Ustadz Sayyid Quthb berkata, “Hakikat iman tidak akan terbukti
kesempurnaannya dalam hati seseorang sampai ia menghadapi benturan
dengan orang lain, yang berlawanan dengan imannya. Karena disinilah
seseorang akan melakukan mujahadah sebagaimana orang lain melakukan
mujahadah kepadanya untuk menghalanginya dari keimanan. Di sinilah
cakrawala iman akan tersingkap dan terbuka. Keterbukaan yang tidak
pernah terjadi pada jiwa orang yang tidak merasakan iman.”
Setiap penulis muslim sejati haruslah berpihak kepada Islam dan
kebenarannya, sebagaimana musuh berpihak kepada kekufuran dan
kedustaannya. Ia tidak berdiri ditengah-tengah ketika melakukan
aktivitasnya, tetapi harus berada di front para pembela Islam. Ia tidak
abu-abu dalam bersikap menghadapi musuh. Ia senantiasa tegas dan keras
terhadap musuh, karena musuh dengan sangat jelas sesat dan menyesatkan.
Tidak ada kata lain, ia harus berhadapan dengan mereka untuk
menyelamatkan umat dari kesesatan yang mereka sebarkan. Ini adalah suatu
tindakan yang gagah berani, yang hanya dilakukan oleh mereka yang
merasakan manisnya iman.
Ketika ia menghadapi benturan ini, ia dengan sabar menghadapinya. Ia
tahu jalan yang ditempuhnya pasti penuh rintangan dan tantangan. Ia
harus lebih banyak membaca guna mempersiapkan bekal untuk menghadapi
kepongahan sang musuh. Menulis adalah jihad fisabilillah! Jihad dalam
artian yang sesungguhnya jika ia melakukannya dengan baik.
Ulama seperti Ibnu Hazm telah menulis 400 jilid dalam berbagai bidang
ilmu pengetahuan. Ia telah menjadikan buku-bukunya itu sebagai tameng
dan senjata ketika menghadapi pihak musuh. Dia adalah seorang ulama
terbesar yang pernah dilahirkan di tanah Andalus Spanyol. Seorang Yahudi
bernama Ibnu an-Naghrilah di zaman Ibnu Hazm pernah menghina dan
“menginjak-injak” al-Quran, namun tidak ada yang menegurnya apalagi
menghukumnya. Bahkan pemimpin di negerinya, Badis bin Habus, justru
membela si Yahudi itu. Dengan kemarahan yang menyala-nyala, Ibnu Hazm
kemudian menulis buku berjudul ar-Rad’ ala Ibni an-Naghrilah
al-Yahudi (Bantahan terhadap Ibnu an-Naghrilah si Yahudi).
Ia tidak hanya mengecam si Yahudi itu, tetapi juga para ulama yang
bungkam seribu bahasa ketika menghadapi peristiwa ini. Ia berkata,
“Wahai rakyat Andalus, janganlah kamu membuat diri salah pilih.
Janganlah kamu terpedaya oleh mereka (fuqaha) dan kaum fasik. Mereka
merasa memiliki ilmu fikih, namun merekalah orang yang berpakaian kulit
domba sedangkan hati mereka buas. Mereka menghiasi para kriminalis dan
membantu kefasikan kaum hipokrit.”
Dengan berkata begitu, berarti kini Ibnu Hazm menabuh genderang tanda
bahaya. Ibnu Hayyan, penulis kitab Masalik wa al-Mamalik, berkata
tentang Ibnu Hazm, “Ia membantah ilmu-ilmu orang yang tidak sesuai
dengannya secara mendalam dan tajam, menunjukkan cacat-cacatnya, dan dia
berpegang pada firman Allah,‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu
semuanya pada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya.’ (QS. Ali
Imran [3]: 187).
Ia tidak bersikap lembut dalam mengatakan kritikannya, dan tidak pula
dengan berangsur-angsur, akan tetapi ia menokok seperti batu…lalu
mulailah raja-raja membicarakannya bersama orang-orang yang dekat
dengannya, lalu mengusirnya dari negeri sendiri…”
Dan terbukti, ia kemudian diusir dari negerinya, diasingkan, dan
kekayaannya di sita negara. Keadaannya yang cukup menyedihkannya ini
membuatnya menulis, “…dan tuan tahu bahwa pikiranku goncang, perasaanku
hancur karena jauh dari negeri sendiri, sunyi dari tanah kelahiran,
berubahnya waktu, hukuman sultan, berubahnya para sahabat, buruknya
kondisi, hilangnya masa senang, keluar dari semua harta kekayaan dari
yang kecil sampai yang besar, terputus dari hasil usaha bapak dan nenek
para leluhur, merasa asing dalam negeri, hilang harta dan kehormatan,
pikiran mengambang untuk melindungi keluarga dan anak-anak, rasa putus
asa untuk dapat kembali pada keluarga, dan menunggu nasib baik. Semoga
Allah tidak menjadikanku merintih kecuali hanya kepada-Nya.”
Sekalipun mendapat tikaman yang sangat mematikan, namun hal itu tidak
menyulutkan semangatnya untuk tetap setia dalam agama-Nya. Ia berusaha
tegar dan menjaga kehormatan diri dari mengeluh kecuali kepada-Nya.
Buktinya, setelah kematiannya, karya tulisnya yang cukup banyak itu
dijadikan rujukan penting para ulama sesudahnya. Di antara
karya-karyanya yang banyak dibaca dan ditelaah oleh banyak orang dari
zaman ke zaman adalah, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam (merapikan dasar-dasar
hukum), al-Muhalla (yang terhias), Thauqul Hammamah fil Ulfah wal
Alâf (merpati tentang cinta dan para pecinta), Nuqat al’Arus fi Tawarikh
al-Khulafa’ (silsilah para khalifah), al-Fashal fi al-Milal wa al-Ahwa
wa an-Nihal (tentang perbandingan agama), dan Risalah fi Fadha’il Ahl
al-Andalus (berita keutamaan penduduk negeri Andalus).
Seorang sejarawan dua abad setelah wafatnya berkata, “Dia adalah ulama
Andalus yang paling terkemuka, paling banyak menyampaikan peringatan di
majelis pertemuan para pemimpin dan terhadap pendapat para ulama.”
Demikianlah tentang sebuah pelajaran berharga yang dapat diambil dari
seorang ulama bernama Ibnu Hazm. Seorang penulis sejati hendaknya
bercermin padanya. Sudah semestinya ia harus berada di pihak yang benar
dalam kondisi bagaimana pun. Namun ia harus menyadari bahwa jalan yang
ditempuhnya itu bukanlah jalan yang mudah dan penuh kesenangan. Ia harus
rela meski nyawa dan harta taruhannya, demi sebuah kebenaran yang
tunduk kepada Allah.
Namun dibalik itu semua, bukan tanpa pujian setelahnya. Pujian akan
senantiasa berkumandang untuknya, untuk karya-karyanya. Pemikirannya
menjadi rujukan, keteguhannya dalam bersikap menjadi teladan bagi
generasi selanjutnya. Allah Swt. berfirman:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ
طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ{24} تُؤْتِي
أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ
لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan
kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya
(menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim
dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk
manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim [14]: 24-25).
http://abu-farras.blogspot.com/2012/04/senantiasa-berada-di-pihak-yang-benar.html
Senin, 14 Mei 2012
Marilah KIta Senantiasa Di Jalan Yang Benar!!!!
Diposting oleh muliawan blog di 23.50
Label: Education, Renungan..., Sekilat Info
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)

0 Comments:
Post a Comment