Selasa, 12 Juni 2012

Benarkah Manusia Pernah Mendarat di Bulan??


Empat puluh tahun lebih telah berlalu sejak dunia dikejutkan oleh kabar  keberhasilan pendaratan Apollo 11 di Bulan. Benarkah astronot Neil  Armstrong telah menjejakkan kakinya di satelit Bumi tersebut?



Pertanyaan menggelitik itu memang terus menyertai kisah misi Apollo 11 dan pendaratannya di permukaan Bulan pada 21 Juli 1969.



Kemudian,  astronot Neil Armstrong dan Edwin ”Buzz” Aldrin berjalan di permukaan  Bulan. Cuplikan video menggambarkan Armstrong mengibarkan bendera  Amerika Serikat dan melompat-lompat. Aksi ini menegaskan keberhasilan  pendaratan manusia di Bulan.



Sejumlah pihak menyangsikan  pendaratan itu. Cuplikan video tersebut penuh dengan keganjilan. Ada  yang menganggap video itu tidak dibuat di Bulan, tetapi di sebuah tempat  khusus di sekitar Negara Bagian Arizona, AS.



Astronom Phil Plait  termasuk yang sangsi. Dia memberikan penjelasan pada sebuah program  radio ”Are We Alone” yang dikelola SETI Institute. Ini adalah lembaga  nirlaba di California, AS, yang fokus pada penjelasan keberadaan makhluk  pintar lain di jagat raya.



Plait mengatakan, ada pihak yang  skeptis dengan mempertanyakan foto-foto Armstrong dan Aldrin yang  memperlihatkan langit tanpa bintang. ”Tidak ada atmosfer di Bulan  sehingga bintang-bintang seharusnya terlihat lebih terang.”



Pihak yang skeptis juga mempersoalkan bendera AS dalam cuplikan video yang tampak berkibar, padahal di Bulan tidak ada udara.



Mereka  juga mengajukan teori bahwa para astronot mungkin sudah terpanggang  radiasi ketika menembus sabuk Van Allen dalam perjalanan ke Bulan.



Kepercayaan melemah



Sebenarnya  kepercayaan soal pendaratan di Bulan itu sudah semakin lemah dalam  beberapa tahun terakhir. Isu ini mencuat kembali ketika TV Fox pada 2001  menyiarkan sebuah program yang diberi judul ”Conspiracy Theory: Did We  Land on the Moon?”



Acara TV Fox itu, kata Dr Tony Philips, pada  situs Science@NASA, menggambarkan betapa Badan Penerbangan dan Antariksa  AS (NASA) tidak lebih dari sekadar ”produser film yang tolol”.



Semua  kesangsian itu telah sering dijawab langsung Armstrong, komandan misi  Apollo 11. Tokoh kelahiran Wapakoneta, Ohio, 5 Agustus 1930, itu bersama  astronot Buzz Aldrin mengaku telah menikmati permukaan Bulan selama 2,5  jam.



Di Bulan, mereka berdua menancapkan bendera AS dan sebuah  spanduk bertuliskan ”Di sini manusia dari planet Bumi menginjakkan  kakinya pertama kali. Kami datang dengan damai untuk seluruh umat  manusia”.



Mengapa awalnya banyak yang percaya? Bagi AS,  pendaratan di Bulan adalah sebuah pencapaian besar yang membuat AS  seolah-olah unggul dari pesaing utama ketika itu, Uni Soviet, dalam  program luar angkasa.



Bagi salah satu pesaing AS saat ini, Rusia,  teori konspirasi mengenai kebohongan pendaratan di Bulan tahun 1969 itu  menjadi semakin populer. Rusia membuat sejumlah situs bahkan film-film  dokumenter di televisi untuk menyampaikan kebohongan besar pendaratan di  Bulan itu.




Kejanggalan demi  kejanggalan semakin jelas bahwa sejarah telah salah, mulai dari bendera  Amerika yang berkibar dimana di bulan tidak hampa udara, bayangan yang  tidak sinkron antara bayangan manusia dan bayangan bendera yang  berbalikan



Sindiran pun semakin banyak, karena banyak bukti yang meragukan


Konstelasi



Boleh jadi, hal itu pula yang membuat mantan Presiden AS George W Bush memutuskan untuk menghapuskan





Sindiran pun semakin banyak, karena banyak bukti yang meragukan

penerbangan pesawat ulang alik pada 2010 setelah musibah pesawat ulang alik Columbia pada 2003.



Sebagai  gantinya, Bush pada 2004 meluncurkan program lebih ambisius,  Constellation (Konstelasi), yang bertujuan membawa warga AS kembali ke  Bulan pada 2020, dan menggunakan Bulan sebagai tempat peluncuran pesawat  luar angkasa berawak manusia menuju Mars.



Michael Griffin,  mantan pemimpin NASA yang mendorong program Constellation, menjelaskan,  pesawat ulang alik membuat AS bertahan terlalu lama pada penerbangan  luar angkasa di orbit rendah, padahal kini muncul pesaing baru dalam  program luar angkasa, antara lain China. ”Kita (AS) harus kembali ke  Bulan karena itu adalah langkah berikutnya. Bulan hanya beberapa hari  dari rumah. Mars hanya beberapa bulan dari Bumi,” papar Griffin.



Sayangnya,  anggaran NASA tidak cukup untuk membiayai pembuatan kapsul Orion  Constellations, kapsul yang lebih maju dan lebih besar ketimbang versi  kapsul Apollo. NASA juga kekurangan biaya untuk menyiapkan roket  peluncur Ares I dan Ares V yang diperlukan untuk mengirim kapsul itu ke  orbit.



Biaya keseluruhan Constellation itu diperkirakan 150  miliar dollar AS. Anggaran eksplorasi luar angkasa AS pada 2009 hanya 6  miliar dollar AS.



Wajar apabila Senator Bill Nelson (Florida)  menegaskan, NASA tidak akan bisa melakukan tugas yang diberikan  kepadanya, yaitu berada di Bulan pada 2020. Senator yang mantan astronot  itu bahkan mengkhawatirkan, saat program pesawat ulang alik berakhir,  AS tak akan bisa mengirimkan astronotnya ke stasiun luar angkasa ISS,  kecuali menumpang Soyuz milik Rusia.



Hal itu tentu menjadi kabar  buruk bagi NASA dan khususnya Armstrong yang tentu tidak ingin  pendaratannya di Bulan menjadi bahan olok-olokan. Meski demikian, ada  cara pembuktian lebih sederhana, yaitu menemukan kembali bendera dan  spanduk yang ditancapkan Armstrong itu dengan teleskop dari Bumi. Tentu  dengan harapan bendera itu masih tertancap di tempatnya.



Kesimpulannya,  manusia memang sepertinya belum pernah menginjakan kaki di bulan, itu  hanya akal akalan Amerika untuk menunjukan keberhasilannya pada rivalnya  Uni Sovyet semasa dulu perang dingin, karena pada saat itu juga negara  negara lain belum punya teleskop canggih seperti sekarang ini, kalau  sekarang Amerika pasti tidak berani mau rancang pendaratan lagi padahal  teknologi penerbangan dan aerospace saat ini kan jauh lebih maju, karena  akan diintip telespon oleh negara negara lainnya.


0 Comments: