Di antara kita mungkin banyak yang belum paham bahwa Allah Subhanahu wa
Ta’ala memiliki banyak nama dan sifat. Namun tentu saja nama dan sifat
Allah Subhanahu wa Ta’ala berbeda dengan nama dan sifat makhluk-Nya,
karena tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Di antara
perbedaannya, nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala penuh dengan
kesempurnaan, sedangkan nama dan sifat makhluk mengandung banyak
kekurangan. Pemahaman yang benar tentang nama dan sifat Allah Subhanahu
wa Ta’ala akan memberi dampak yang besar terhadap keimanan seseorang.
Sebaliknya, pemahaman yang keliru bisa menyebabkan seseorang kufur
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Yang dimaksud dengan tauhid ini ialah mengesakan Allah Subhanahu wa
Ta’ala dengan seluruh nama dan sifat yang dimiliki-Nya. Keyakinan ini
mengandung dua perkara:
1. Penetapan, yang dimaksud adalah menetapkan bagi Allah Subhanahu wa
Ta’ala seluruh nama dan sifat-Nya. Maka tidaklah kita menetapkan nama
bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan nama yang Allah Subhanahu
wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula tidaklah kita menetapkan
sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan sifat yang Allah
Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh
Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Peniadaan, yang dimaksud adalah meniadakan dari Allah Subhanahu wa
Ta’ala seluruh nama dan sifat yang telah ditiadakan oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Meniadakan pula semua penyerupaan dengan nama
dan sifat makhluk. Jika ada keserupaan dari sisi asal makna kata namun
hakikatnya tetaplah berbeda. Jadi, yang ditiadakan adalah keserupaan
dari segala sisi, bukan pada sebagiannya.
Barangsiapa tidak mau menetapkan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuatu
yang sudah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya berarti dia
mu’aththil (seorang penolak) dan penolakannya serupa dengan penolakan
Fir’aun. Sebab seorang yang tidak mau menetapkan nama dan sifat bagi
Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti dia telah meniadakan Allah Subhanahu
wa Ta’ala sebagaimana Fir’aun yang tidak mengimani keberadaan Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Tetapi barangsiapa mau menetapkan lalu menyerupakan
nama dan sifat tersebut dengan makhluk berarti dia menyamai kaum
musyrikin yang mengibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab
seorang yang menyerupakan nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala
dengan sesuatu yang ada pada makhluk, pada hakikatnya dia mengibadahi
sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allah Subhanahu wa
Ta’ala tidak sama dengan makhluk-Nya. Kemudian, barangsiapa mau
menetapkan sesuatu yang sudah Allah Subhanahu wa
Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya tanpa menyerupakan dengan yang selain-Nya
berarti dia seorang muwahhid (seorang yang bertauhid). Wallahu a’lam
bish-shawab.
Penetapan dan peniadaan ini memiliki dali-dalil yang sangat otentik dan
akurat dari dua arah yang tak diragukan lagi keabsahannya, yaitu syariat
dan naluri logika. Adapun dari syariat, di antaranya firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala:
“Hanya milik Allah nama-nama yang paling baik, maka berdoalah kepada-Nya
dengan menyebut nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang
menyimpang dari kebenaran mengenai nama-nama-Nya. Nanti mereka akan
mendapat balasan atas segala yang telah mereka kerjakan.” (Al-A’raf:
180)
“Tak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
“Maka janganlah kalian mengadakan penyerupaan-penyerupaan bagi Allah.
Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.”
(An-Nahl: 74)
“Dan janganlah kalian mengikuti sesuatu yang kalian tidak memiliki
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati,
seluruhnya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra`: 36)
Sedangkan dalil dari naluri logika yaitu kita mengatakan bahwa berbicara
tentang nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk
pemberitaan yang tak mungkin akal kita mampu menangkap rinciannya tanpa
tuntunan wahyu. Oleh karena itu, seharusnya kita mencukupkan diri dengan
setiap yang diberitakan oleh wahyu saja dan tidak melampauinya.
Menggabungkan antara penetapan dan peniadaan dalam masalah nama dan
sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hakikat tauhid. Tak
mungkin mencapai kebenaran hakikat tauhid kecuali dengan penetapan dan
peniadaan. Karena mencukupkan diri dengan penetapan semata, tidaklah
mencegah timbulnya penyerupaan dan penyekutuan. Sedangkan mencukupkan
diri dengan peniadaan berarti penolakan yang murni.
Sebagai contoh, jika engkau berkata, “Si Zaid bukan seorang pemberani.”
Berarti engkau telah meniadakan sifat pemberani dari si Zaid sekaligus
menolak (menjauhkan) Zaid dari sifat pemberani. Jika engkau berkata,
“Zaid adalah seorang pemberani.” Berarti engkau telah menetapkan sifat
pemberani bagi Zaid, tetapi tidak menolak kemungkinan bahwa selain Zaid
juga pemberani. Jika engkau berkata, “Tak ada seorang pun yang pemberani
kecuali Zaid.” Berarti engkau telah menetapkan sifat pemberani bagi
Zaid dan meniadakannya dari selain Zaid. Dengan demikian, engkau telah
mengesakan Zaid dalam perkara keberanian.
Jadi, tidak mungkin mengesakan seseorang dalam suatu perkara kecuali dengan menggabungkan antara peniadaan dan penetapan.
Di sini kita perlu menegaskan bahwa seluruh sifat yang telah Allah
Subhanahu wa Ta’ala tetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi
diri-Nya merupakan sifat-sifat kesempurnaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala
lebih banyak menyebutkannya secara rinci daripada mengglobalkan. Karena
bila pemberitaan dan kandungan-kandungan yang ditunjukkannya semakin
banyak maka akan tampak kesempurnaan dzat yang disifatkan dengannya,
yang sebelumnya tidak diketahui.
Oleh karena itu, sifat-sifat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala
tetapkan bagi diri-Nya lebih banyak diberitakan daripada sifat-sifat
yang ditiadakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari diri-Nya. Adapun
seluruh sifat yang telah ditiadakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari
diri-Nya merupakan sifat-sifat kekurangan yang tidak pantas bagi
Dzat-Nya, seperti sifat kelemahan, letih, aniaya, dan sifat menyerupai
para makhluk.
Kebanyakan sifat ini disebutkan secara global. Sebab hal itu lebih
mendukung untuk mengagungkan dzat yang disifatkan dan lebih sempurna
dalam menyucikannya. Sedangkan penyebutan sifat-sifat itu secara rinci
tanpa alasan, bisa menjadi ejekan dan pelecehan terhadap dzat yang
disifati.
Jika anda memuji seorang raja dengan mengatakan kepadanya, “Anda adalah
seorang yang dermawan, pemberani, teguh, memiliki hukum yang kuat,
perkasa atas musuh-musuhmu” dan sifat-sifat terpuji lainnya, sungguh hal
ini termasuk sanjungan yang sangat besar terhadapnya. Bahkan di
dalamnya terdapat nilai pujian yang lebih dan menampakkan
kebaikan-kebaikannya, sehingga menjadikannya sebagai seorang yang
dicintai dan dihormati, karena anda telah memperinci sifat-sifat yang
ditetapkan baginya.
Demikian pula jika anda mengatakan kepadanya, “Anda adalah seorang raja
yang tak bisa disamai oleh seorang pun dari raja-raja dunia yang berada
di masamu,” sungguh hal ini juga merupakan sanjungan yang bernilai
lebih, karena anda telah mengglobalkan sifat-sifat yang ditiadakan
darinya.
Jika anda mengatakan kepadanya, “Engkau adalah seorang raja yang tidak
pelit, tidak penakut, tidak faqir, dan engkau bukan seorang penjual
sayur, bukan seorang tukang sapu, bukan dokter hewan, dan bukan tukang
bekam,” dan rincian-rincian yang semacam itu dalam meniadakan segala
keaiban yang tidak pantas bagi kemuliaannya, sungguh hal ini akan
dianggap sebagai ejekan dan pelecehan terhadap haknya.
Walaupun yang mayoritas pada sifat-sifat yang ditiadakan oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala dari Dzat-Nya adalah disebutkan secara global, namun
terkadang Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkannya dengan rinci pula,
karena beberapa sebab:
1. Untuk meniadakan sesuatu yang diklaim oleh para pendusta terhadap hak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagaimana dalam firman-Nya:
“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada
sesembahan yang berhak diibadahi beserta-Nya.” (Al-Mu`minun: 91)
2. Untuk menepis anggapan akan suatu kekurangan pada kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagaimana dalam firman-Nya:
“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada
antara keduanya dalam enam hari, dan tidaklah sedikitpun kami ditimpa
keletihan.” (Qaf: 38)
Di dalam Al-Qur`an terlalu banyak ayat yang berbicara tentang nama dan
sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara rinci. Di antaranya firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dialah Allah yang tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia,
yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada sesembahan yang berhak
diibadahi selain Dia, yang Maha Memiliki, yang Maha Suci, yang Maha
Sejahtera, yang Mengaruniakan keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha
Perkasa, yang Maha Kuasa, yang Maha Sombong. Maha Suci Allah dari segala
yang mereka persekutukan. Dialah Allah yang Maha Menciptakan, yang
Mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama yang baik.
Seluruh yang di langit dan bumi bertasbih kepada-Nya. Dialah yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Hasyr: 22-24)
Ayat-ayat ini mengandung lebih dari 15 nama, dan setiap nama bisa
mengandung satu atau dua sifat bahkan bisa pula lebih. Juga di antaranya
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga)
yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Penyantun. Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan
penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti
Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi
Maha Pengampun. Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah
(kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam
malam dan bahwasanya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Kuasa
Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, dialah
(Ilah) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah
adalah batil, dan sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha
Besar. Apakah kalian tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari
langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Lembut
lagi Maha Mengetahui. Kepunyaan Allah-lah segala yang
ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Apakah kamu tiada melihat
bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera
yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya? Dan dia menahan
(benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya?
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada
manusia.” (Al-Hajj: 59-65)
Ayat ini berjumlah tujuh ayat yang saling beriringan. Masing-masing ayat
ditutup dengan dua nama dari nama-nama Allah, sedangkan setiap nama
mengandung satu atau dua sifat bahkan bisa pula lebih.
Mengenai peniadaan yang disebutkan secara global, di antaranya sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Tak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya.” (Asy-Syura: 11)
“Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Maryam: 65)
“Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlash: 4)
Di sini kita ingin kembali menegaskan bahwa kesamaan dalam perkara nama
dan sifat tidaklah menunjukkan kesamaan antara dzat-dzat yang diberi
nama dan disifati. Hal ini bisa dibuktikan melalui dalil-dalil syariat,
logika, dan panca indera.
1. Bukti dari dalil yang syar’i di antaranya, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang Dzat-Nya:
“Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (An-Nisa`:
58)
Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan bahwa Dia Maha
Mendengar dan Maha Melihat. Demikian pula di dalam ayat yang lain, Allah
Subhanahu wa Ta’ala menetapkan bahwa manusia mendengar dan melihat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang
bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan).
Karena itu Kami jadikan dia seorang yang mendengar dan melihat.”
(Al-Insan: 2)
Namun tentunya pendengaran Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak sama dengan
pendengaran manusia walaupun sama-sama diberi nama dan disifati dengan
mendengar. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita
akan hal ini dengan firman-Nya:
“Tak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
2. Bukti dari dalil yang logis, yaitu bahwa perkara yang maknawi dan
sebuah sifat akan terkait dan terbedakan dari yang lainnya sesuai dengan
apa yang dinisbatkan kepadanya. Bila segala sesuatu berbeda-beda dari
sisi hakikat dzatnya, maka pastilah segala sesuatu berbeda-beda pula
dari sisi sifat dan perkara maknawi yang dinisbatkan kepadanya. Oleh
karena itu, sifat setiap dzat yang diberikan padanya sesuai dengan yang
dinisbatkan kepadanya dan tidak mungkin kurang atau melebihi dzat yang
disifatkan. Sebagai contoh, kita mensifatkan manusia dengan kelembutan
dan juga mensifatkan besi yang meleleh dengan kelembutan. Padahal kita
mengetahui bahwa jenis kelembutan itu berbeda-beda maknanya sesuai
dengan apa yang dinisbatkan kepadanya.
3. Adapun bukti dari dalil secara panca indera, yaitu bahwasanya kita
menyaksikan gajah memiliki fisik, kaki, serta kekuatan dan nyamuk juga
memiliki fisik, kaki, serta kekuatan. Di sini tentunya kita mengetahui
perbedaan antara fisik, kaki, serta kekuatan keduanya.
Jika kita sudah mengetahui bahwa kesamaan dalam perkara nama dan sifat
di antara para makhluk tidaklah berkonsekuensi keserupaan dalam bentuk
hakikatnya, padahal mereka adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Maka tidak adanya keserupaan antara Dzat yang Maha
pencipta dengan makhluk ciptaan-Nya dalam hakikat nama dan sifat tentu
lebih utama dan jelas. Bahkan kesamaan antara Dzat Yang Maha Pencipta
dan makhluk ciptaan-Nya dalam perkara nama dan sifat adalah sesuatu yang
amat sangat tidak mungkin terjadi. Wallahu a’lam bish-shawab.
Prinsip dalam Menetapkan Nama dan Sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala
Berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, Ahlus Sunnah
menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak
diragukan lagi, bahwa menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah
Subhanahu wa Ta’ala haruslah dengan prinsip-prinsip yang benar. Ahlus
Sunnah menyucikan nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa
menolaknya dan menetapkannya tanpa menyerupakannya (dengan nama dan
sifat-sifat makhluk).
Ada empat perkara yang diingkari oleh Ahlus Sunnah dalam menetapkan nama
dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagai berikut:
1. At-Tahrif
At-Tahrif secara bahasa bermakna menyimpangkan sesuatu dari hakikat,
bentuk, dan kebenarannya. Adapun menurut istilah syariat, maknanya
adalah memalingkan sebuah ucapan dari makna zhahirnya yang semula
dipahami, kepada makna lain yang tidak ditunjukkan oleh rangkaian
kalimatnya. Perbuatan At-Tahrif terbagi kepada dua jenis:
a. At-Tahrif yang dilakukan pada teks lafadz. Jenis yang ini terbagi kepada tiga bentuk:
1. Mengubah harakatnya. Di antaranya seperti bacaan dari sebagian ahli bid’ah terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَكَلَّمَ اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا
“Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (An-Nisa`: 164)
Mereka membacanya dengan memberi harakat fathah pada kata (اللهَ) dengan
tujuan untuk mengubah maknanya, yaitu Nabi Musa ‘alaihissalam yang
mengajak Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk berbicara, bukan sebaliknya.
2. Menambahkan hurufnya, yang demikian itu seperti men-tahrif bacaan
اسْتَوَى yang artinya tinggi, menjadi اسْتَوْلَى yang artinya berkuasa.
3. Menambahkan kalimatnya, yang demikian itu seperti menambahkan kata
(الرَّحْمَةُ) yang artinya rahmat, pada firman Allah وَجَاءَ رَبُّكَ
yang artinya “telah datang Rabbmu”, sehingga menjadi وَجَاءَ رَحْمَةُ
رَبِّكَ yang artinya “telah datang rahmat Rabbmu.”
b. At-Tahrif yang dilakukan pada makna kata tanpa mengubah harakat dan
lafadznya. Contohnya seperti ucapan sebagian ahli bid’ah terhadap firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Bahkan kedua tangan-Nya terbentang.” (Al-Ma`idah: 64)
Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tangan-Nya adalah kekuasaan atau nikmat-Nya, atau yang selain itu.
Di sini perlu ditegaskan bahwa ahli bid’ah yang suka melakukan At-Tahrif
tidak menamakannya dengan At-Tahrif, tetapi menyebutnya sebagai
At-Ta`wil yang artinya menafsirkan. Hal ini karena mereka tahu bahwa
kata At-Tahrif berkonotasi jelek dan tercela di dalam Al-Qur`an.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mentahrif (mengubah) perkataan dari tempat-tempatnya.” (An-Nisa`: 46)
Pada ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala menisbatkan perbuatan
At-Tahrif kepada kaum Yahudi. Ini menunjukkan bahwa konotasi maknanya
adalah jelek. Mereka mengganti istilah At-Tahrif dengan istilah
At-Ta`wil agar lebih diterima oleh banyak kalangan, dan dalam rangka
melariskan dagangan kebid’ahan mereka di antara orang-orang yang tidak
bisa membedakan antara keduanya.
2. At-Ta’thil
At-Ta’thil secara bahasa maknanya meninggalkan dan mengosongkan. Adapun
menurut istilah syariat, maknanya adalah menolak makna yang benar di
dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah. At-Ta’thil terbagi kepada dua jenis:
1. At-Ta’thil yang bersifat global, yaitu menolak nama dan sifat-sifat
Allah Subhanahu wa Ta’ala secara menyeluruh, sebagaimana yang dilakukan
oleh kelompok Al-Jahmiyyah, Al-Qaramithah, para ahli filsafat, dan yang
selain mereka.
2. At-Ta’thil yang bersifat parsial, yaitu menolak sebagian dan
menetapkan sebagian yang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok
Al-Mu’tazilah yang menolak sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
menetapkan nama-nama-Nya. Demikian pula kelompok Al-Asya’irah,
Al-Kullabiyyah, dan Al-Maturidiyyah yang menolak sebagian sifat Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan menetapkan sebagian yang lainnya.
3. At-Tamtsil
At-Tamtsil secara bahasa maknanya menyerupakan sesuatu dengan sesuatu
yang lain. Adapun menurut istilah syariat, maknanya adalah meyakini
bahwa sifat-sifat Allah yang Maha Pencipta serupa dengan sifat-sifat
makhluk ciptaan-Nya. At-Tamtsil terbagi dua jenis:
1. Menyerupakan makhluk dengan Dzat Yang Maha Pencipta, yaitu menetapkan
untuk makhluk sesuatu yang telah menjadi kekhususan Dzat yang Maha
Pencipta. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Nasrani ketika
mereka mengatakan bahwa Nabi ‘Isa adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Menyerupakan Dzat yang Maha Pencipta dengan makhluk ciptaan-Nya,
yaitu menetapkan untuk Dzat yang Maha Pencipta sesuatu yang telah
menjadi kekhususan makhluk-Nya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh
kaum Yahudi ketika mereka mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala
adalah Dzat yang faqir, pelit, dan lemah.
4. At-Takyif
At-Takyif maknanya meyakini sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam
bentuk tertentu yang dibayangkan di alam pikiran, atau menanyakan
bagaimana bentuknya walaupun tanpa menyerupakannya dengan sesuatu yang
wujud.
Berarti At-Takyif berbeda dari At-Tamtsil dari satu sisi dan sama dari
sisi yang lainnya. Perbedaan keduanya, At-Takyif menyerupakan
sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang tak ada
wujudnya di luar alam pikiran, sedangkan At-Tamtsil menyerupakan
sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang ada wujudnya
di luar alam pikiran. Adapun kesamaannya, keduanya sama-sama perbuatan
menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan yang selainnya. Sehingga
setiap orang yang melakukan At-Tamtsil pasti melakukan pula At-Takyif,
tetapi tidak sebaliknya.
Kelompok-kelompok yang Sesat
Secara garis besar, kelompok-kelompok yang sesat dalam perkara nama dan
sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbagi menjadi dua golongan:
1. Al-Mu’aththilah, yaitu orang-orang yang mengingkari nama dan
sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik secara keseluruhan atau
sebagiannya. Mereka mengingkari karena keyakinan bahwa menetapkannya
berarti menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk-Nya.
Keyakinan mereka ini adalah batil dan bertentangan dengan dalil-dalil
Al-Qur`an dan As-Sunnah. Untuk membuktikan kebatilan keyakinan mereka,
bisa dilihat dari beberapa sisi, di antaranya:
a. Keyakinan mereka ini mengandung beberapa konsekuensi yang batil, di
antaranya berkonsekuensi terjadinya kontradiksi di antara firman-firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada sebagian ayat, Allah Subhanahu wa Ta’ala
menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Dzat-Nya. Pada ayat yang lain,
Allah Subhanahu wa Ta’ala meniadakan penyerupaan-Nya dengan yang
selain-Nya. Jika menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa
Ta’ala berarti menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan
makhluk-Nya, maka telah terjadi kontradiksi di antara firman-firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan sebagiannya telah mendustakan sebagian
yang lain.
b. Kesamaan antara dua hal dalam perkara nama atau sifat, tidaklah
menuntut keserupaan antara hakikat keduanya dari segala sisi. Kita bisa
melihat dua orang yang sama-sama disebut dengan manusia, mendengar dan
melihat. Namun bukan berarti keduanya sama dalam sifat kemanusiaan,
pendengaran, dan penglihatan dari segala sisi. Pasti sifat-sifat yang
dimiliki oleh keduanya sangat berbeda hakikatnya. Bila perbedaan hakikat
nama dan sifat terjadi di kalangan makhluk walaupun ada kesamaan pada
sebagian sisi, maka perbedaan hakikat nama dan sifat antara Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan makhluk-Nya tentu lebih nyata dan lebih besar.
2. Al-Musyabbihah, yaitu orang-orang yang menetapkan nama dan
sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi menyerupakan dengan
nama dan sifat-sifat para makhluk. Mereka menyerupakannya karena
berkeyakinan bahwa hal itu merupakan kandungan makna yang terdapat di
dalam nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah. Tentunya Allah Subhanahu wa
Ta’ala mengajak manusia berbicara dengan sesuatu yang mereka pahami.
Kita meyakini bahwa keyakinan mereka ini adalah batil. Bisa dibuktikan
kebatilan keyakinan mereka dari beberapa sisi, di antaranya:
a. Menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk-Nya adalah
kebatilan yang ditolak oleh naluri logika dan syariat. Sebab,
kandungan-kandungan makna yang terdapat di dalam nash-nash Al-Qur`an dan
As-Sunnah tidak mungkin merupakan perkara yang batil.
b. Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajak manusia berbicara
dengan sesuatu yang mereka pahami dari sisi asal makna kata atau
kalimat. Adapun bentuk dan hakikat yang berkaitan dengan nama dan
sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah mereka ketahui, dan
ilmunya hanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagai contoh, ketika
Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan sifat ‘mendengar’ dan ‘melihat’
bagi Dzat-Nya, niscaya kita bisa memahami maksud kata ‘mendengar’ dan
‘melihat’ dari sisi asal makna kata. ‘Mendengar’ artinya mampu menangkap
segala suara dan ‘melihat’ artinya mampu menangkap apa saja yang bisa
dilihat. Namun tak seorang pun di antara manusia yang dapat mengetahui
hakikat pendengaran dan penglihatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh
karena itu, hakikat sifat mendengar dan melihat yang ada di kalangan
manusia berbeda dengan hakikat sifat mendengar dan melihat yang dimiliki
oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Al-Ilhad dalam Masalah Nama dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala
Al-Ilhad secara bahasa maknanya miring atau menyimpang dari sesuatu.
Disebut liang lahad dalam kuburan dengan nama itu karena lubangnya
berada di bagian samping dari kuburan dan bukan di tengahnya. Adapun
menurut istilah syariat, maknanya adalah menyimpang dari syariat yang
lurus kepada salah satu bentuk kekafiran.
Al-Ilhad dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala artinya
menyimpang dari kebenaran yang wajib untuk ditetapkan pada nama dan
sifat-sifat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Hanya milik Allah nama-nama yang baik, maka berdoalah kepada-Nya dengan
menyebut nama-nama yang baik itu dan tinggalkanlah orang-orang yang
menyimpang dari kebenaran dalam perkara nama-nama-Nya. Niscaya mereka
akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
(Al-A’raf: 180)
Al-Ilhad dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbagi kepada lima jenis, sebagai berikut:
1. Menetapkan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebuah nama atau lebih,
yang tidak ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi Dzat-Nya.
Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli filsafat ketika mereka
menamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebutan, (عِلَّةٌ فَاعِلَةٌ)
yang artinya unsur pembuat. Demikian pula yang dilakukan oleh kaum
Nasrani ketika mereka menamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebutan
tuhan bapak dan menamakan Nabi ‘Isa dengan sebutan tuhan anak. Semua
ini adalah penyimpangan dalam perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Sepantasnya juga kaum muslimin menghindari memanggil nama Allah
Subhanahu wa Ta’ala dengan sebutan ‘Gusti’ atau ‘Pangeran’, seperti
ucapan: “Wahai Gusti ampunilah aku,” atau “Wahai Pangeran tolonglah
aku.” Hal ini sebaiknya dihindari, karena dikhawatirkan termasuk dalam
bentuk penamaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menamai diri-Nya dengannya, dan tidak
pula dinamai oleh Rasul-Nya. Karena nama dan sifat Allah Subhanahu wa
Ta’ala adalah perkara tauqifiyyah, yakni tidak bisa ditetapkan kecuali
dengan pemberitaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Bila
kita menamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang tidak Allah
Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi Dzat-Nya, berarti kita telah
menyimpang dalam perkara nama-Nya. Ini merupakan perbuatan Al-Ilhad.[1]
2. Mengingkari satu nama atau lebih, yang telah ditetapkan oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala bagi Dzat-Nya. Perbuatan ini adalah kebalikan dari
yang pertama.
Maka pengingkaran terhadap nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala baik
secara keseluruhan atau sebagian merupakan perbuatan Al-Ilhad. Hal ini
sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian manusia yang menolak nama-nama
Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti kelompok Al-Jahmiyyah. Mereka
mengingkari dan menolak nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan
alasan agar tidak menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan
benda-benda yang ada di alam ini. Pendapat mereka ini jelas merupakan
kebatilan murni dan tidak bisa diterima. Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala
telah menetapkan sebuah nama bagi Dzat-Nya maka kita harus menetapkannya
pula dan tak ada alasan untuk menolaknya. Jika kita mengingkari atau
menolaknya berarti kita telah menyimpang dalam perkara nama-Nya. Ini
merupakan perbuatan Al-Ilhad.
3. Menetapkan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi mengingkari
sifat-sifat-Nya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum
Al-Mu’tazilah.
Sebagai contoh, mereka menetapkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah
Dzat Yang Maha Mendengar namun tanpa pendengaran, Maha Melihat namun
tanpa penglihatan, Maha Mengetahui namun tanpa ilmu, Maha Kuasa namun
tanpa kekuasaan, dan seterusnya. Sebagian mereka mengatakan bahwa
nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang banyak itu pada hakikatnya
hanyalah satu nama saja, tidak lebih. Pendapat-pendapat mereka ini
sangat tidak logis bagi siapa saja yang memiliki akal pikiran. Terlebih
lagi jika diukur dengan penilaian Al-Qur`an dan As-Sunnah. Tidaklah
ditetapkan sebuah nama pada sesuatu melainkan karena dia memiliki sifat
yang sesuai dengan namanya. Dan setiap nama pasti menunjukkan kepada
suatu sifat yang sesuai dengannya. Maka bagaimana mungkin dinyatakan
bahwa nama-nama yang banyak pada hakikatnya hanya menunjukkan pada satu
nama? Ini jelas penyimpangan dalam perkara nama dan sifat Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
4. Menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi
juga menyerupakannya dengan nama dan sifat-sifat para makhluk.
Hal ini
sebagaimana dilakukan kelompok Al-Musyabbihah. Seharusnya kita
menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa
menyerupakannya dengan nama dan sifat-sifat para makhluk. Jika tidak,
berarti kita telah melakukan penyimpangan dalam perkara nama dan sifat
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan perbuatan Al-Ilhad.
5. Mengambil pecahan kata dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu
menjadikannya sebagai nama untuk sesembahan selain Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum musyrikin di masa
jahiliah.
Mereka menamakan sebagian berhala mereka dengan pecahan kata yang
diambil dari nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti, Al-Laatta yang
diambil dari nama Allah Subhanahu wa Ta’ala Al-Ilah, Al-‘Uzza yang
diambil dari nama Allah Al-‘Aziz, Al-Manaat yang diambil dari nama Allah
Al-Mannan. Ini adalah penyimpangan dalam menggunakan nama-nama Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Seharusnya nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala
menjadi perkara yang khusus bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak
mengambil pecahan-pecahan katanya sebagai nama untuk sesembahan selain
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan perbuatan Al-Ilhad.
Demikianlah jenis-jenis penyimpangan dalam perkara nama dan sifat Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Ahlus Sunnah tidak berbuat Al-Ilhad (penyimpangan),
bahkan mereka menyikapi nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala
sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri.
Mereka menetapkan pula seluruh makna yang telah ditunjukkan oleh nama
dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala itu, karena mereka meyakini
bahwa menyelisihi prinsip ini merupakan perbuatan Al-Ilhad dalam perkara
nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam bish-shawab.
Buah Keimanan kepada Nama dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala
Beriman kepada nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan
suatu perkara yang sia-sia tanpa manfaat. Bahkan hal itu mengandung
berbagai manfaat yang sangat positif terhadap tauhid dan ibadah seorang
hamba. Lebih dari itu, beriman kepada nama dan sifat-sifat Allah
Subhanahu wa Ta’ala adalah wujud dari tauhid dan ibadah hamba itu
sendiri. Dalam tulisan ini kita akan menyebutkan sebagian manfaat
tersebut, antara lain:
1. Merealisasikan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga
seorang hamba tidak menggantungkan harapan, rasa takut, dan ibadahnya
kepada yang selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Menyempurnakan rasa cinta dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala sesuai dengan kandungan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat
Nya yang tinggi.
3. Merealisasikan peribadahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Demikianlah yang bisa kita tuliskan di sini, semoga bermanfaat bagi segenap kaum muslimin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. (Euforza One)
Sumber: http://asysyariah.com/mendalami-tauhid-al-asma-washshifat.html
Kamis, 24 Mei 2012
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)


0 Comments:
Post a Comment