran mengisyaratkan perbedaan perhitungan Syamsiah dan
Qamariah melalui ayat yang membicarakan lamanya penghuni gua
(Ashhabul-Kahfi) tertidur.
Sesungguhnya mereka telah tinggal di dalam gua selama
tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (QS
Al-Kahf [18]: 25).
Tiga ratus tahun di tempat itu menurut perhitungan Syamsiah,
sedangkan penambahan sembilan tahun adalah berdasarkan
perhitungan Qamariah. Seperti diketahui, terdapat selisih
sekitar sebelas hari setiap tahun antara perhitungan Qamariah
dan Syamsiah. Jadi selisih sembilan tahun itu adalah sekitar
300 x 11 hari = 3.300 hari, atau sama dengan sembilan tahun.
TUJUAN KEHADIRAN WAKTU
Ketika beberapa orang sahabat Nabi Saw. mengamati keadaan
bulan yang sedikit demi sedikit berubah dari sabit ke purnama,
kemudian kembali menjadi sabit dan kemudian menghilang, mereka
bertanya kepada Nabi, "Mengapa demikian?" Al-Quran pun
menjawab,
Yang demikian itu adalah waktu-waktu untuk manusia dan
untuk menetapkan waktu ibadah haji (QS Al-Baqarah [2]:
189).
Ayat ini antara lain mengisyaratkan bahwa peredaran matahari
dan bulan yang menghasilkan pembagian rinci (seperti
perjalanan dari bulan sabit ke purnama), harus dapat
dimanfaatkan oleh manusia untuk menyelesaikan suatu tugas
(lihat kembali arti waqt [waktu] seperti dikemukakan di atas).
Salah satu tugas yang harus diselesaikan itu adalah ibadah,
yang dalam hal ini dicontohkan dengan ibadah haji, karena
ibadah tersebut mencerminkan seluruh rukun islam.
Keadaan bulan seperti itu juga untuk menyadarkan bahwa
keberadaan manusia di pentas bumi ini, tidak ubahnya seperti
bulan. Awalnya, sebagaimana halnya bulan, pernah tidak tampak
di pentas bumi, kemudian ia lahir, kecil mungil bagai sabit,
dan sedikit demi sedikit membesar sampai dewasa, sempurna umur
bagai purnama. Lalu kembali sedikit demi sedikit menua, sampai
akhirnya hilang dari pentas bumi ini.
Dalam ayat lain dijelaskan bahwa:
Dia (Allah) menjadikan malam dan siang silih berganti
untuk memberi waktu (kesempatan) kepada orang yartg
ingin mengingat (mengambil pelajaran) atau orang yang
ingin bersyukur (QS Al-Furqan [25]: 62).
Mengingat berkaitan dengan masa lampau, dan ini menuntut
introspeksi dan kesadaran menyangkut semua hal yang telah
terjadi, sehingga mengantarkan manusia untuk melakukan
perbaikan dan peningkatan. Sedangkan bersyukur, dalam definisi
agama, adalah "menggunakan segala potensi yang dianugerahkan
Allah sesuai dengan tujuan penganugerahannya," dan ini
menuntut upaya dan kerja keras.
Banyak ayat Al-Quran yang berbicara tentang
peristiwa-peristiwa masa lampau, kemudian diakhiri dengan
pernyataan. "Maka ambillah pelajaran dan peristiwa itu."
Demikian pula ayat-ayat yang menyuruh manusia bekerja untuk
menghadapi masa depan, atau berpikir, dan menilai hal yang
telah dipersiapkannya demi masa depan.
Salah satu ayat yang paling populer mengenai tema ini adalah:
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang
telah diperbuatnya untuk hari esok (QS Al-Hasyr [59]:
18).
Menarik untuk diamati bahwa ayat di atas dimulai dengan
perintah bertakwa dan diakhiri dengan perintah yang sama. Ini
mengisyaratkan bahwa landasan berpikir serta tempat bertolak
untuk mempersiapkan hari esok haruslah ketakwaan, dan hasil
akhir yang diperoleh pun adalah ketakwaan.
Hari esok yang dimaksud oleh ayat ini tidak hanya terbatas
pengertiannya pada hari esok di akhirat kelak, melainkan
termasuk juga hari esok menurut pengertian dimensi waktu yang
kita alami. Kata ghad dalam ayat di atas yang diterjemahkan
dengan esok, ditemukan dalam Al-Quran sebanyak lima kali; tiga
di antaranya secara jelas digunakan dalam konteks hari esok
duniawi, dan dua sisanya dapat mencakup esok (masa depan) baik
yang dekat maupun yang jauh.
MENGISI WAKTU
Al-Quran memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan waktu
semaksimal mungkin, bahkan dituntunnya umat manusia untuk
mengisi seluruh 'ashr (waktu)-nya dengan berbagai amal dengan
mempergunakan semua daya yang dimilikinya. Sebelum menguraikan
lebih jauh tentang hal ini, perlu digarisbawahi bahwa
sementara kita ada yang memahami bahwa waktu hendaknya diisi
dengan beribadah (dalam pengertian sempit). Mereka merujuk
kepada firman Allah dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang
menyatakan, dan memahaminya dalam arti
Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar
mereka beribadah kepada-Ku.
Pemahaman dan penerjemahan ini menimbulkan kerancuan, karena
memahami lam (li) pada li ya'budun dalam arti "agar". Dalam
bahasa Al-Quran, lam tidak selalu berarti demikian, melainkan
juga dapat berarti kesudahannya atau akibatnya. Perhatikan
firman Allah dalam surat Al-Qashash ayat 8 yang menguraikan
dipungutnya Nabi Musa a.s. oleh keluarga Fir'aun.
Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir'aun yang
akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.
Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentaranya
adalah orang-orang yang bersalah (QS Al-Qashash [28]:
8).
Kalau lam pada ayat di atas diterjemahkan "agar", maka ayat
tersebut akan berarti, "Maka dipungutlah ia (Musa) oleh
keiuarga Fir'aun 'agar' ia menjadi musuh dan kesedihan bagi
mereka." Kalimat ini jelas tidak logis, tetapi jika lam
dipahami sebagai akibat atau kesudahan, maka terjemahan di
atas akan berbunyi, "Maka dipungutlah ia (Musa) oleh keluarga
Fir'aun, dan kesudahannya adalah ia menjadi musuh bagi
mereka."
Diposting oleh muliawan blog di 18.05 0 komentar
Label: Renungan..., Sekilat Info
Minggu, 20 Mei 2012
Terima Kasih Cintaku!
Kehidupan rumah tangga begitu sangat indahnya bila kita menghiasi dengan cinta dan kasih sayang. Suami istri saling mengasihi dengan kelembutan, tutur kata yang mesra. Sekali waktu bertengkar karena terkadang pertengkaran dibutuhkan sebagai bentuk dinamika dalam berumah tangga karena begitulah keindahan berumah tangga. Selain dengan menunaikan hak dan kewajiban yang melekat pada ikrar suci perkawinan, dengan memperlakukan dengan istimewa penuh dengan penghargaan, banyak hal yang kita bisa lakukan untuk mensyukuri nikmat Allah, salah satunya dengan menyatakan cinta kita kepada istri. "Dan adapun dengan nikmat dari TuhanMu, maka sampaikanlah(sebut-sebutkanlah)" (QS. Adh-Dhuha : 11).
Memanggil istri dengan sebutkan mesra, "cintaku.." menjadi cara bagaimana kita mensyukuri nikmat dan anugerah Allah yang limpahkan untuk kita sebagai suami. Niat kita melakukan adalah untuk menciptakan suasana mesra melanggengkan ikatan batin dan menjaga keharmonisan pernikahan kita untuk menggapai ridha Allah. Keridhaan Allah terpancar dari wajah dan tutur kata pasangan suami istri yang menimbulkan kesejukan dan ketenteraman di dalam keluarga. Menjaga pernikahan agar tetap harmonis dan mesra merupakan wujud rasa syukur kita kepada Allah. Sebagaimana Sabda Rasulullah, "Menyebut-nyebut nikmat Allah adalah tanda bersyukur, meninggalkannya berarti kufur. Barangsiapa tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, ia tidak mensyukuri nikmat yang banyak. Dan barangsiapa tidak berterima kasih pada manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah. Bersatu adalah rahmat dan bercerai adalah siksa." (HR. Baihaqi).
Sahabatku, yuk..aminkan doa ini agar keluarga kita menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah. "Rabbana hab lanâ min azwâjinâ wa dzurriyyatinâ qurrata a’yunin waj-’alnâ lil-muttaqîna imâmâ." Artinya, Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan: 74). By: Muhamad Agus Syafii
Salam. euforzaOne.
Diposting oleh muliawan blog di 17.32 0 komentar
Label: Renungan...
Selasa, 15 Mei 2012
""RIBA""
Asslamu'alaikum wr. wb.
"Janganlah kamu menjual emas dengan emas ( mata uang ) kecuali sama
jumlahnya serta janganlah melebihkan sebagiannya. Kemudian janganlah
kamu menjual perak dengan perak kecuali sama jumlahnya serta jangan
melebihkan sebagiannya dan janganlah menjualnya dengan cara sebagian
secara tunai dan sebagian yang lain ditangguhkan". ( Hadits Muslim ).
Syarah / Penjelasan :
Praktek Riba harus segera ditinggalkan, karena Allah dan rasul-Nya memerangi praktek ini.
"Maka jika kamu tidak mengerjakan ( meninggalkan sisa riba ), maka
ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu
bertaubat ( dari pengambilan riba ), maka bagimu pokok hartamu; kamu
tidak menganiaya dan tidak ( pula ) dianiaya". ( QS; Al-Baqarah:279 )
Ini menandakan bahwa dosa yang didapat akibat melakukan praktek riba
bukanlah termasuk dosa yang bisa dianggap sepele. Kalau kita masih
melakukan praktek riba apapun bentuknya, misalnya seperti yang didapat
dalam hadits diatas dengan menukarkan emas dengan uang emas dengan
jumlah yang tidak sama ataupun jenis riba lainnya, maka segeralah
tinggalkan riba dan segera bertaubat kepada Allah, selagi kita masih
diberikan kesempatan oleh Allah.
Wallahu a'lam.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Diposting oleh muliawan blog di 00.11 0 komentar
Label: Renungan..., Sekilat Info
Senin, 14 Mei 2012
Marilah KIta Senantiasa Di Jalan Yang Benar!!!!
Ustadz Sayyid Quthb berkata, “Hakikat iman tidak akan terbukti
kesempurnaannya dalam hati seseorang sampai ia menghadapi benturan
dengan orang lain, yang berlawanan dengan imannya. Karena disinilah
seseorang akan melakukan mujahadah sebagaimana orang lain melakukan
mujahadah kepadanya untuk menghalanginya dari keimanan. Di sinilah
cakrawala iman akan tersingkap dan terbuka. Keterbukaan yang tidak
pernah terjadi pada jiwa orang yang tidak merasakan iman.”
Setiap penulis muslim sejati haruslah berpihak kepada Islam dan
kebenarannya, sebagaimana musuh berpihak kepada kekufuran dan
kedustaannya. Ia tidak berdiri ditengah-tengah ketika melakukan
aktivitasnya, tetapi harus berada di front para pembela Islam. Ia tidak
abu-abu dalam bersikap menghadapi musuh. Ia senantiasa tegas dan keras
terhadap musuh, karena musuh dengan sangat jelas sesat dan menyesatkan.
Tidak ada kata lain, ia harus berhadapan dengan mereka untuk
menyelamatkan umat dari kesesatan yang mereka sebarkan. Ini adalah suatu
tindakan yang gagah berani, yang hanya dilakukan oleh mereka yang
merasakan manisnya iman.
Ketika ia menghadapi benturan ini, ia dengan sabar menghadapinya. Ia
tahu jalan yang ditempuhnya pasti penuh rintangan dan tantangan. Ia
harus lebih banyak membaca guna mempersiapkan bekal untuk menghadapi
kepongahan sang musuh. Menulis adalah jihad fisabilillah! Jihad dalam
artian yang sesungguhnya jika ia melakukannya dengan baik.
Ulama seperti Ibnu Hazm telah menulis 400 jilid dalam berbagai bidang
ilmu pengetahuan. Ia telah menjadikan buku-bukunya itu sebagai tameng
dan senjata ketika menghadapi pihak musuh. Dia adalah seorang ulama
terbesar yang pernah dilahirkan di tanah Andalus Spanyol. Seorang Yahudi
bernama Ibnu an-Naghrilah di zaman Ibnu Hazm pernah menghina dan
“menginjak-injak” al-Quran, namun tidak ada yang menegurnya apalagi
menghukumnya. Bahkan pemimpin di negerinya, Badis bin Habus, justru
membela si Yahudi itu. Dengan kemarahan yang menyala-nyala, Ibnu Hazm
kemudian menulis buku berjudul ar-Rad’ ala Ibni an-Naghrilah
al-Yahudi (Bantahan terhadap Ibnu an-Naghrilah si Yahudi).
Ia tidak hanya mengecam si Yahudi itu, tetapi juga para ulama yang
bungkam seribu bahasa ketika menghadapi peristiwa ini. Ia berkata,
“Wahai rakyat Andalus, janganlah kamu membuat diri salah pilih.
Janganlah kamu terpedaya oleh mereka (fuqaha) dan kaum fasik. Mereka
merasa memiliki ilmu fikih, namun merekalah orang yang berpakaian kulit
domba sedangkan hati mereka buas. Mereka menghiasi para kriminalis dan
membantu kefasikan kaum hipokrit.”
Dengan berkata begitu, berarti kini Ibnu Hazm menabuh genderang tanda
bahaya. Ibnu Hayyan, penulis kitab Masalik wa al-Mamalik, berkata
tentang Ibnu Hazm, “Ia membantah ilmu-ilmu orang yang tidak sesuai
dengannya secara mendalam dan tajam, menunjukkan cacat-cacatnya, dan dia
berpegang pada firman Allah,‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu
semuanya pada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya.’ (QS. Ali
Imran [3]: 187).
Ia tidak bersikap lembut dalam mengatakan kritikannya, dan tidak pula
dengan berangsur-angsur, akan tetapi ia menokok seperti batu…lalu
mulailah raja-raja membicarakannya bersama orang-orang yang dekat
dengannya, lalu mengusirnya dari negeri sendiri…”
Dan terbukti, ia kemudian diusir dari negerinya, diasingkan, dan
kekayaannya di sita negara. Keadaannya yang cukup menyedihkannya ini
membuatnya menulis, “…dan tuan tahu bahwa pikiranku goncang, perasaanku
hancur karena jauh dari negeri sendiri, sunyi dari tanah kelahiran,
berubahnya waktu, hukuman sultan, berubahnya para sahabat, buruknya
kondisi, hilangnya masa senang, keluar dari semua harta kekayaan dari
yang kecil sampai yang besar, terputus dari hasil usaha bapak dan nenek
para leluhur, merasa asing dalam negeri, hilang harta dan kehormatan,
pikiran mengambang untuk melindungi keluarga dan anak-anak, rasa putus
asa untuk dapat kembali pada keluarga, dan menunggu nasib baik. Semoga
Allah tidak menjadikanku merintih kecuali hanya kepada-Nya.”
Sekalipun mendapat tikaman yang sangat mematikan, namun hal itu tidak
menyulutkan semangatnya untuk tetap setia dalam agama-Nya. Ia berusaha
tegar dan menjaga kehormatan diri dari mengeluh kecuali kepada-Nya.
Buktinya, setelah kematiannya, karya tulisnya yang cukup banyak itu
dijadikan rujukan penting para ulama sesudahnya. Di antara
karya-karyanya yang banyak dibaca dan ditelaah oleh banyak orang dari
zaman ke zaman adalah, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam (merapikan dasar-dasar
hukum), al-Muhalla (yang terhias), Thauqul Hammamah fil Ulfah wal
Alâf (merpati tentang cinta dan para pecinta), Nuqat al’Arus fi Tawarikh
al-Khulafa’ (silsilah para khalifah), al-Fashal fi al-Milal wa al-Ahwa
wa an-Nihal (tentang perbandingan agama), dan Risalah fi Fadha’il Ahl
al-Andalus (berita keutamaan penduduk negeri Andalus).
Seorang sejarawan dua abad setelah wafatnya berkata, “Dia adalah ulama
Andalus yang paling terkemuka, paling banyak menyampaikan peringatan di
majelis pertemuan para pemimpin dan terhadap pendapat para ulama.”
Demikianlah tentang sebuah pelajaran berharga yang dapat diambil dari
seorang ulama bernama Ibnu Hazm. Seorang penulis sejati hendaknya
bercermin padanya. Sudah semestinya ia harus berada di pihak yang benar
dalam kondisi bagaimana pun. Namun ia harus menyadari bahwa jalan yang
ditempuhnya itu bukanlah jalan yang mudah dan penuh kesenangan. Ia harus
rela meski nyawa dan harta taruhannya, demi sebuah kebenaran yang
tunduk kepada Allah.
Namun dibalik itu semua, bukan tanpa pujian setelahnya. Pujian akan
senantiasa berkumandang untuknya, untuk karya-karyanya. Pemikirannya
menjadi rujukan, keteguhannya dalam bersikap menjadi teladan bagi
generasi selanjutnya. Allah Swt. berfirman:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ
طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ{24} تُؤْتِي
أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ
لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan
kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya
(menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim
dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk
manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim [14]: 24-25).
http://abu-farras.blogspot.com/2012/04/senantiasa-berada-di-pihak-yang-benar.html
Diposting oleh muliawan blog di 23.50 0 komentar
Label: Education, Renungan..., Sekilat Info
Kamis, 10 Mei 2012
HOMOSEKS "GAY/LESBI" Itu HARAM!!!
Assalamu'alaikum wr wb,
Dalam Islam, Homoseks (hubungan seks antara pria dengan sesama pria)
merupakan satu dosa yang besar. Lebih besar ketimbang zina antara lelaki
dengan perempuan. Begitu pula dengan lesbian (zina antara wanita dengan
sesama wanita).
Dalam Al Qur’an Allah melaknat kaum Luth yang melakukan homoseks dan lesbian sehingga menyiksa mereka.
“Dan Kami mengutus Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata
kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang
belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?”
Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (Homoseks),
bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. ”
[Al A'raaf 81-82]
“Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa
kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu
memperlihatkan(nya)?”
“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi nafsumu (homoseks),
bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak
mengetahui (akibat perbuatanmu).”
Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth
beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu
orang-orang yang (menda’wakan dirinya) bersih.”
Maka Kami selamatkan dia beserta keluarganya, kecuali isterinya. Kami
telah mentakdirkan dia termasuk orang-orang yang tertinggal
(dibinasakan). ” [An Naml 54-57]
Hadits riwayat Ibn Abbas : “Siapa saja yang engkau dapatkan mengerjakan
perbuatan homoseksual maka bunuhlah kedua pelakunya”. [ditakhrij oleh
Abu Dawud 4/158 , Ibn Majah 2/856 , At Turmuzi 4/57 dan Darru Quthni
3/124].
Hadits Ibnu Abbas: “Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan
kaum Luth, (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali)” [HR Nasa’i dalam
As-Sunan Al-Kubra IV/322 No. 7337]
Jadi tindakan Ketua Partai Demokrat, Ulil Abshar Abdalla yang mengundang
tokoh Lesbian Irshad Manji untuk mempromosikan Homoseks dan Lesbian di
Indonesia selain bertentangan dengan budaya Indonesia juga melanggar
ajaran Islam.
(EuforzaOne)
Wassalam....
Silahkan baca selengkapnya di:
http://media-islam.or.id/2011/08/14/homoseks-liwath-satu-dosa-besar-menurut-islam
Diposting oleh muliawan blog di 18.34 0 komentar
Label: Education, Renungan..., Sekilat Info
Ketahuilah Bahwa Derita Dapat Menumbuhkan Empati Dan Kasih Sayang
Setiap derita yang menghempas hidup kita adalah sebuah anugerah Allah yang menumbuhkan empati dan kasih sayang di dalam diri kita. Allah berharap kita juga membantu, meguatkan dan menghibur saudara-sadara kita yang tengah terpuruk dan berputus asa dalam menghadapi kehidupan. sosok perempuan yang sederhana, selalu tersenyum namun rapuh Sekian tahun lalu dirinya berpisah dengan suaminya, tidak pernah dia membayangkan pernikahan itu hancur begitu saja tanpa disadari. Suami terpikat dengan perempuan lain. Disaat dirinya tersadar, semua terlambat, palu telah diketuk dan dia menjalani hari-harinya dengan luka perih dihati, hanya putri yang masih kecil ikut bersamanya. Harta, rumah, deposito bahkan mobil dibawa oleh sang suami. Derita itu seolah tak ujung, dengan bercucuran air mata dalam kesendirian harus menjaga putrinya yang tengah terbaring lemah di rumah sakit dan ketika putrinya bertanya, 'Ma, ayah mana? Kok nggak nengok putri?' Kata-kata yang keluar
dari bibir mungil tak mampu dijawabnya, hanya isak tangis yang terdengar. Setelah sepekan menunggu di Rumah Sakit, dirinya menyaksikan bagaimana putri yang dicintainya menghembuskan napas terakhir. Didekap dalam pelukan. Tak kuasa untuk bisa menahan derita bagaimana harus menjalani hidup.
Sejak itu, dia selalu mengurung diri dalam kamar. Tak peduli siang, malam. Hari terus berlalu, yang ada hanyalah mengusap air mata dalam kesendirian, diam membisu dalam doa. 'Ya Allah, dimanakah Engkau? Kenapa Engkau timpakan ini semua kepadaku?' Dua bulan berlalu begitu cepat, wajahnya terlihat lebih kurus, tanpa makan dan hanya sedikit minum. Mukena yang dipakainya sudah terlihat usang. Bibirnya mengering sudah tidak lagi teringat berapa kali istighfar diucapkan. Memohon ampun kepada Allah. Ditengah kondisi tubuhnya melemah, seorang ibu datang menyuapi dirinya dengan bubur ayam. Kata-katanya begitu menguatkan hati, tidak mampu berkata apa-apa, hanya terisak tangis pilu. Pada saat itulah dirinya belajar untuk menerima realitas hidup. Kedatangan dirinya bersama seorang sahabat ke Rumah Amalia untuk bershodaqoh dengan berharap Allah menyembuhkan luka dihatinya.
Dirasakan di dalam hatinya terasa ada kehangatan yang mengalir, memberikan kesejukan dan ketenteraman. Dia tahu, bahwa dirinya tidak sendiri, banyak perempuan yang mengalami seperti dirinya. Dia merasakan luka itu perlahan-lahan sembuh. Berulang kali mengucapkan syukur alhamdulillah, seolah dia mengerti maksud Allah, menjadi lebih mengerti kasih sayang Allah kepada dirinya. Yang manis mampu membuatnya tersenyum, kepahitan tidak lagi mampu membuat hatinya terluka. Dirinya tidak lagi terjebak pada masa lalu dan tidak menyesali apa yang telah terjadi. 'Saya yakin Allah, memberikan yang terbaik bagi setiap hambaNya.' tuturnya sore itu di Rumah Amalia. Wajahnya berbinar penuh senyuman. Kebahagiaan itu hadir di dalam hatinya meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
'Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah sedang dia orang yang berbuat kebaikan maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.' (QS. Luqman : 22).
distributed by: EuforzaOne
Diposting oleh muliawan blog di 00.31 0 komentar
Label: Renungan..., Sekilat Info
Minggu, 25 Juli 2010
Ketika JAHANNAM bertahlil....
يَوْمَ تُبَدَّلُ الأرْضُ غَيْرَ الأرْضِ
وَالسَّمَاوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti
dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya
(di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa
lagi Maha Perkasa. (QS. Ibrahim [14]: 48-52)
Inilah salah
satu ayat yang menggambarkan tentang kedahsyatan hari kiamat sekaligus
menggambarkan kemahakuasaan Allah SWT. Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu katsir,
2/1596) menyebutkan bahwa beberapa saat setelah ayat ini diterima oleh
Rasulullah saw, Aisyah pun mengajukan sebuah pertanyaan yang tidak
pernah didengarkan oleh Rasulullah saw sebelumnya.
Aisyah
bertanya,
“Wahai, Rasulullah, pada hari itu manusia berada dimana?” Mendengar
pertanyaan tersebut, Rasulullah SAW pun bersabda, “Engkau telah
mengajukan sebuah pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan sebelumnya
oleh siapapun dari umatku.” Setelah itu, Rasulullah saw kemudian
melanjutkan jawabannya, “Pada hari itu seluruh manusia berada di atas
sebuah jembatan (Jisr) yang di bawahnya terdapat neraka Jahannam,” (HR.
Ahmad). Pada riwayat lain (Muslim, Tirmidzi dan Ibn Majah) Rasulullah
SAW menyebutkannya dengan kata “ash-Shirat” yang berarti jalan—yang
membentang di atas neraka Jahannam.
Pertanyaan itu ternyata juga
merupakan pertanyaan Rasulullah saw saat Jibril menyampaikan ayat
tersebut kepadanya. Imam Al-Qutrhubi (penulis Tafsir Al-Jami’ li Ahkam
al-Qur’an atau yang dikenal dengan Tafsir al-Qurthubi) dalam bukunya
yang berjudul At-Tadzkirah (2/149) menyebutkan, bahwa ketika Jibril
‘Alaihissalam turun ke hadapan Rasulullah SAW
dengan membawa firman Allah SWT “(Yaitu) pada hari (ketika) bumi
diganti dengan bumi yang lain…dst”, beliau saw bertanya, “Wahai Jibril,
di mana manusia berada pada saat hari kiamat datang?”
Jibril
menjawab, “Muhammad, (pada hari itu) mereka berada di atas tanah yang
berwarna putih. Gunung beterbangan bagaikan kapas yang ditiup,
gunung-gunung meleleh karena takut terhadap neraka Jahannam. Muhammad,
pada hari kiamat, gelombang api berkobar sangat dahsyat, sedang di
atasnya terdapat 70.000 tali kendali, dan pada setiap tali kendali
terdapat 70.000 malaikat. Pada hari itu neraka jahannam berada dalam
kendali Allah SWT. Lalu Allah SWT berkata kepada neraka jahannam, “Wahai
Jahannam, bicaralah!”
Lalu, atas izin dan kehendak-Nya,
Jahannam pun berkata, “Laa ilaaha Illallaah (tiada Tuhan selain Allah)!
Atas keagungan-Mu, kemuliaan-Mu dan kekuasaan-Mu, pada hari ini, aku
akan belas dendam terhadap mereka yang memakan rezeki-Mu
tetapi mereka menyembah makhluk. Pada hari ini, aku tidak akan balas
dendam kepada siapapun kecuali yang Engkau kehendaki; aku tidak akan
mengizinkan siapapun menyeberang di atasku kecuali jika dia memiliki
kartu atau izin dari-Mu.”
Rasulullah SAW kemudian bertanya
(lagi), “Jibril, apa isi surat izinnya? Kartu seperti apakah pada hari
kiamat nanti?” Jibril menjawab, “Beritahukanlah kabar gembira ini, bahwa
sesungguhnya surat dan kartu izin untuk melewati neraka Jahannam adalah
kalimat Laa ilaaha illallaah. Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada
Tuhan—yang pantas disembah di langit dan di bumi—selain Allah, dialah
yang akan selamat ketika melewati jembatan neraka Jahannam.” Mendengar
penjelasan tersebut, Rasulullah saw pun bersabda sambil memuji,
الًحَمْدُ
لِله الَّذِيْ أًلْهَمَ أًمَّتِيْ قَوْلَ لَا إلهَ إلَّا الله
“Segala
puji bagi Allah yang telah mengilhami umatku
dengan ucapan la ilaha ilallah.”
Sekali waktu Nabi Musa
‘Alaihissalam memohon kepada Allah SWT, “Tuhanku, ajarkanlah padaku
sesuatu yang dengannya aku berdzikir dan berdo’a kepada-Mu.” Allah
berfirman, “Katakanlah, wahai Musa, laa ilaaha ilallaah!” Musa kemudian
berkata, “Tuhanku, seluruh hamba-Mu mengucapkan ini?!” Maka Allah SWT
berfirman, “Hai Musa, sekiranya ketujuh lapis langit beserta
isinya—selain Aku—dan ketujuh lapisan bumi berada di satu daun
timbangan, sedangkan Laa ilaaha illallaah di daun timbangan lainnya,
niscaya Laa ilaaha ilallaah masih lebih berat.” (HR. al-Hakim dan Ibnu
Hibban, shahih).
Itulah salah satu keutamaan Laa ilaaha
illallaah, ia menjadi surat izin atau tiket untuk dapat melintasi
jembatan yang membentang di atas kobaran api neraka Jahannam, menuju
surga Allah SWT yang penuh keselamatan dan kenikmatan.
Semoga
Allah SWT menjadikan kita semua
termasuk orang-orang yang selalu berdzikir dan ringan lisan dalam
mengucapkan Laa ilaaha ilallaah hingga akhir hayat, sehingga kita
terbebas dari panasnya api neraka. Amin, amin…Allahumma Amin.
dikutip dari:
Bambu Apus, M. Yusuf Shandy
----------------------------------
MAJLIS AL KAUNY
Jakarta
Diposting oleh muliawan blog di 04.56 1 komentar
Label: Renungan...
Senin, 01 Desember 2008
Bahaya Mata Uang Kertas!!!!
HTI-Press.
Rupiah terus anjlkok hingga menembus 12 ribu rupiah per dollar. Bahkan
Bank Indonesia selaku otoritas moneter yang bertanggungjawab menjaga
kestabilan rupiah mengaku kesulitan menjaga nilai tukar rupiah.
Intervensi pasar yang dilakukan lembaga tersebut tidak membantu
memperkuat nilainya. Berdasarkan data BI cadangan devisa BI per 31
Oktober telah merosot US$ 6,528 miliar atau Rp 71 triliun (dengan kurs
11 ribu) dibandingkan cadangan devisa per akhir September sebesar US$
57,108 miliar.[1]
Peraturan Bank Indonesia Nomor: 10/ 28 /PBI/2008 yang membatasi
transaksi pembelian dollar untuk tujuan spekulasi yang dikeluarkan
beberapa waktu lalu tak banyak menolong.
Indonesia tidak sendirian ditimpa fluktuasi nilai tukar akibat pergerakan capital yang liar pasca meledaknya krisis finasial AS. Seluruh mata uang negara-negara emerging market seperti
krona Islandia, rand Afrika hingga won Korsel mengalami hal serupa. Di
sejumlah negara bahkan penurunannya telah mencapai 80 persen sejak awal tahun. [2]
Fluktuasi nilai rupiah terhadap dollar yang sangat tajam ini tak pelak menjadikan pelaku ekonomi
yang berhubungan dengan ekspor impor menjadi tidak menentu. Bagi
perusahaan termasuk pemerintah yang memiliki utang ke pihak asing
dengan kurs mengambang maka nilai utangnya semakin tinggi. Demikian
pula impor bahan baku produksi, barang modal dan konsumsi semakin
tinggi. Sejumlah industri yang masih bergantung pada bahan impor
terseok-seok. Bahkan di sejumlah daerah sejumlah industri sudah tutup.
Ketidakpastian
juga dialami oleh eksportir. Meski menanggguk untung di tengah
melemahnya rupiah dimana nilai ekpor mereka naik, namun dalam jangka
panjang fluktuasi nilai tukar rupiah tetap saja tidak sehat bagi
perkembangan usaha mereka. Ekspektasi bisnis sulit dipredisi dengan
tepat. Ketika
pendapatan mereka naik tajam akibat pelemahan rupiah maka mereka akan
terdorong meningkatkan investasi untuk meningkatkan skala produksi
dengan harapan keuntungan akan semakin berlipat. Namun ketika nilai
tukar rupiah kembali menguat investasi mereka malah menghasilkan
kerugian.
Akhir Bretton Woods
Persoalan ekonomi akibat tidak stabilnya nilai tukar yang bergerak fluktuatif telah berlangsung sejak sistem moneter yang diterapkan di dunia ini adalah fiat currency, dimana mata uang kertas yang tidak ditopang emas dijadikan sebagai alat tukarnya. Pada era sebelumnya hingga hancurnya Bretton Woods Agreement,
peredaran mata uang masih dikaitkan dengan emas. Pada perjanjian
tersebut ditetapkan bahwa mata uang suatu negara harus ditopang oleh
cadangan dolar, sementara dollar sendiri yang diedarkan oleh AS juga
ditopang oleh emas. Dengan demikian pertumbuhan supply dollar akan ditentukan seberapa besar cadangan emas AS.
Namun
sistem tersebut dibubarkan oleh AS. Pasalnya AS terus mencetak dollar
untuk meningkatkan belanja fiskalnya diantaranya untuk membiayai perang
Vietnam. Defisit anggarannya makin membesar sementara rasio antara supply dollar dan cadangan emasnya terus merosot. Pada periode tersebut stok emas AS merosot dari 20 milar dollar menjadi hanya 9 miliar Dollar. AS kemudian mengalami defisit cadangan emas.[3]
Negara-negara
lain khususnya negara-negara Eropa Barat dan Jepang sebagaimana yang
ditetapkan dalam perjanjian tersebut diwajibkan menjaga cadangan
dollarnya dan menggunakannya sebagai dasar untuk meningkatkan supply mata uang dan kredit di dalam negeri. Padahal semakin hari nilai dollar terus merosot (undervalue) sementara nilai mata uang mereka terus menguat (overvalue). Keadaan ini merugikan mereka sebab nilai ekspor mereka menjadi lebih mahal sehingga pertumbuhan ekonomi mereka merosot.
Akibat
beban tersebut negara-negara Eropa secara massif kemudian menukarkan
cadangan Dollar mereka dengan emas. AS kemudian tidak berdaya
mempertahankan paritas nilai dollar pada emas, sebesar 35
dollar per ons emas. Pada awal 1971, kewajiban dollar telah mencapai
lebih dari 70 miliar dollar sementara cadangan emasnya hanya 12 miliar
Dollar.[4]
Puncaknya
pada tanggal 15 Agustus 1971, secara unilateral dan tanpa berkonsultasi
dengan negara-negara aliansi dan IMF, AS menghentikan berlakunya Bretton Woods Agreement yang telah digagas sejak tahun 1942. Sejak saat itulah emas tidak lagi menjadi backing mata uang dunia. Era tersebut selanjutkan dikenal dengan era mata uang kertas (fiat money) dimana dollar sebagai panglimanya.
Menurut
Syekh Taqiyuddin an-Nabhany, secara politis langkah yang dilakukan oleh
AS untuk menghentikan pengkaitan Dollar dengan emas adalah didorong
oleh keinginan AS untuk memposisikan dollar sebagai standar moneter
internasional hingga menguasai pasar moneter internasional. Oleh karena
itu standar emas kemudian dianggap tidak lagi dapat dipergunakan di
dunia. Standar moneter Bretton Woods
kemudian hancur dan kurs pertukaran mata uang terus berfluktuasi. Dari
sinilah muncul berbagai kesukaran dalam mobilitas barang, uang dan
orang. [5]
Sejak
saat itu mata uang dunia menjadi tidak stabil. Mata uang AS dan seluruh
dunia terus bergolak. Fluktuasi tingkat nilai tukar menjadi sulit untuk
diprediksi bahkan kadangkala bergerak secara ekstrim. Belum lagi
inflasi terus membumbung akibat percetakan mata uang kian tak
terkendali. Suatu keadaan yang sangat meresahkan para pelaku ekonomi.
Inilah diantara konsekuensi yang ditimbulkan oleh mata uang fiat.
Masalah Mata Uang Kertas (Fiat Money)
Secara
sederhana kemunculan uang kertas mulanya adalah sebagai representasi
dari komoditas khsususnya emas. Hal ini dilakukan akibat sulitnya untuk
melakukan transaksi dengan membawa emas khususnya pada barang-barang
yang bernilai tinggi. Orang akan menerima uang representasi tersebut
sebab ada jaminan dari pihak yang mengeluarkan kertas tersebut dalam
hal ini pemerintah bahwa kertas tersebut dapat ditukar emas senilai
dengan yang dinyatakan dalam kertas tersebut. Pemegangnya dapat menukar
uang tersebut kapanpun dan berapapun ia mau. Namun
perlahan-lahan negara justru mengeluarkan kertas jauh lebih banyak dari
emas yang mereka miliki. Akibatnya kertas-kertas tersebut tak lagi
cukup untuk dikonversi dengan emas. Akhirnya masyarakat dipaksa untuk
menggunakan kertas tersebut sebagai alat transaksi.
Dalam sejarah moneter dunia dijumpai bahwa penggunaan mata uang kertas yang tidak ditopang (backed)
oleh komoditas seperti emas menyebabkan sejumlah masalah yang sangat
serius dalam perekonomian. Diantara masalah tersebut adalah:
Pertama, mata uang kertas menyebabkan inflasi yang tinggi. Akibatnya nilai uang terus merosot.
Sebagai
contoh, pada awal abad ke-9, Cina mengedarkan uang kertas—sekaligus
sebagai negara pertama yang menggunakan uang kertas—untuk mengganti
tembaga yang saat itu mengalami kelangkaan. Cina telah
memproduksi mata uang kertas yang sama sekali tidak ditopang oleh emas
atau komoditas lainnya. Namun alih-alih membenahi perekonomiannya, pada
tahun 1051 justru Cina terjerembab pada tingkat inflasi yang sangat
tinggi akibat produksi uang kertas yang terus berlangsung.[6]
Hal yang sama juga terjadi di Inggris tahun 1914 ketika Bank of England
menerbitkan uang kertas yang sama sekali tidak ditopang oleh emas. Uang
tersebut kemudian digunakan untuk membiayai angkatan perang pemerintah.
Pertumbuhan uang (money base) Inggris pada masa perang
tersebut naik hingga 41,2 persen. Dampaknya mudah ditebak. Inflasi
membumbung hingga mencapai 13,5 persen. Kondisi tersebut memaksa
Inggris dan sejumlah negara lainnya kembali pada standar emas (gold exchange rate)
Demikian pula pasca berkecamuknya Perang Dunia I, dunia modern menyaksikan bahaya dari fiat money
yang dikeluarkan tanpa ditopang oleh emas. Beberapa saat sebelum
perang, Bank Sentral Jerman membuat keputusan untuk menghentikan
konvertibilitas mark dengan emas. Uang kertas mark selanjutnya dapat
diterbitkan tanpa batas untuk membiayai angkatan perang Jerman. Akibat
emas tidak dijadikan jangkar (anchor) membuat nilai mata uang
negara tersebut paling rendah di dunia. Pada akhir tahun 1923 harga di
negara tersebut dapat melonjak dua kali lipat hanya dalam hitungan jam.
Harga sepotong roti misalnya bisa mencapai 200 miliar mark. Bahkan
ibu-ibu rumah tangga menjadikan uang kertas mark sebagai kayu bakar
karena nilainya jauh lebih rendah dari kayu bakar itu sendiri!
Indonesia
pun pernah merasakan dampak buruk dari penggunaan mata uang kertas.
Pada tahun 1965 akibat tingginya defisit anggaran pemerintah Indonesia
dan hyperinflasi yang mencapai 635,3 %, pemerintah melalui bank Indonesia melakukan pemotongan nilai uang (sanering)
dari Rp. 1.000,- menjadi Rp.1,-. Kebijakan ini didasarkan pada
Penetapan Presiden No.27 tahun 1965 yang diberlakukan pada tanggal 13
Desember 1965. Bisa dibayangkan kekayaan orang saat itu terpangkas
hampir 1.000 kali lipat (Singgaling dkk, 2004).
Tak
heran jika Robert Mundell (1997) seorang ekonom yang pernah meraih
Nobel, mengatakan bahwa terus membanjirnya uang kertas tanpa didukung
oleh likuiditas akan memicu terjadinya resesi ekonomi. Alasannya hingga
saat ini Bank Sentral AS terus meningkatkan pertumbuhan supply dollar.
Dengan membanjirnya uang kertas dan kredit, maka harga barang dan jasa
(inflasi) akan semakin tinggi dan sangat mungkin suatu saat berubah
menjadi hyperinflasi.
Kedua, legitimasi
mata uang kertas sangat rapuh sebab ia sama sekali tidak disandarkan
pada komoditas yang bernilai seperti emas dan perak. Ia hanya ditopang
oleh undang-undang yang dibuat pemerintahan suatu negara. Jika keadaan
politik dan ekonomi negara tersebut tidak stabil maka tingkat
kepercayaan terhadap mata uangnya juga akan menurun. Para pemilik uang
akan beramai-ramai beralih ke mata uang lain atau komoditas yang
dianggap bernilai sehingga nilai uang tersebut terpuruk.
Sebagai contoh ketika terjadi kegoncangan pasar modal (market crash) yang
mengakibatkan depresi pada tahun 1929, orang-orang di seluruh dunia
mulai menampakkan ketidakpercayaannya terhadap uang kertas sehingga
mereka berlomba-lomba menimbun (hoarding) emas dan
meninggalkan mata uang mereka. Di AS, nilai dolar makin kritis sehingga
Presiden Rosevelt tidak memiliki pilihan kecuali menghentikan produksi
mata uang emas dan memenjarakan orang yang menyimpan emas dan
mengenakan denda dua kali dari emas yang disimpan.[7]
Ketiga, uang
kertas telah menjadi sumber pemasukan peerintah yang paling mudah.
Dengan biaya produksi yang sangat rendah dibanding nilai nominal yang
dikandungnya, mereka dengan mudah mencetak uang-uang kertas (di
sejumlah negara dilakukan oleh Bank sentral). Uang tersebut kemudian
‘dipaksakan’ kepada rakyat untuk diterima sebagai alat tukar. Dengan
menukarkan menukarkan uang tersebut dengan barang dan jasa yang
diproduksi oleh rakyatnya, pemerintah dapat menikmati hasil keringat
rakyatnya dengan mudah. Dengan kata lain mata uang kertas telah menjadi
alat pemerasan negara terhadap rakyatnya. Rakyat kemudian menjadi
korban dengan inflasi yang tinggi.
Penerimaan
pemerintah Argentina misalnya dari pencetakan uang baru pada tahun
1985-1990, diperkirakan mencapai 54 persen dari total pendapatannya. Bahkan
pada tahun 1987 mencapai 86%. Akibatnya nilai peso terus melemah dan
menjadi tidak stabil. Rakyat Argentina kemudian enggan menggunakan peso
dan lebih memilih menggunakan dollar AS yang nilainya dianggap lebih stabil (Abdullah, 2006).
Hal
yang sama juga dirasakan oleh rakyat Afganistan ketika berada di bawah
rezim Rabbani. Pada masa sebelumnya nilai tukar resmi mata uang
Afganistan adalah 50 afgani per dollar AS dengan pecahan terbesar 1.000
afgani. Pada
musim panas 1991 nilai tukar tersebut telah mencapai 1.000 afgani per
dollar. Pemerintah kemudian mengeluarkan pecahan uang baru yang
bernominasi 5.000 afgani dan kemudian 10.000 afgani. Hasilnya setiap
kali mata uang tersebut diterbitkan maka nilai mata uang tersebut terus
melorot. Pada bulan September 1996 ketika Kabul jauh di tangan pasukan
Taliban, mata uang afgani diperdagangkan dengan nilai 17.800 per
dollar. Bahkan di pusat pemerintahan Mazari Sharif—daerah yang dikuasi
oleh Abdul Rasyid Dostum yang berpisah dengan Rabbani pada tahun
1994—nilai afgani mencapai 25.600 per dollar.
Rakyat Pakistan juga menjadi korban dari penggunaan fiat money ini. Pada
tahun 1991-1996 pertumbuhan jumlah uang beredar di negara tersebut
mencapai 10,6 persen. Selama periode tersebut pemerintah Pakistan
diperkirakan memperoleh penerimaan sebesar 97,173 miliar rupee hanya
dari pencetakan uang kertas dan pecahan logam (Abdullah, 2006).
Keempat, penggunaan mata uang kertas menciptakan ketidakadilan dalam kegiatan ekonomi.
Hal
ini dirasakan setelah berakhirnya Bretton Woods, dimana negara-negara
kuat yang memiliki mata uang yang dperdagangkan secara internasional
dengan mudah memperoleh kekayaan negara-negara lain hanya dengan
mencetak uang. Dengan mencetak lembaran-lembaran kertas dengan ukuran
dan gambar dan tanda tertentu, mereka daapt mengambil keutungan
berlipat-lipat dengan membeli apa saja yang nilai barangnya (intrinsic value) jauh lebih tinggi dari uang biaya produksi uang mereka. Mekanisme ini dikenal dengan istilah seignorage uang fiat. Seignorage berarti keuntungan yang diperoleh dalam memproduksi uang akibat perbedaan antara nilai nominal (face-value) suatu mata uang dengan biaya memproduksi uang tersebut (intrinsic value).
Sebagai contoh biaya untuk memproduksi uang kertas 100 dollar adalah 20 sen maka seignorage-nya
sebesar 99.80 dollar. Dengan kata lain setiap kali AS mencetak satu
lembar uang 100 dollar, maka ia akan mendapatkan keuntungan 99,80
dollar. Federal Reserve, bank sentral AS telah menikmati seignorage yang
sangat besar dengan mengeluarkan dollar sejak mata uang tersebut
menjadi cadangan mata uang internasional yang paling dominan. Dollar
memiliki daya beli yang kuat di luar AS sehingga dengan leluasa AS
memanfaatkan kesempatan ini untuk terus mencetak Dollar.[8]
Dengan kemampuan mencetak dollar pemerintah AS dapat membeli dari seluruh dunia apapun yang mereka inginkan.[9]
Sebagai mata uang internasional dollar dapat terus dicetak oleh AS
berapapun yang ia kehendaki untuk membiayai kebijakan fiskalnya
termasuk membiayai politik luar negerinya. Untuk Perak Irak misalnya
sebagaimana yang dinyatakan oleh Joseph E Stiglitz di dalam bukunya The Three Trillion Dollar War nilainya lebih dari 3 triliun dollar.
Barang
dan jasa yang diproduksi oleh negara-negara lain terus mengalir ke
negara tersebut jauh diatas nilai ekspornya. Akibatnya defisit neraca
perdagangan AS bulan Agustus 2008 misalnya telah mencapai lebih dari 66
miliar dollar. Pada bulan Agustus 2008 defisit pemerintah federal telah
mencapai 706,9 miliar dollar. Defisit tersebut kemudian dibayar dengan
utang dalam nominasi dollar. Kini utangnya telah mencapai 10,024 tiliun
dollar.[10]
Di sisi lain negara-negara lain khususnya negara-negara berkembang justru mengalami kerugian yang luar biasa akibat praktek seignorage ini. Salah satu contoh yang paling nyata adalah pembelian minyak oleh AS sebesar
12 juta barrel per hari untuk menutupi defisit produksinya. Sebagian
besar minyak tersebut dibeli dari Arab Saudi dengan hanya mencetak
Dollar baru yang kemudian ditransfer ke rekening pemilik perusahaan
minyak Arab Saudi. Meski Arab Saudi dapat membeli barang lain
dengan lembaran-lembaran dollar tersebut namun pada faktanya tetap saja
biaya yang dikeluarkan untuk melakukan investasi dan penambangan minyak
jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya pembuatan Dollar AS.
Kelima, mata uang kertas telah mendorong gelembung ekonomi yang dapat berujung pada ledakan ekonomi.
Setiap tahunnya AS harus menjual sekitar 1,5 miliar dollar surat utang untuk menutupi defisit anggarannya. Bank-bank sentral asing, korporasi dan individu selanjutnya membeli instrumen utang dari The Fed, Bank sentral AS. Sementara sekuritas berharga (treasury security)
tersebut diciptakan dari sesuatu yang tidak ada. Tidak berlebihan
sejumlah kalangan menyatakan cepat atau lambat dollar pasti mengalami
kebangkrutan.[11]
Bahaya
kerapuhan dollar sebagai mata uang kertas paling kuat saat ini juga
telah diwanti-wanti oleh Samuelson sebagaimana yang ditulis dalam The Washington Post
(17/11/004). Menurutnya pada tahun 2004 saja, investor swasta telah
memborong saham dan obligasi AS. Secara keseluruhan investor asing
telah memegang 13 persen dari total saham AS, 24 persen obligasi korporasi dan 43 persen surat-surat berharga pemerintah AS (treassury securities). Sturuktur
kepemilikan aset tersebut sangat berbahaya. Alasannya, saat ini dunia
telah menerima dollar lebih banyak daripada yang dia inginkan. Jika
terdapat momentum krusial sewaktu-waktu saham-saham dan obligasi
tersebut akan dilepas oleh pemiliknya dan resesi global yang akut akan
terjadi. Orang-orang beramai ramai menjual dollar dan beralih ke mata
uang kuat lainnya seperti Euro dan Yen dan nilai dollar dipastikan
turun signifikan. Anjloknya dollar berarti nilai dari saham dan
obiligasi yang dipegang oleh investor asing tersebut juga akan terjun
bebas. Mereka berlomba menjual aset-aset yang mereka memiliki. Pada saat itulah pasar-pasar saham akan anjlok secara tajam dan dollar AS akan kehilangan nilainya.[12]
Bahaya
ini kian mengancam tatkala dunia telah dibanjiri dolar. Di pasar-pasar
uang saja, terdapat gelembung-gelembung dollar AS yang berjumlah 80
triliun Dollar AS pertahun. Jumlah ini 20 kali lipat melebihi nilai
perdagangan dunia, yang jumlahnya sekitar 4 triliun Dollar AS pertahun.
Artinya, gelembung itu bisa membeli segala yang diperdagangkan sebanyak
20 kali lipat dari biasanya. Gelembung semakin lama semakin membesar
dan secara pasti gelembung itu suatu saat akan meledak yang menyebabkan
keruntuhan ekonomi global yang jauh lebih buruk dari depresi ekonomi
tahun 1929.[13]
Keenam, Akibat
nilainya yang tidak stabil mata uang kertas khususnya dengan rezim
bebas mengambang telah menjadi sarana spekulasi yang ganas. Uang tidak
lagi difungsikan semata untuk menjadi alat tukar, alat untuk menyimpan
dan menghitung kekayaan riil, namun justru lebih banyak digunakan untuk
kegiatan spekulasi.
Krisis moneter yang menimpa negara-negara Asia, Argentina dan Rusia pada tahun 1998 diakibatkan oleh sistem
nilai tukar yang tidak stabil. Episentrum krisis yang bermula di
Thailand tersebut dimulai dari derasnya uang spekulatif yang panas (hot money) yang mengalir deras ke negara tersebut untuk membeli saham-saham properti. Akibatnya nilainya terus menggelembung (bubble) jauh melebihi nilai riilnya. Ketika terjadi goncongan modal spekulatif yang liar tersebut berbalik arah dan mengakibatkan nilai tukar bath jatuh.[14] Efeknya kemudian menjalar kemana-mana termasuk ke Indonesia. Rupiah bahkan sempat menyentuh 16 ribu per dolar.
Para
spekulan sangat diuntungkan dengan adanya pergerakan (fluktuasi) nilai
tukar satu mata uang terhadap mata uang lainnya. Sementara pemerintah
(dalam hal ini bank sentral) dipaksa untuk terus menjaga nilai tukar
mata uangnya. Diantaranya melalui intervensi dengan ikut menjual dan
membeli devisa, meski devisa itu kadang diperoleh diperoleh dari utang
LN. Sebagai contoh pada akhir 1998 IMF memberikan utang kepada
pemerintah Brazil senilai 50 miliar dollar untuk menjaga nilai tukarnya
yang mengalami overvalued. Namun sayang intervensi pemerintah
tersebut sia-sia, sementara uang utangan tadi seakan hilang ditelan
angin. Uang tersebut sebagian besar mengalir ke kantong-kantong para
spekulan. Beberapa spekulan merugi namun secara umum para spekulanlah
yang memperoleh seluruh uang yang dikucurkan pemerintah tersebut.[15] Akan lain ceritanya jika dana tersebut digunakan untuk membiaya sektor riil yang dapat menggerakkan perekonomian Brazil.
Adanya peluang spekulasi di pasar uang plus pasar modal, justu membuat uang yang diperoleh dari sektor riil (main street) mengalir deras sektor non riil tersebut (wall street). Dana-dana hasil penjualan minyak Timur Tengah misalnya yang lazim dikenal dengan Sovereign Wealth Fund (SWF) kini
lebih banyak diinvestasikan di portofolio (saham, obligasi, atau
surat-surat berharga lainnya) baik yang dterbitkan pemerintah ataupun
swasta. Abu Dhaby Investment Authority (ADIA) misalnya, milik
pemerintah Uni Emirat Arab, kini memiliki SWF sebesar US$ 1,32 triliun.
Dana-dana tersebut kini digunakan membeli sejumlah saham perusahaan
kelas dunia baik yang tengah yang tengah kolaps maupun yang sedang booming termasuk membeli saham klub sepak bola Inggris Manchaster City.[16] Dana-dana
tersebut tentu akan sangat berguna bagi jutaan manusia jika
diinvestasikan pada sektor riil yang produktif seperti pembangunan
infrastruktur, bantuan kemanusiaan kepada orang-orang miskin yang
jumlah jutaan di negeri-negeri Islam.
Tinggalkan Uang Kertas
Inilah beberapa bahaya mata uang kertas yang tidak di back-up oleh
emas. Gelembung uang yang terus tumbuh tanpa batas dan membuat ekonomi
global menjadi tidak stabil. Krisis finansial saat ini dan sejumlah
krisis sebelumnya semakin memperjelas bahwa sistem moneter saat ini
yang menggunakan mata uang kertas (fiat money) sangat rapuh dan tidak layak diadopsi bagi mereka yang masih berfikir dengan jernih.
Dunia
membutuhkan sistem moneter yang lebih adil dan stabil. Dan mata uang
emas yang jejak rekamnya telah teruji di pentas moneter internasional
selama ratusan tahun merupakan standar moneter paling layak
diperhitungkan.
Diposting oleh muliawan blog di 00.11 0 komentar
Label: Renungan...





